Suami Pemarah

Seorang ibu dari tiga anak tampak menahan isak tangisnya ketika menceritakan perlakuan yang diterimanya dari suaminya. Ketidakpedulian, ucapan yang kasar, dan pukulan sudah menjadi kawan dalam hidupnya selama berkeluarga. Sebenarnya sakit di badan sudah tak dirasakan namun sakit di hati terus tersimpan hingga membawanya untuk mengadukan kisah hidupnya dengan satu asa akan ada jalan keluar dari deraan derita.

Betapa malang nasib seorang wanita yang lemah bila mendapatkan suami yang berperangai kasar lagi “ringan tangan” seperti itu. Padahal Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertitah:

“Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah.”

Datanglah ‘Umar ibnul Khaththab Radhiyallahu ‘anhu untuk mengadu:

“Wahai Rasulullah, sungguh para istri telah berbuat durhaka kepada suami-suami mereka.”

Mendengar pengaduan ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi izin kepada para suami untuk memukul istrinya. Namun ternyata setelahnya banyak wanita datang menemui istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam guna mengadukan suami-suami mereka. Maka kata beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sungguh banyak wanita berkeliling di keluarga Muhammad guna mengadukan suami-suami mereka. Bukanlah para suami yang memukul istri (dengan keras) itu orang yang terbaik di antara kalian.” (HR. Abu Dawud no. 2145, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)

Kata Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bukanlah orang yang terbaik, karena suami yang terbaik tidak akan memukul istrinya. Justru ia bersabar dengan kekurangan yang ada pada istrinya. Kalaupun ingin memberi (pukulan) pendidikan kepada istrinya, ia tidak akan memukulnya dengan keras hingga membuatnya mengadu/mengeluh. (‘Aunul Ma’bud, Kitab An-Nikah, bab Fi Dharbin Nisa’)

Cinta, tak ada manusia di dunia ini yang terbebas dari kesalahan. Tak ada seorangpun yang bisa menjaga diri dari kemaksiatan, kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk aku, suamimu kelak. Terkadang hawa menyelimutiku untuk berbuat diluar kendali. Emosi, marah, benci, yang tak  jarang menimbulkan pukulan bisa saja terjadi pada diriku yang lemah ini.

Aku ingin mengubah hal itu, menghilangkan sifat pemarah, egois, dan sifat-sifat jelek lainnya karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Aku ingin dengan menikahimu menjadi semangat memperbaiki diri, bertambah motivasi untuk senantiasa mendekatkan diri kepada sang Ilahi Robbi, Allah ‘Azza wa Jalla.

Namun, sebagai manusia biasa, tentu kamu akan menemukan ‘godzila’ itu dalam rumah. Dan sebelum menjadi makhluk menyeramkan itu, aku meminta maaf dahulu kepadamu. Aku takut ‘godzila’ menyeramkan itu muncul tanpa pemberitahuan. Yang jelas, hati kecil ini tidak menginginkan hal itu terjadi. Aku ucapkan sejak dini, agar kamu mengerti, hati beningku berkata “Uhibbuka Fillah” (Aku mencintaimu dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)

Untukmu, Cinta…

About these ads

34 responses to “Suami Pemarah

  1. Aih…aih…postingan untuk calon istri ya Ri? co cwiiiit.
    Marah mah wajar, manusiawi malah, yg penting sikap saat marah itu yg harus tetap positif, kira2 begitu kali ya Ri kesimpulannya :)

  2. punya suami/istri pemarah sama2 gak enak
    yang enak itu yang mau saling pengertian
    tapiiiiiiiiii ………… prakteknya emang gak semudah ngomongin teori
    karena dalam keseharian akan banyak faktor yang jadi pemicu dan pendukung muncul godzilla yang menyeramkan dan emang datangnya ga bilang2 :D

    makanya latihan dari sekarang *nakut2in*

  3. betul sekali walaupun saya belum punya istri alangkah baiknya kita bersabar dengan istri karena kesabaran akan membuahkan hasil karena beristrilah kita mendapatkan motivasi khususnya dalam bekerja.

  4. marah pada tempatnya kali bang yang betul hehee.. kalau salah ya dimarahi kalau memang harus kasar janganlah memukulnya pada wajahnya tapi pukullah pada tempat tempat sewajarnya dan dengan sewajarnya.. jika hal itu juga tak merubahnya maka islam memberikan jalan yang lebih baik daripadanya…

    semoga saya bukan termasuk suami pemarah ( #AaMiin ) d(^o^)

  5. AAAHHH …
    paragraf terakhir itu … adem bener cinta …

    yang jelas …
    saya senantiasa berpegang bahwa … kepada sesama makhluk hidup … kita harus saling menyayangi …

    APALAGI … sama keluarga kita
    TERLEBIH LAGI … sama istri kita …

    Salam saya

  6. Memiliki pasangan yang egois memang merupakan salah satu cobaan yang berat bagi seorang suami. Harus tahan banting mendengar celoteh-celoteh pedasnya, harus memiliki kesabaran yang tinggi untuk menghadapi sikapnya yang keras kepala dan mau menang sendiri.

    Memiliki pasangan yang egois, mungkin memang sangat menyebalkan dan menyesakkan dada. Namun apapaun yang terjadi, dialah yang telah menjadi pilihan kita. Kita yang telah memilih dirinya, maka kita pula yang harus menerimanya.

    Pasangan kita yang egois, itulah pasangan kita, yang dahulu kita puja dan kita impi-impikan. Maka ketika kita mendapatkan keburukannya, janganlah membenci atau meninggalkannya. Jangan pula menghadapinya dengan kekerasan dan keegoisan yang sama. Jangan mempertemukan api dengan api, karena tentu saja yang terjadi adalah api tersebut akan berkumpul dan membesar, melahap segala yang ada disekitarnya.

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s