Tunggu apalagi

Mawar-ku

Apa kabar semua, semoga masih kita masih berada di jalan-Nya yang lurus. Hujan lebat terlihat diluar sana, setelah tadi pagi jalanan dilalui konvoi hari peringatan bayangkara. Jadi ke inget ama blognya kang-ian yang mbahas soal pernikahan, xixixi
Ngemeng-ngemeng masalah pernikahan untuk anak muda lajang seperti aye ini, gak bakal ada habisnya. Apalagi kalau dibarengi ngobrol sesama jejaka yang misinya sama 🙂


Saya sangat inget sekali wejangan dari ibu dulu, “Wes, pokoknya gak usah mikir nikah dulu” kata ibu yang penting kerja dulu yang rajin, biar nanti kalau dah siap baru cari mempelainya, hehe..
Ibu pasti merestui jika kelak nikah. Sebenarnya saya sich dulu juga gak mikir – mikir sampai segitunya, tu cuma buat ngetes ibu aja biar gak kaget jikalau sewaktu anaknya yang cakep ni menikah dengan anak orang (Ya iya lah dengan anak orang, masa sama anak kucing, hehe) Lain ladang lain belalang, lain dulu lain sekarang (hihi…kagak nyambung), motivasiku pertama untuk menikah adalah supaya bisa menjaga pandangan agar tidak terjerumus oleh jaring – jaring syetan yang menyeret pada kemaksiatan dan dosa. Coba liat sekarang, dijalan-jalan umum banyak sekali godaan dari syetan-syetan yang bersolek cantik. Saya inget banget ketika ditanya oleh salah seorang teman baikku, “Kamu rencana akan menikah umur berapa, ar?” Temenku bertanya, dia memang sudah beristri.
“Yach, sekitar umur 24an” jawabku dengan entengnya. “Kalau misalnya sampai umur 24 belum punya rezeki yang cukup gmana?” lanjut dia. “mmm, ya…nggak tahu, tunggu nanti aja” Jawabku ragu-ragu. Masih penasaran rupanya temanku yang satu itu, “Menurutku, walaupun belum bisa tetap dilaksanakan nikahnya. Yakinlah sama Allah” ujar dia dengan penuh keseriusan.
“Lihat pak D (nama samaran), beliau dulu adalah seorang guru yang gajinya dibawah standar, tapi masih bisa hidup dengan istri dan anaknya. Beliau dulu dibenci mertuanya, tapi sekarang jadi anak kesayangan mertua” singkatnya begitu


kalau diceritakan semuanya akan bertambah panjang pembahasannya nanti. Kala itu kami sedang mengendarai sepeda motor juga. Asyiknya pembicaraan tadi, saat itu saya lebih banyak diam karena belum memikirkan masalah pernikahan.
Pernikahan memang sebuah ikatan yang suci yang dapat menundukkan pandangan kita. Lanjut temenku, “Dalam alquran maupun hadits sudah dijelaskan bahwa jika kita menikah akan ditambah rizkinya”,semangatnya berorasi masalah pernikahan didepanku.
“Jadi rumusnya gini, setiap orang kan sudah diatur riskinya sendiri sendiri, naah kalau kita menikah kan berarti istri kita menjadi tanggung jawab kita, sehingga riski yang seharusnya punya istri itu akan kita dapatkan”
Waah, ada rumus segala nih..xixixi
“Nambah anak, akan tambah satu rizki, nambah anak lagi maka akan bertambah lagi satu. Nambah istri ya, nambah lagi satu”, hehe…pisss bagi para istri dan calon istri itu kan rumus yang dikatakan temenku, 🙂
Begitu kira-kira sekilas tentang orang yang sudah yakin kepada Allah, semua sudah tertulis. Nah, lain halnya dengan cerita temenku yang di Jakarta, dia selalu memapakkan kemesraan dan keharmonisan keluarga untuk mempengaruhiku, hehe..
Banyak banget yang pengen aku cepet nikah. Nggak cukup sampai disitu, kisah obrolan dalam perjalanan Surabaya – Bali pun dengan tema yang sama.
Mobil Yaris yang kami tumpangi 3 orang menjadi saksi bisu antara obrolan penumpang mobil itu. Ketika di dalam mobil, dua orang lalaki yang sudah beristri itu nggak ngikutin aku dala perbincangannya, baru setelah satu jam perjalanan kami mampir untuk makan siang di kawasan tuban – Jatim, Meja makan di depan kipas pun kami pilih. Perbincangan hangat ketika di dalam mobil ternyata belum selesai, dilanjut di dalam rumah makan khas jawa timur tersebut. Tiba – tiba satu diantara bapak yang bersamaku nanyain, “Ari kira – kira nanti mau nikah umur berapa?” masih sama seperti pertanyaan temenku sebelumnya. “24 pak kira-kira” jawabku.
“Waduh, mending jangan niru saya. Saya nikah dulu umur 24 juga mas” Kata Bapak yang sudah beruban itu.
“Pak Helmi dulu nikah umur berapa?” lanjut beliau bertanya pada bapak satunya. “Saya 19” jawabnya. “Nah, mas Ari gimana kalau nikahnya diantara usia pak Helmi dan Saya?” kata pak Eko namanya. Aku hanya bisa tersenyum sipu, hihi..
Itulah beberapa pertanyaan yang cukup membuatku berfikir. Memang benar, kata bapak-bapak pemberi pertanyaan itu, dalam benakku berkata demikian.
6 bulan telah berlalu, kini aku lebih percaya diri untuk menikah. Kebetulan dulu ibu pernah ngasih saran, si Dia aja kalau mau nikah :), kebeneran nich sudah ada rekomendasi. Malam selasa lalu ku telp ibu, bahwa niatku untuk menikah sudah bulat. Ibu menanggapinya dengan senyum dan penuh dukungan, hmmmm…apalagi yang kutunggu.
Kawan doakan ya…. 🙂 🙂 🙂

Iklan

13 responses to “Tunggu apalagi

  1. Pingin sih,selain usia sudah diluar batas,q pingn 0rtuq bahagya.tp yg ditunggu blm ngasih jawaban smpai sekarang.

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s