“Mandiri”ku diuji Part II

Kembali ke…laptop.
Tulisan ini ku lanjutkan ya…sobat, kisah ini nyata sebagaimana ceritaku kemarin setelah ku menemukan tempat berteduh malam itu kami beristirahat dengan tenang untuk menyusun tenaga buat esok hari. Setelah itu, diadakan training bagi karyawan baru nama istilahnya OJT (On The Job Training), kami di beri id . tanda pengenal untuk menandakan bahwa kami adalah karyawan baru yang harus memerlukan bimbingan dari para karyawan senior. Kami kembali ke gedung learning center selama tiga hari, disana terdapat macam-macam agenda yang dilaksanakan dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore, lelah memang namun semua merasa senang. Sebagian besar agenda OJT di gedung tersebut dilaksanakan pengarahan seputar pekerjaan yang akan kami jalani nantinya, dari berbagai kalangan ahli turut serta di dalamnya. Menurutku acaranya malah membosankan, soalnya itu itu aja yang dibicarakan nggak ada yang lain, walaupun sangat penting. Yang paling penting, pada saat makan siangnya, hehe…makanannya lumayan juga, maklumlah anak ingusan yang baru keluar dari sekolah mendapat makan siang layaknya karyawan disana. Tiga hari tak terasa, dan diumumkan bagian departemen yang akan ditempati semua karyawan baru. Sore hari, jam 4 kami serombongan menuju ke learning center kembali untuk melihat kami mendapat job des apa dan dimana kami ditempatkan. ADM punya 4 plant (Pabrik), dan keempat2nya terletak berbeda tempat. Plant 1 (Stamping plant) dan Plant 4 (Assembly Plan) ada di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Sedangkan kedua plant yang lain yaitu Plant 3 (Casting Plant) dan Plant 2 (Engine Plant) berada di Karawang, Jawa barat. Lumayan jauh, untuk menempuh kesana sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Nah, kami liat di papan pengumuman sambil desak-desakan dengan karyawan baru yang lain. Sembilan orang temanku yang masih tersisa di tempat kosan ku ternyata ada satu yang terdampar di Karawang, plant 2 ternyata khairul khasikin ditempatkan. Kasihan dia, padahal dia belum pernah kemana mana. Aku, Pujo, Edi, Tarono di tempatkan di plant 1 (Stamping Plant), sedangkan Jono, Aziz, Funny, Kempot, Subari di plant 4. Kami masih bisa kembali ke tempat kosan kecuali khairul. Sementara itu, setelah masuk kerja nasib kita berbeda-beda. Mendengar dari cerita teman-temanku sepulang kerja, sangat menyedihkan…ada yang disuruh jalan jongkok mengelilingi halaman, di suruh push up dll layaknya saat kita MOS di sekolah.

Beda lagi nasib aku dan teman-teman yang ada di plant 1, aku dan pujo berada dalam satu departemen (Purchasing Subcont), beserta teman baru ku dalam satu departemen kami berempat adalah karyawan baru. Pujo, aku, Burhan, dan satu temanku lagi dari Sragi. Kami disuruh baris, tiba-tiba Group Leader datang dan nyuruh kami push up, kami menuruti saja perkataan GL itu, lalu semua yang ada di ruangan mentertawaiku. Semua terbahak-bahak, coba bayangkan betapa malunya kami saat itu. Selama masih menjalani OJT aku nggak betah tinggal dan kerja disana. Selama Tiga bulan itu sepertinya aku sudah tidak kuat lagi. Namun karena dukungan mental dari teman-temanku akhirnya aku bisa melanjutkan kembali pekerjaan disana. Pernah suatu saat, aku disuruh mengantarkan barang ke departemen lain, sampai disana beliau tidak mau menerima “Untuk apa ini, apa maksudnya!!” dengan nada yang sangat keras hingga orang disekitar melihatku. Aku pun kembali kepada orang yang menyuruhku mengantar barang tersebut minta penjelasan “Pak, Bapak yang itu nanya, katanya ini barang apa? tolong jelasin” kataku lirih. Aku kembali kesana setelah diberi penjelasan. “Pak, ini barangnya katanya disuruh ini…dan itu….(Lupa redaksinya)” kataku sambil berharap tidak dimarahin lagi.

“Kenapa dikasihkan saya, kan harusnya begini…begitu….(Lupa juga)” Dengan nada tinggi juga pak haryadi berkata.

“Maaf pak, saya tidak tahu” jawabku. “Sudah berapa lama kamu bekerja disini?!, gitu aja nggak tahu!!” Menimpaliku dengan mata melotot. “Sana kembalikan lagi” lanjut dia.

Aku kembali lagi, tiga kali sudah aku disuruh kembali. Akhirnya Mas Kris, (Yang menyuruhku) kasihan melihatku sehingga barangnya tidak jadi di antar ke Pak Haryadi. “Sudah Ri, biar nanti saya yang nganterin” Mas Kris bilang padaku.

Hmmm…itu belum seberapa, masih banyak lagi tingkah para senior yang bikin aku nggak betah kerja. Cukup sekian dulu ya..

Jangan patah semangat sebelum semua dikerjakan, jangan takut kalau kita berbuat benar. Takutlah jika kita bersalah walaupun tidak ada orang yang melihat, tapi yakinlah bahwa kita tak luput dari pandangan Allah Azza wa jalla.

Smile,

Iklan

2 responses to ““Mandiri”ku diuji Part II

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s