Pojok kota pahlawan

Hai,
Semalem sampe terbawa mimpi, banyak isi pikiran yang mau ditumpahkan sampai bingung dech mau yang mana dulu. Kali ini kisahku di kota pahlawan, tapi aku bukan pahlawannya lho, jadi kagak bisa dimintai tanda tangan hihihi…artis kalee🙂
Okelah kalau begitu…
Kisahku ini bermula dari Cepu, kota tempatku mendapat pendidikan beasiswa. Aku praktik kerja di Surabaya, tepatnya di salah satu perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia, PT PAL Indonesia.
Sudah dipersiapkan semuanya oleh AKAMIGAS sampai tempat tinggalku disana. Yach..lumayan lama lah aku tinggal disana. Jalan Johor Barat kecamatan Pabean, Perak Timur menjadi tempat berteduhku dan kawan-kawan se-angkatan.

Ikon Surabaya


Kos-kosan yang bagus, daripada tempat kos-ku di Jakarta dulu, pikirku. Selama masih melaksanakan pendidikan selama setahun tersebut, aku dapat fasilitas yang sangat memuaskan. Sampai makan pun disediakan gratis, jadi ngluyur deh…baiklah, untuk cerita saat pendidikan kun anti akan ku posting lain waktu aja.
Lanjut ke kota pahlawan…
Kota yang selama ini jadi impianku itu pun ternyata jadi kenyataan, aku tinggal disana. Tanggal lima belas 2009 kami diberangkatkan dari cepu dengan mini bus punya management Akamigas, tujuannya langsung di tempat kos yang sudah disediakan disana. Tak jauh dari tanjung perak, tahu kan tanjung perak? Pelabuhan yang ada di Surabaya itu lho. Disana banyak beragam tempat yang bagus – bagus, bangunannya pun masih banyak yang merupakan peninggalan jaman belanda dulu.
Tempat tinggalku disana banyak orang yang mengenal dengan nama “Jalan Jakarta”, tepat dipertigaan ada pos penjagaan polantas (Polisi Lalu Lintas) kalau lurus ke utara ke pelabuhan perak, sedang ke timur menuju markas besar TNI AL terbesar di Indonesia. Ke selatan menuju pusat kota Surabaya, disana ada gedung gubernur Jatim, mall Tunjungan Plasa dll. Ke barat agak serong sedikit kea rah utara menuju jalan tol Gresik. Ribet ya bagi yang belum pernah kesana.
Kami berangkat ke tempat praktik setiap hari senin sampai jumat, kadang sabtu juga masuk tapi jarang sekali. Nah, kalau hari sabtu ama minggu ni kesempatan jalan-jalan. Refreshing sambil menyusuri kota pahlawan itu.
Oh ya, kalau disana temen-temen pasti tidak akan mendapatkan angkot kaya di Jakarta. Hehe, pasti dalam hati banyak bertanya-tanya (bagi yang belum ke Surabaya), tenang aja jangan panic disana ada angkutan umum juga kok, hanya namanya aja yang berbeda. Arek-arek Suroboyo menyebutnya “Layn” (dibaca len). Tapi aku lebih suka bepergian dengan bus kota. Minggu pertama saat liburan, kami bersemangat untuk pergi ke TP tapi bukan Tunjungan Plasa. Kami menyebut Tugu Pahlawan sengan sebutan TP, kami pergi kesana nggak naik apapun. Emang tujuannya olahraga sich, jadi aku serombongan lari-lari pagi menghirup udara segar pagi hari. Dengan gaya lari seperti TNI, kami pun melangkah dengan pasti, agak lumayan jauh. Ya, kalau diukur dengan penggaris 30 cm nggak bakal selesai sehari, lebih dari satu kilometer kira-kira. Tak begitu melelahkan, sebab kami dididik semi militer di Cepu sehingga sering dech lari-larian keliling kota Cepu.
Teman, yang paling aku sukai di daerah tempatku itu sepanjang jalan raya menuju pelabuhan ditengahnya terdapat pepohonan yang rindang, adem, sejuk pada siang hari. Pasti temen-temen di Jakarta pingin deh, hehe…

Patung presiden dan wakil presiden RI pertama

Kawasan tugu pahlawan itu berupa kaya stadion, hanya tidak ada tempat duduknya terus ditengah-tengah lapangan ada tugu berbentuk paku, o iya sebelumnya ada patung bung Karno dan bung Hatta menyambut pengunjung di pintu masuk. Sejarahnya kurang tau, tapi jika ada yang pengen tau disana juga terdapat museumnya lho, pokoknya lengkap deh. Di sebelah kanan monument tugu pahlawan (Dari arah pintu utama) terdapat gedung gubernur jatim. Sebelah kiri, yang tepat di jalan indrapura ada sederet gedung DPRD kota Surabaya. Ada juga Bank Indonesia di sekitar situ. Pokoknya lengkap dech, dan yang lebih menyenangkan lagi, setiap hari minggu pagi suasananya ramai sekali. Mmm, kalau dijakarta itu kaya pasar yang ada di belakang mall sunter tiap hari minggu juga. Sama seperti Jakarta disana banyak penjual barang – barang murah, pasar tiban namanya kalau di tempat kelahiranku. Setiap ruas jalan yang dekat dengan monument tugu ada penjualnya, berderet hingga lima ratus meteran ada deh kayaknya. Kantor pos pusatnya pun berada di sekitar situ, kalau ke kiri ada stasiun kota Surabaya, jalan kaki dikit sebelah tugu ada pasar Turi, tidak jauh lagi dengan jalan kaki selama sepuluh menit kita bisa menemukan stasiun pasar turi, stasiun besarnya Surabaya jalur pantura.
Huuufft, kalau detailnya bisa datang aja langsung ya…bingung aku mau cerita, banyak banget ci.
Pojok pusat kota Surabaya itu masih banyak menyimpan sesuatu yang belum ku ketahui. Bagi yang mau belanja buku-buku bekas, tersedia juga. Ada pasar buku bekas terbesar di Surabaya, seperti di Jakarta ada pasar kwitang. Biasanya kami lari pagi kesana sambil berbelanja juga, hehe…kaya ibu-ibu aja, kan lumayan murah-murah, aku pernah beli sandal jepit aja harganya tiga ribu perak aja, dan bisa dipakai kurang lebih selama 5 bulanan. Dari tempatku untuk menuju kesana bisa menggunakan “layn K” kode layn untuk perak – jmp – pasar turi, 5 menit udah nyampe paling, cukup membayar 2000 rupiah, mungkin sekarang dah naik lima ratus perak.
Layn K akan berhenti sejenak di JMP (Jamban Merah Plaza), di seberang jembatan ada perkampungan china, terus jalan dan nyampe deh di TP. Lain lagi kalau naik Bis kota, dengan melewati jalur yang berbeda dikit, kalau bis sebelum JMP belok ke kanan nglewatin Polwiltabes Surabaya.
Nah, sekarang tinggal menelusuri pojok lain di sekitar tempat tinggalku. Meuju kearah maskas besar TNI AL lurus aja, melewatinya nanti akan ketemu yang namanya kampong arab, memang disitu kebanyakan orang keturunan arab yang tinggal. Kampung tersebut banyak fasilitas umum seperti rumah sakit dan hotel, pasar tradisional yang menjajakan ikan segar pun ada disana. Toko buku kesukaanku (Toko buku progressif) ada di kampung arab juga, lumayan aku menemukan tempat orang – orang muslim. Kondisinya memang seperti berada di nergeri muslim kalau disitu.
Mengenai kampung arab, ternyata ada yang tidak kalah ramainya disbanding tempat pariwisata lain, yaitu makam sunan ampel. Setiap hari pagi, siang, sore, malam, shubuh, pasti kulihat ada banyak bis yang lewat untuk menuju makam sunan yang dikeramatkan oleh warga muslim sekitar. Soalnya jalur menuju kesana melewati jalan depan kos-an ku, sehingga tiap keluar aku selalu melihat rombongan bis ke makam sunan ampel Surabaya.
Udahan dulu ya, itu cerita di wilayah tinggalku di Surabaya, nanti aku lanjutin deh kalau gak kelupaan, hehe…ternyata masih banyak wilayah Indonesia yang belum kita ketahui ya? Itulah kekuasaan-Nya.

6 responses to “Pojok kota pahlawan

  1. loh kok naik mini bus? nggak naik heli.. hehe.. biasanya yang pake helikopternya pelita air service dari cepu ke surabaya atau sebaliknya itu perusahaan mana mas? karena kalo saya pikir pasti itu perusahaan pertambangan, karena yang biasa sewa pesawat atau helikopternya pelita itu perusahaan tambang..

  2. hehe, akamigas tu instansi pendidikannya pak, dan kebetulan untuk mahasiswa pendidikan beasiswa spt saya ini gak dapet jatah🙂
    Tukeran link boleh pak?

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s