Hayo, siapa yang punya utang puasa?

Postingan perdana setelah liburan yang amat menyenangkan sekaligus melelahkan. Teman-temanku, malam ini saya akan menyampaikan yang ringan-ringan aja, dan semoga bisa diambil manfaatnya. Puasa ramadhan adalah kewajiban kita sebagai umat muslim yang beriman dan tidak boleh di tinggalkan. Semua sudah diatur dalam kitab suci Alqur’an, yang insya Allah teman-temanku sudah biasa mendengar dan bahkan hafal ayatnya. Ngomong-ngomong, puasa kita sudah genap belum nich? apa ada yang masih hutang? Alhamdulillah, kalau saya sudah diganti tiga hari setelah idul fitri, dan lega rasanya. Nah, pastinya untuk wanita punya hutang kan?

Mari, kita berlomba – lomba dalam kebaikan. Mengingat di bulan syawal ini ada puasa sunnah yang pahalanya menggiurkan, siapa pingin?? pertanyaannya sekarang, mana yang harus kita dahulukan, melunasi hutang puasa kita atau puasa syawal dahulu?


Syaikh Bin Baz ditanya:

Saya tidak mampu puasa bulan Ramadhan disebabkan nifas, dan saya suci pada hari-hari ‘ied. Sedangkan saya memiliki keinginan yang kuat untuk melakukan puasa 6 hari bulan Syawal, maka apakah saya boleh melakukan puasa Syawwâl itu, kemudian saya mengqadha puasa Ramadhan atau tidak? Berilah penjelasan, semoga Allah memberi taufik dan kebaikan terhadap Anda.

Maka beliau menjawab:

Ya, disyariatkan engkau mendahulukan mengqadha puasa Ramadhan, karena sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ اتَّبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutkan puasa 6 hari bulan Syawwal, maka dia seperti puasa sepanjang masa.” (Dikeluarkan oleh Muslim dalamShahih-nya)

Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa puasa 6 hari dilakukan setelah puasa Ramadhân. Dengan demikian seseorang wajib bersegera mengqadha puasanya, walaupun dia tidak dapat meraih puasa 6 hari tersebut karena hadits yang telah disebutkan itu dan karena hukum yang wajib didahulukan atas yang sunnah. Allah-lah pemberi taufik.

(Dinukil dari فتاوى المرأة المسلمة كل ما يهم المرأة المسلمة في شؤون دينها ودنياها (Wanita Bertanya Ulama Menjawab, Kumpulan Fatwa tentang Wanita I), hal. 206-207, penyusun: Abu Malik Muhammad bin Hamid bin ‘Abdul Wahhab, penerjemah: Abu Najiyah Muhaimin, Penerbit: Penerbit An Najiyah Surakarta, cet. ke-1 Muharram 1427H/Februari 2006M, untuk http://akhwat.web.id)

Semoga dapat bermanfaat bagi kita, dan mudah-mudahan kita selalu dalam naungan keridhoaan-Nya. Semangat dalam menegakkan sunnah-sunnah Rasulullah adalah salah satu tanda bahwa kita cinta kepada beliau.

***

Saya juga mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum, belum terlambat kan? hehe…

Iklan

18 responses to “Hayo, siapa yang punya utang puasa?

  1. hehe,.jadi malu puasanya bolong… hehe tapi ada sebabnya waktu itu saya sakit demam tinggi, ingin saya paksakan utk puasa tapi tak kuasa…
    semoga bisa nutup yang bolong n ngejar puasa sunah syawal…
    salam. 🙂

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s