Tag

, , , ,

Aku termenung di tengah-tengah hiruk pikuk para remaja.  Sepanjang mata memandang hanya terlihat dua warna dominan, biru dan putih. Lapangan upacara yang luasnya tak kira-kira itu penuuuh dengan para remaja yang bergembira, ada yang teriak-teriak, ada yang menangis bahagia, ada juga yang pingsan. Sebagian besar dari mereka bergembira, seolah tak ada beban pikiran yang akan terjadi setelahnya.

Dengan sekejap, biru dan putih, warna yang mendominasi itu berubah menjadi pelangi, warna-warni. Hanya beberapa gelintir saja yang masih bersih tanpa noda sama sekali, termasuk aku. Aku termenung dengan wajah datar tanpa ekspresi, bukannya aku tak lulus, tapi justru aku memikirkan nasib setelah keluar dari sekolah itu.

Rasanya waktu kelulusan itu kurang tepat. Kenapa aku lulus SMP saat ayahku bangkrut. Mengapa aku lulus saat ibuku sudah tak punya usaha lagi. Sampai sekarang pun aku masih teringat dengan perjalanan hidupku, perjalanan untuk melanjutkan pendidikan. Bersama seorang teman dekat, aku mengajaknya pulang.

Euphoria tak membuatku bahagia, tapi aku benar-benar memikirkan nasib setelahnya. Apalagi saat pulang ke rumah, pemberitaan membahagiakan dariku tak ditanggapi oleh ibunda. Ia hanya memaksa bibirnya untuk tersenyum. Dalam hatinya, beliau menangis sebab tak tau apa yang harus dilakukan.

“Bu, aku mendapat peringkat satu di kelas, dan LULUS”

“Coba mana lihat, nak. Wah, nilainya bagus-bagus, pantas saja kamu jadi juara kelas” Hibur ibu.

“Bu, aku ingin melanjutkan di SMA 1 *** ya?” Bujukku

Ibu tak menjawabnya lama, hanya diam sambil membolak-balikkan lembaran demi lembaran nilai raport ku. Aku tau, ibu sudah membolak-balikkan halaman yang sama sampai dua kali. Aku tak memahami perasaan ibu saat itu, masih terlalu kecil, belum tau apa-apa perihal perasaan, yang aku tau hanya tingkah laku beliau.

“Oiya, nanti ibu telpon ayahmu dulu ya? sabar saja.”

Ayahku saat itu sedang di Jakarta, mencoba membangun kembali usahanya dengan mengambil pinjaman dari sana-sini. Namun, merintis itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Beberapa hari kemudian baru ada kabar dari ayah melalui telpon via wartel. Yang akhirnya, ibu memberikan keputusan yang mengejutkan.

“Nak, kamu mau enggak, sekolahnya ditunda tahun depan. Nilaimu bagus, pasti diterima dengan mudah, meskipun tahun depan”

Keputusan itu adalah keputusan yang memberatkan hatiku. Air mataku langsung menetes saat itu juga. Khayalku jauh, memikirkan kelak selama setahun di rumah. Dikala remaja seusiaku bersepeda menuju sekolah barunya, aku hanya bisa melihat dari kejauhan dan hanya bisa menerima kenyataan, kalau aku tidak sekolah.

Cita-cita ku memang tinggi, aku ingin menjadi ilmuan yang bisa membuat sesuatu yang baru. Seorang ilmuan seperti Albert Einstein, menciptakan sesuatu  yang berguna untuk banyak orang. Tapi kandas sudah, aku tak bisa melanjutkan pendidikan. Benar-benar momok yang menakutkan sekaligus memalukan.

Ternyata, lagi-lagi pertolongan Allah datang…

Om ku, suami dari adik ayahku tiba-tiba datang ke rumahku pagi buta, padahal jarak rumah beliau lumayan jauh. Om datang setelah mendengar kabar dari ayah, bahwa aku tak bisa sekolah sebab biaya. Om merasa trenyuh, melihat keponakannya tak bisa melanjutkan sekolahnya. Kedatangan om, hampir saja telat, pasalnya semua pendaftaran SMA negeri sudah ditutup, hanya masih tersisa dua sekolah swasta, itupun kejuruan.

“Ari, kenapa kamu tak ngasih kabar kalau mau sekolah di SMA ***?”

“Nggak boleh sama ibu” jawabku sambil tersipu.

Terang saja, aku, yang jarang terlihat menjalin silaturahmi ke rumah paman, sekarang malah didatangi. Aku memang tak suka mengikuti acara silaturahmi keluarga saat itu, sehingga banyak keluarga besar dari ayah yang tak mengenalku. Aku malu.

“Kamu telat, Ri. Hari ini sudah tidak ada lagi pendaftaran calon siswa baru di sekolah negeri, kalau kamu benar-benar ingin melanjutkan sekolah tetap bisa. Masih ada sekolah kejuruan swasta, di daerah Kota Pekalongan dan Kajen (Kab. Pekalongan). Sekarang om mau tanya, kamu bener-bener niat sekolah enggak?”

“Iya, Om”

“Kalau begitu, kamu harus nurut sama ibu ya? belajar yang sungguh-sungguh, eman-eman, kamu sudah sekolah dengan susah payah jika hanya untuk membanggakan diri saja.”

Aku hanya mengangguk mendengar nasihat dari paman.

“Sekarang, diantara dua sekolah ini, kamu mau yang mana?”

- Paman memberiku sedikit gambaran tentang lokasinya, dari dua sekolah itu jaraknya jauh. Membutuhkan tambahan biaya transportasi setiap hari. Akhirnya aku pun memilih sekolah menengah kejuruan yang ada di daerah Kajen (Kab. Pekalongan), Sekolah itu baru 2 tahun beroperasi, sehingga aku adalah generasi ketiga. - 

Ternyata, tidak cukup sampai di situ, paman tidak bisa berbuat banyak, beliau hanya bisa memberi motivasi buat ku dan juga banyak saran serta nasihat untuk tetap melanjutkan sekolah. Beliau hanya membantuku untuk biaya pendaftaran saja. Itu sudah cukup bagiku. Jasanya sungguh besar, tak bisa ku lupakan begitu saja.

Beberapa hari setelahnya, ibu pergi ke Jakarta, untuk menyusul ayah yang saat itu bukannya usahanya tambah bagus, tapi beliau sakit. Perasaanku tambah kacau, aku memikirkan hal itu. Hanya aku, nenek dan adikku yang masih berumur 18 bulan di rumah. Kami hanya bertiga, yang masih mengurusi adik paling kecil.

Beberapa hari setelah aku dinyatakan lolos seleksi sekolah, aku kebingungan lagi. Tak ada lagi paman, rumahnya jauh, dulu belum ada handphone seperti sekarang. Aku hanya sendirian, mambayangkan aku akan gagal sekolah lagi. Sebab, daftar ulang sebesar Rp 699.000,00 harus dibayarkan paling lambat esok hari.

Aku berlari ke wartel untuk menelopon kedua orangtua ku yang masih di sana, mereka tak bisa berbuat banyak juga. Untuk biaya mengurusi ayah saja sudah berat. Apalagi ditambah aku yang saat itu membutuhkan dana sebesar itu. Lagi pula, jikalau mereka mengirimkan uang, pasti tak akan bisa sampai ditangan esok hari.

Aku kembali meneteskan air mata sepulang dari sekolah baru itu. Hidup ini sungguh kejam, tak ada orang yang bisa membantu kami dikala kami tertimpa kesulitan. Perasaanku bertambah gejolak tatkala mendengar tangisan seorang bayi. Adikku, ternyata adikku yang masih belum bisa berjalan itu menangis. Suara tangisan yang samar-samar itu ku dekati dan ternyata… Ah, aku tak sanggup melihat kenyataan seperti itu terulang kembali. Adikku terperosok di sekitar kamar mandi, perbatasan antara sumur dan dapur yang masih berlantai tanah. Aku mengucap syukur berkali-kali, untung saja tak sampai terperosok ke dalam sumur. Tak ada baju sehelai pun ditubuhnya. Ia bisa sampai ke dapur dengan cara merangkak, setelah terbangun dari tidurnya. Sedangkan nenek tak ada di tempat. Nenak meninggalkan adikku setelah menidurkannya di kamar.

Adikku sudah diam, tak lagi terisak dalam, tapi aku masih terlihat bekas air mata di pipi. Wajahku terlihat lebam, setelah sekian lama menangis. Mataku terlihat sendu. Bajuku lusuh, kumal dan tak karuan.

“Ono opo, le… nangis naopo, kowe?” (Ada apa, nak.. kenapa kamu menangis?”

Tanpa permisi, nenekku langsung ikut menangis. Tampaknya beliau sudah mengira tangisanku ini berhubungan dengan sekolahku. Aku tak sanggup menatap matanya. Tangisanku semakin menjadi ketika nenek mendekati. Hanya berkata sambil menunduk.

“Mbah, mbenjing kedah mbayar 700 ewu, neng sekolah kagem daftar ulang” (Nek, besok harus bayar uang 700 ribu untuk daftar ulang) kataku pelan sambil terisak.

“Ee… Duh gusti Allah… nasibmu kok elek temen si le..” (Ya Allah… nasibmu jelek bener sih, nak)

Bukan tambah tenang, simbah malah ikut-ikutan menangis. Kami berdua menangis, yang kemudian diikuti tangisan adikku yang bingung melihat kami menangis. Setelah semuanya tenang nenek memberikan saran kepadaku untuk meminta bantuan dari saudara-saudaraku. Siapa tahu mereka memberikan belas kasihan.

Mau bagaimana lagi.. cita-citaku yang begitu kuat untuk melanjutkan sekolah mau tak mau harus menjalani saran dari nenek. Malu sebenarnya… malu sekali… meminta bantuan kepada sanak saudara, keluarga dari ayah yang tidak pernah ku temui kecuali hanya satu tahun sekali saat hari raya idul fitri. Perasaan malu itu akhirnya harus ku tampik.

Nenek memberiku uang yang dipinjamnya dari tetangga untuk naik angkot menuju ke rumah saudara. Rumahnya memang jauh, mereka semua ada di kota sedang aku di desa. Saat pertama turun dari angkot, aku benar-benar seperti tak punya malu memasuki ruko kain yang belakangnya terdapat rumah gedongan. Benar-benar terasa urat malu itu putus gara-gara kebutuhan yang mendesak. Siang itu aku bilang kepada karyawannya untuk mempertemukan aku dengan pemilik usaha itu.

“Mbak, mau ketemu sama Simbah”

“Oiyo, mrene Ri. Mlebu wae yoo…?” (Oiya, sini Ri. Masuk aja ya?) karyawan yang ramah itu sudah mengetahui bahwa aku adalah keponakan dari pemilik toko, sebab dulu dialah yang menggendongku waktu kecil saat diajak bertemu simbah.

Hmm… rupanya aku belum berhasil bertemu, hanya ada budhe di dapur. Dan mengajakku ke dapur untuk makan siang. Setelah makan, dan hati tenang. Aku menceritakan semuanya yang terjadi kepadanya. Beliau lalu menanggapi.

“Budhe cuma bisa membantu saja, Ri. Nanti budhe tanyakan ke paman-pamanmu yang lain, mudah-mudahan bisa mendapatkan uang segitu ya? Budhe ini cuma numpang di sini, untuk mbantu simbah saja. Yah.. mudah-mudahan kamu diberi kemudahan ya? Nanti sekolahnya harus bener-bener yang rajin ya.. kasian bapak-ibumu”

Nasihat dan yang semacamnya bertubi-tubi ku dengarkan dengan seksama. Pikiranku kembali melayang, menanggapi apa yang budhe  katakan itu seolah-olah uang yang aku butuhkan tidak semuanya bisa didapatkan. Tapi saat itu hatiku sudah menenang, meski nantinya tidak semua uang diberikan, aku sudah sangat senang, disambut dengan baik.

<Budhe yang ada di dapur itu adalah kakak dari ayah. Sedangkan pemilik toko itu adalah istri adiknya simbah dari bapak>

Budhe mondar-mandir untuk mencarikan bantuan kepada saudara-saudara yang lain, yang kebetulan juga mempunyai ruko tak jauh dari sana. Komplek ruko-ruko itu milik keluarga, yang sama sekali tak ku kenal. Tak ku sangka, sedari tadi aku sudah duduk lebih dari 4 jam. Setelah ku selesai sholat ashar di rumah simbah, budhe menghampiri, dan memberikan uang genap 700 ribu. Itulah awal kali aku memegang uang paling banyak. Ya, 700 ribu ku genggam erat, ku masukkan ke dalam plastik lalu ku kantongi dalam saku celana.

Budhe memberiku uang saku untuk pulang dan keperluan lainnya juga, beliau tak lupa menitipkan salam kepada nenek. Aku pulang dengan hati yang was-was, senang, gembira, beradu jadi satu. Aku awasi benar uang itu hingga sampai rumah ku serahkan semuanya kepada nenek. Aku takut uang itu hilang jika ku pegang sendiri.

Keesokan harinya, alhamdulillah… aku berhasil mendaftar ulang dan saat itu resmi diterima di salah satu sekolah menengah kejuruan swasta yang sekarang menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hebat.

***

Hmm… Itulah beberapa kisah yang mendasari aku untuk selalu membahagiakan orang tua. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi membantah perkataan mereka, dan aku selalu berkomunikasi dengan kedua orang tua meski jarak memisahkan kami.

Hikmah:

  • Kita dituntut sabar dalam segala hal yang menimpa kita. Allah ada dibalik kesusahan yang kita alami.
  • Silaturahmi itu penting, sangat dianjurkan dalam syariat islam. Menjaga persaudaraan dan mempererat hubungan kekerabatan agar suatu saat jika kita membutuhkan sesuatu maka tak segan untuk meminta bantuannya.
  • Ingat kepada Allah dalam setiap langkah, termasuk dalam kepedihan dan kejayaan. Semua itu hanya milik Allah, jika Dia menghendaki maka terjadilah. Orang kaya tak selalu kaya, dan yang miskin bisa jadi kaya. Rendahkan lah hati.
***

Ari Tunsa berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia, disponsori oleh Jeng AnggieDesa Boneka, dan Kios108

About these ads