Qiyamullail

Bismillah,

Assalamu’alaikum sahabat-sahabatku, apa kabar? semoga puasanya lancar ya?

Mmmm, tadi malam aku merasa gemetar menjadikan bulu romaku berdiri ketika melihat banyak muslim-muslimah berbondong bondong menuju masjid. Tak seperti biasanya, sholat isya malam itu sangat banyak penggemarnya. Ya, karena tadi malam adalah sholat tarawih pertama tanggal 1 ramadhan 1431 H sebagai pertanda bahwa keesokan harinya umat muslim akan melaksanakan puasa dari menahan segala hawa nafsu.

Ketika adzan dikumandangkan hati ini semakin bergetar mendengar seruan seorang muadzin. Bangga sekaligus senang bahwa kita dilahirkan dalam keadaan islam. Saya membayangkan seandainya umat muslim sebanyak ini, datang ke masjid sholat jamaah tiap waktu, pasti ISLAM jaya. Dan dalam hati ini berdoa semoga terwujud.

Lepas daripada itu, saya akan mengemukakan tentang perbedaan jumlah sholat tarawih yang biasa kita temukan dalam masyarakat. Sebelumnya mohon maaf, jika ada yang kurang berkenan, saya hanya ingin menyampaikan sedikit ilmu. Ada yang bilang “Perbedaan itu rahmat”, tapi bukan dalam hal agama, sesungguhnya Rosulullah memerintahkan kita untuk bersatu bukan berbeda maka siapa yang benar kita ikuti. Tentunya sesuai dengan petunjuk dan tuntunan Nabi yang lurus, bukan ‘benar’ menurut manusia umumnya karena pasti ada nafsu yang menyelimuti.

Kebanyakan ada dua jenis jumlah yang berbeda, pertama ada yang sholat dengan 11 rakaat dan ada pula yang 23 rakaat. Naah, diantara kedua pendapat yang benarnya adalah 11 rakaat. Banyak hadits yang menjelaskan hal itu, diantaranya:

  • Hadits yang diriwayatkan dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, beliau bertanya pada ‘Aisyah tentang sifat shalat Rasulullah pada bulan Ramadhan, beliau menjawab:

مَا كَانَ يَزِيْدُ فِيْ رَمَضَانَ وَلاَ فِيْ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةًHadits yang  …

“Tidaklah (Rasulullah) melebihkan (jumlah rakaat) pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada selain bulan Ramadhan dari 11 rakaat.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari)

‘Aisyah dalam hadits di atas mengisahkan tentang jumlah rakaat shalat malam Rasulullah yang telah beliau saksikan sendiri yaitu 11 rakaat, baik di bulan Ramadhan atau bulan lainnya. “Beliaulah yang paling mengetahui tentang keadaan Nabi di malam hari daripada lainnya.” (Fathul Bari, 4/299)

Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata: “(Jumlah) rakaat (shalat tarawih) adalah 11 rakaat, dan kami memilih tidak lebih dari (11 rakaat) karena mengikuti Rasulullah, maka sesungguhnya beliau tidak melebihi 11 rakaat sampai beliau n wafat.” (Qiyamu Ramadhan, hal. 22)

  • Dari Saaib bin Yazid beliau berkata:

أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيْمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُوْمَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“’Umar bin Al-Khaththab z memerintahkan pada Ubai bin Ka’b dan Tamim Ad-Dari untuk memimpin shalat berjamaah sebanyak 11 rakaat.” (HR. Al-Imam Malik, lihat Al-Muwaththa Ma’a Syarh Az-Zarqani, 1/361 no. 249)

Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata dalam Al-Irwa (2/192) tentang hadits ini: “(Hadits) ini isnadnya sangat shahih.” Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin berkata: “Dan (hadits) ini merupakan nash yang jelas dan perintah dari ‘Umar, dan (perintah itu) sesuai dengannya karena beliau termasuk manusia yang paling bersemangat dalam berpegang teguh dengan As Sunnah, apabila Rasulullah tidak melebihkan dari 11 rakaat maka sesungguhnya kami berkeyakinan bahwa ‘Umar akan berpegang teguh dengan jumlah ini (yaitu 11 rakaat).” (Asy-Syarhul Mumti’)

Maka saya jelaskan pula pendapat yang menyatakan bahwa sholat tarawih berjumlah 23 rakaat berdasarkan pada hadits berikut:

Dari Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman dari Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّى فِيْ رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكَعَةَ وَالْوِتْرَ

“Sesungguhnya Nabi shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat dan witir.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Awsath, 5/324 no. 5440 dan 1/243 no. 798, dan dalam Al-Mu’jamul Kabir, 11/311 no. 12102

Al-Imam Ath-Thabrani berkata: “Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Hakam kecuali Abu Syaibah dan tidaklah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas kecuali dengan sanad ini saja.” (Al-Mu’jamul Ausath, 1/244).

Dalam kitab Nashbur Rayah (2/153) dijelaskan: “Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman adalah perawi yang lemah menurut kesepakatan, dan dia telah menyelisihi hadits yang shahih riwayat Abu Salamah.” Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini maudhu’ (palsu). (Adh-Dha’ifah, 2/35 no. 560 dan Al-Irwa, 2/191 no. 445)

Semoga kita menjadi insan yang selalu berusaha menuju ke jalan kebenaran dengan banyak menuntut ilmu Al Islam yang haq.

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.  (Al Baqoroh: 6)

Dengan kerendahan hati saya minta maaf jika ada yang kurang berkenan. Bisa lihat sumber hadits di sini.

10 responses to “Qiyamullail

  1. waah…ternyata hadits2 yang sudah biasa kita dengar bisa saja termasuk hadits palsu ya?memang kita harus teliti dan lebih hati2… kemarin saya sangat tertegun membaca sederetan hadits2 tentang bulan sya’ban lengkap dengan status keshahihanya… astagfirullahal adhim…disitu dijeklaskan banyak sekali hadits2 palsu. beberapa di antaranya sudah sudah sering saya dengar.bahkan sering kita amalkan. semoga allah mengampuni dosa-dosa kita…dosa-dosa yang tidak kita sadari…

  2. memang berbahaya jika kita mengamalkan sesuatu hanya karena melihat kebiasaan orang banyak saja apalagi dalam hal ibadah jika tidak dibarengi dengan ilmunya. Kita diberikan akal pikiran untuk mencri tahu mana yang salah dan benar.
    semoga kita ermasuk orang-orang yang diberi petunjuk olehNya, amin…

  3. semestinya kita segera meminta maaf setiap kali berbuat salah dan khilaf, begitu Islam mengajarkan, tanpa harus menunggu datangnya Ramadhan ataupun lebaran. Namun demikian, tidak ada larangan menggunakan moment2 istimewa untuk saling memaafkan dan membebaskan diri dari kesalahan. Mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan, kekeliruan, kekhilafan dan kekurangan, besar ataupun kecil, sengaja atau tidak. Sungguh, tiada niat sedikitpun untuk menyakiti, menyinggung atau membuat orang lain tidak nyaman, tapi baginilah kami, hanyalah hamba yg lemah, tiada lepas dari salah, hamba yang dhoif, tiada luput dari khilaf. Mari sambut Ramadhan nan suci dg membersihkan hati. Niatkan diri untuk memanfaatkan ramadhan guna meningkatkan ibadah baik secara kualitas maupun kuantitas. Selamat menunaikan ibadah puasa, dan juga ibadah lainnya, semoga Allah menerimanya dan gelar Muttaqin benar-benar menjadi milik kita, amin.

  4. ehmm… alhamdulillah sejak kecil sampai sekarang indah tarawihnya ikut yg 11 rakaat..🙂
    mudah2an itu jalan yang benar dan dirahmati Allah..🙂
    amien…

    met puasa mas tunsaaaa..🙂

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s