Kisah dari Cepu

Bismillah…

Alhamdulillah telah sampailah perjalanan hidup kita sampai detik ini, akhirnya aku menulis lagi. Semoga sisa perjalanan hidup ini terasa menyenangkan dan penuh berkah dari sang maha kuasa Allah Azza wa jalla. Teringat aku ketika menelusuri blog punya temenku irul seorang pria dari jawa barat (kagak tau tepatnya). Sebagian besar temen – temenku pasti ada yang merasa tidak beruntung menempuh pendidikan selama setahun yang telah lalu. Masih teringat betul kisah suka dan duka di Asrama bersama teman satu angkatan. Dulu….betapa semangatnya temen-temen pada saat itu, bisa tergambarkan dari lantang suara yang kami teriakkan ketika komandan berteriak “Siapa kita….”, kala itu antusiasme kami sangat tinggi dengan penuh pengharapan akan dapat meraih cita – cita di hari depan.
Sekarang….hanya kenangan dan asa yang tiada sempurna kami raih. Hmmm…padahal aku sudah tidak kepikiran akan hal itu lagi. Dari info blog maupun fb punya temen-temen se angkatanku ada beragam kegiatan dan pekerjaan yang mereka lakukan, ada yang sekarang di ibukota, luar pulau bahkan ada yang di luar negeri. Tapi percayalah teman, semua itu tidak ada apa-apanya, tidak akan kita nikmati jika kita tidak selalu bersyukur dan menerima apa yang terjadi sekarang. Jangan melihat kesuksesan orang lain jika kita manjadi kecil hati dan minde, namun cobalah tuk berfikir positif dan meraih cita dengan berusaha dan semangat tiada henti.
Kalo kata temenku sich “Harus bermanfaat bagi Negara”. Itu betul sekali akan tetapi cobalah berbuat dari yang lebih kecil dan mudah kita kerjakan, dari orang sekitar kita. Bergembiralah jika orang lain senang terhadap kita, sebaliknya carilah kekuranganmu apabila ada orang yang tidak suka melihat kita.

Sobatku tercinta, tidak semua hal yang kelihatannya menyenangkan yang kita lihat dari teman, selalu menggembirakan juga untuk kita. Jalan hidup seseorang berbeda-beda, cobalah tengok, bahkan penjual es pun tetap laku barang dagangannya di musim hujan. Itu menandakan bahwa setiap riski yang kita dapatkan itu telah dibagi dengan adil dan diberikan sesuai takarannya. Mungkin kita melihat orang lain enak, punya banyak uang dan sebagainya, kita membayangkan mmmm…..gimana rasanya pegang uang sebanyak itu. Sekali lagi saya katakan, rezeki itu dibagi sesuai takaran kemampuannya, siapa tau kalau kita punya banyak uang malah tidak bisa menggunakannya dengan baik, siapa tau malah jadi masalah yang besar. Oleh karena itu, jalani kehidupan ini dengan hikmat dan penuh syukur.
Aku, juga kadang merasa begitu…dan masih terasa demikian jika melihat status fb maupun jeritan dari blog temen-temenku (hehe…berlebihan), nggak deh.

Ini hanya sekedar cerita dariku, dan bukan rekayasa belaka, mudah-mudahan bisa menambah wawasan. Sepulang dari Cepu, kota kecil antara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, kota yang tidak banyak dikenal sebagian orang awam, tapi terkenal dikalangan ahli perminyakan itu, setelah setahun lamanya di ladeni oleh bapak bapak dari kodim di kota tersebut, rasanya senaaaang sekali, bebas dari apel tiap pagi, siang, malam. Seakan-akan seperti burung yang terlepas dari kandangnya, plong pikiranku tidak ada tugas-tugas yang membebaniku tiap hari, tidak ada lembur tiap malam untuk mengerjakan PR. Dan tidak lagi dating ke perpustakaan yang isinya buku-buku setebal bantal dengan tulisan bahasa asing. Bersama temenku yucky yang juga ingin melihat dunia luar (Cie…dunia luar, padahal Jakarta aja), kami berdua pulang ke rumahku dulu rencananya (transit).

Sekitar jam delapan pagi, setelah sarapan tentunya…kami berkemas, rencananya pulang dengan kereta api. “Naik kereta barang aja, biar lebih murah” nyeletuk temenku, hehe…maklumlah kita kan abis kuliah bukan abis kerja jadi gak punya uang banyak. Dengan dibantu temenku membawakan tas besar-besar berisikan pakaian ke bawah (halaman), sebuah becak menghampiriku. Kami berdua naik dengan barang bawaan yang begitu banyak. Sampailah kami di dstasiun Cepu (Stasiun Jalur pantura), dibantu temenku yang bekerja disana, kami pun sudah mengantongi tiket dengan mudahnya. Rasa gembira menyelimuti kami saat itu, karena tujuan utama adalah kota Jakarta. Turunlah kami di stasiun Pekalongan, tempat kelahiranku. Jebret….(singkat cerita).

Setelah menginap di rumahku selama tiga hari. Berangkatlah kami ke Jakarta dengan bis antar propinsi jurusan Pekalongan – Kebayoran lama, dengan membayar tiket 45 ribu kami sudah bisa naik bis ber AC tersebut. Wuzzz, tiba juga di Jakarta, bingung aku. Malam2 menginjakkan kaki di Jakarta setelah setahun lamanya tidak kesana. Perjalanan ketempat saudaraku pun dimulai…disana kami berpisah dengan Yucky, dia ketempat temennya dan aku ketempat temenku, kita bertemu 1 hari kemudian di Pulogadung, terminal besar di kawasan Jakarta timur. Pertemuan kami sampai disitu, selanjutnya kami berpisah dech…dan bertemu lagi beberapa bulan kemudian di Surabaya. Panjang kalau diceritakan semua, cukup ya…capek juga nulisnya. Itu seklumit pengalamanku, jangan diingat-ingat bagian yang sedihnya ya, nanti malah pada nangis semua deh, hehehe..Selang waktu dari Jakarta sampai Surabaya inilah kisah sedihku banyak terjadi (tuuut, sayang sekali di sensor).

Mungkin ini sedikit renungan untuk kita agar bisa kembali tersadar akan realita kehidupan yang fana ini, tetap semangat ya…

Good Luck Sobat P2B

2 responses to “Kisah dari Cepu

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s