Kamu Manis

“Hmm…”

“Hmm…?” Mengangkat bahu sambil menyodorkan tangan dengan telapak menghadap ke atas.

“Kamu aneh ya orangnya…”

“Aneh?”

Ya.. Ya. Aku aneh. Memangnya kenapa kalau aneh?

Tapi… Aneh dalam hal apa?

Justru kamulah yang aneh, Man. Tak bisa ditebak apa maumu. Kau ini misterius, persis seperti Conan, detektif kecil yang bisa berubah menjadi dewasa tiba-tiba. Dan bisa sekejap kembali menjadi kecil. Kamu juga aneh, seperti anak kecil yang mengalihkan topik pembicaraan saat melihat sesuatu. Kamu yang aneh.

***

Maman Surahman.

Sejak kukenal kamu, aku sudah menyangka kalau kamu itu aneh. Tapi keanehan itu tak muncul saat-saat seperti ini. Tapi, entah kenapa keanehanmu itu yang membuatku bersedia kamu sunting. Kamu bisa sekejap berubah menjadi monster, tapi juga dengan sigap menjadi dokter cinta, membuatku terkesima. Aku sudah terbiasa dengan situasi seperti itu, dan aku menyukai alur kisahmu. Menarik.

“Lis… Lisa, heii.. Melamun saja sore-sore. Suami datang sampai tak dihiraukan”

“Ehh, iya Mas. Maaf” Aku tersipu, lantaran tertangkap basah sedang melamun di depan tv.

Maafkan aku, Mas. Bukannya aku lupa nasihatmu untuk tidak hanyut dalam lamunan. Aku tak sengaja. Fotomu ini yang membuatku hanyut. Aku bahagia sekarang, mempunyai suami sebaik dan seaneh dirimu. Aku tak ingin jauh darimu.

“Alhamdulillah… Capek juga hari ini”

“Mas sudah tau belum?”

“Belum. Tau apaan?”

“Mas, tadi pagi aku muntah-muntah”

“Kamu sakit, Lis?”

“Nggak tau nih, tiba-tiba saja mual, eneg, sampai tidak enak santap siang” kusandarkan kepalaku pada pundaknya yang sedang bersandar di kursi depan tv. Sambil memijat-mijat ringan tangan Mas Maman.

“Kamu sakit? Besok ke dokter ya? Mas temeni kamu” wajahnya yang kucel menatapku sambil menyentuh dahiku.

“Memangnya Mas nggak masuk kerja?”

“Ya masuk dong. Besok kan hari jumat, siang juga Mas dah pulang”

Aku iya-kan dengan anggukan, lalu memeluknya. Tenang berada di samping suamiku. Dia sedang tidak berubah menjadi monster menakutkan.

***

“Lisaaa….!

Kenapa kamu tak membangunkanku?!

Kamu tau kan? hari ini aku ada meeting dengan klien besar. Kamu mau suamimu ini gagal mendapatkan tender sebuah perusahaan besar? kamu mau jatuh miskin apa?”

Aku kaget. Kaget dengan pekikan nyaring Mas Maman. Sudah, biarkan saja si monster berkecamuk dalam gubuk ini. Aku hanya meminta maaf, menunduk. Pagi ini begitu suram, janji yang kemarin dia ucapkan hilang tenggelam oleh emosi.

Beberapa orang menganggap aku ini bodoh, mempertahankan suami bertemperamen tinggi. Mereka salah. Mereka tidak menjalani sendiri, aku tau siapa suamiku. Enam tahun sudah aku hidup bersamanya. Aku sudah mengenalnya, seperti mengenal diriku sendiri. Aku sangat mencintainya seperti mencintaiku sendiri. Mas Maman memang bertemperamen tinggi, cepat emosi. Emosi tidak pada tempatnya. Terkadang, aku sendiri kewalahan menghadapi tipe yang seperti ini. Mungkin justru itu seninya.

***

“Sudah siap?”

“Siap apa, Mas?”

“Ke dokter dong”

“Oiya, lupa. Tunggu bentar ya, Mas”

“Iya”

Ternyata dia sudah kembali menjadi suamiku. Mas Maman ingat akan janjinya kemarin, dan melupakan kejadian pagi tadi. Aku kembali hidup di surga. Setelah sholat jumat, dia membawaku ke dokter. Seperti janjinya kemarin sore. Satu mobil bersama seorang yang tercinta membuatku tenang. Obrolan ringan seputar pekerjaannya membawa kesejukan dalam perjalanan.

***

Maafkan aku, Mas. Seharusnya aku tak banyak mengajakmu ngobrol di atas kendaraan, sehingga membuat konsentrasimu hilang. Aku selalu ingat masa-masa itu, masa kelam dan paling menyedihkan yang pernah kurasakan selama hidup. Pesan terakhirmu akan selalu kuingat sampai kapanpun, Mas. Dua kata itu adalah kalimat yang keluar dari mulutmu selama hidup bersamaku, “Kamu Manis”.

Mas, anakmu sudah besar. Rafi besar tanpa didikanmu. Aku kangen saat-saat indah bersamamu. Sebentar lagi, Rafi akan menikah dan meninggalkanku bersama keluarga barunya. Aku kangen kamu, Mas.

About these ads

47 responses to “Kamu Manis

  1. ah,, kok sedih begini endingnya..
    sedikit kritik nih mas.. di tulisan masih ga konsisten nyebut orang pertamanya.. seringnya ‘aku’ tapi terselip juga beberapa kata ‘saya’

    • ealah mbak, itu berkali-kali putus-nyambung mbuatnya, dan tidak saya baca ulang pas mau publish, jadilah begitu.. haha.. saya edit deh.. makasih koreksinya mbak…

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s