Tag

, ,

Bismillah,

Alhamdulillah, puji syukur hanya milik Allah semata saya panjatkan atas semua kenikmatan yang telah saya dapatkan hingga detik ini, dan bisa kembali menorehkan cerita dari dunia Tunsa.

:)

Saya bahagia…

Sebab kemarin banyak cerita yang tak bisa saya tuangkan di sini semua tentunya, hehe. Selain mudik dan balik yang lancar ada banyak cerita diantara masa tenggang waktu selama saya off. Tak hanya suka, duka pun ada, itulah kehidupan nyata.

“Mudik” kebiasaan yang sudah menjadi tradisi sejak dulu sampai sekarang. Banyak berita duka kecelakaan saat mudik kita saksikan di tivi, membuat kita harus berhati-hati saat pulang kampung.

Meskipun syawal sudah beranjak setengah bulan, saya mengucapkan:

“SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H”  

Taqobbalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima amalan-amalan saya dan kalian.

Saya punya sedikit cerita pendek yang lumayan panjang mengenai mudik dan arus balik kemarin. Pengalaman mudik bukan hanya tahun ini saja lakukan. “Mudik” yang saya maksud adalah sebagaimana yang masyarakat Indonesia anggap, yaitu pulang kampung saat menjelang hari raya, biasanya hari raya idul fitri. “Mudik” bukan salah satu ritual ibadah yang mempunyai keharusan untuk dikerjakan, namun hanya karena bertepatan dengan libur yang panjang sehingga banyak orang khususnya para perantau memanfaatkan kesempatan itu untuk silaturahmi kepada sanak saudara.

Tahun ini, mudik saya tergolong Exclusive, berbeda dengan acara pulang kampung sebelumnya. Apa pasal? karena saya mudik dengan berkendara sepeda motor, sendiri saja (tanpa berboncengan). Walaupun menurut orang, biasa saja, bagiku masih luarrr biasa. Motivasi awal kenapa saya memilih sepeda motor sebagai kendaraan untuk mudik karena saya “Kepingin (ingin)” itu saja, hehe. Iya, saya ingin merasakan sensasi mudik dengan motor, sekaligus menjajal kemampuan berkendara saya. Jujur saja, ini adalah pengalaman berkendara terjauh saya selama hidup hingga saat ini.

Denpasar – Pekalongan, ternyata cukup jauh juga ya? Vario yang saya tunggangi juga lumayan banyak minum, total selama perjalanan saya mengisi bahan bakar sebanyak 9 kali dan selalu full tank. Karena didasari rasa “ingin” yang kuat, perjalanan jauh itu saya tempuh dengan hati riang.

Mengenai perlengkapan perjalanan, saya memakai jaket rangkap 3 dengan kaos, dengan memakai celana hitam panjang yang tidak tebal dan kaki saya selimuti kaos kaki tanpa memakai sepatu alias hanya memakai sandal. Kemudian yang pasti helm full face saya kenakan dan sarung tangan juga tak ketinggalan. Bawaan tak terlalu banyak, hanya satu ransel ukuran tas punggung sekolah dengan isi penuh saya letakkan di bagian depan motor agar tidak terlalu berat.

Perjalanan saya awali dengan makan besar untuk mengisi perut dan waktu yang saya ambil adalah malam hari. Bersama teman-teman saya beranjak meninggalkan Denpasar sekitar jam 11 malam. Sebenarnya hari itu saya hanya tidur 3 jam, sekali lagi mungkin karena terobsesi pulang dengan motor rasa kantuk itu tak menggelayuti saat berkendara. Sampai di penyeberangan Gilimanuk sekitar jam setengah dua dan langsung mengambil jalur antrian. Selama mengantri itu rasa bosan dam kantuk mulai mengganggu, maklum saja, antrian saat itu sangat panjang. Dua jam mengantri terasa 1 hari saja. Kata teman seperjalanan saya, tahun ini masih mending, dulu pernah sampai 9 jam antri baru bisa masuk kapal.

Begitu lelah badan ini sehingga tertidur di atas kapal selama penyebrangan. Lumayan bisa menghemat energi selama kurang lebih 45 menit. Kebetulan hari itu saya masih berpuasa dengan makan sahur di kapal sebelum tidur. Saya memang sengaja membawa satu bungkus kurma untuk bekal sahur dan berbuka dalam perjalanan, alhamdulillah sangat membantu.

Jam 5 tiba di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi saya mampir sesaat di SPBU terdekat untuk melakukan sholat subuh. Sengaja tak mencari masjid agar bisa sekalian isi bensin, juga menghindari masjid terlihat kumuh dengan adanya pemudik yang berserakan di dalamnya. Seusai sholat saya masih bisa mencuri waktu untuk tidur sambil menunggu teman yang lain selesai sholat, 10 menit kan lumayan untuk menghimpun energi. Setelah itu perjalanan dilanjutkan sampai jam 10 di kota Probolinggo dengan rasa pegal. Kota Kraksaan menjadi tempat transitku.

Tak terasa terbuai oleh bantal dan kasur selama 5 jam, padahal baru sekejap memejamkan mata. Rencana saya hanya numpang tidur sebentar saja, rupanya tuan rumah berkehendak lain. Begitu sangat memuliakan tamu, ibu dari kawan saya meminta untuk berbuka bersama di rumah. Akhirnya saya menyetujui tuan rumah. Berarti rencana berubah, setelah tarawih baru saya bisa melanjutkan perjalanan. Belum tiba saat berbuka, kakak dari tuan rumah datang dan meminta saya untuk berpindah transit dan sahur bersama di rumah beliau. Saya cuma meringis dalam hati, “Waduh, bisa-bisa perjalanan saya tertunda terus nih”

Tak banyak yang saya perbuat, hanya langsung mengangguk saat pertanyaan itu dilontarkan. Saya pikir ulang, lumayan juga bisa menambah banyak energi, mengingat perjalanan saya ke Pekalongan belum ada setengahnya. Dan kesempatan itu tak kutinggalkan untuk jalan-jalan mencari kuliner wuenak untuk berbuka, hehe.

Alhamdulillah, energi kembali terkumpul sampai keesokan harinya. Setelah sahur dan sholat subuh di masjid, saya melanjutkan perjalanan. Sebelum memacu kendaraan, tuan rumah merasa khawatir dan meminta saya untuk berhari raya di sana. Khusus yang satu itu saya menolak, tekad untuk pulang kampung tidak akan pecah sampai Probolinggo, meski saya tak enak hati, hehehe..

Singkat cerita, jam 5 pagi berangkat dari Pajarakan – Probolinggo sampai di Pekalongan jam 7 petang dengan berhenti istirahat di SPBU daerah Blora-Semarang satu jam dan lanjut lagi jam 2 siang setelah sejenak tertidur di mushola SPBU. Berhenti saat buka puasa untuk membeli seteguk air minum di daerah Batang. Sampai di rumah saya langsung tergeletak di lantai, kepala cenut-cenut, bercampur rasa gembira karena telah sampai dengan selamat di tengah keluarga besar. Ibu langsung memijiti kaki saya, duuh…bahagianya di kampung halaman, hehe.

Pekalongan, kota kecilku sudah banyak berkembang. Kembang desanya juga sudah banyak yang dipetik, iya, lebaran idul fitri berasa musim kawin. Banyak sekali yang menikah pada waktu-waktu itu, mungkin karena sebagian besar pemuda di Pekalongan adalah perantau dan hanya bisa pulang pada waktu lebaran saja. Momen yang tepat untuk menikah kan? hihi…  *Saya tak akan mengikuti jejak para perantau lain, ck ck ck*

Panjang sudah ceritaku, hehe..saya sudahi saja, disambung lain kali agar tak muak membacanya… :D