Journery

Hai…hai…hai…

Ketemu lagi, setelah beberapa waktu ini saya kurang begitu fit untuk menulis di rumah tercintaku dan sekarang alhamdulillah sudah agak baikan, baru mandi pula jadi tambah suegeer. 😆

Ngomong-ngomong, masih dalam suasana idul fitri nggak ya? Mohon maaf lahir batin buat temen-temenku yang baru mampir. Saya mau nulis tentang perjalanan mudik beberapa hari lalu, rencananya sich mau saya tulis sejak pertama kali datang, tapi apa daya tangan tak sampai (Hehe…lebay..). Mudik memang menjadi momen tahunan yang biasa dilakoni oleh orang – orang perantau kayak aye ini, meskipun sudah biasa janganlah kita lupa hati-hati. Kemarin sudah saya tulis tips tentang mudik, berdasarkan pengalamanku dan semoga bisa bermafaat.

Keberadaanku di kampung halaman ternyata lama juga ye kalau dipikir, hehe.. saya pulang tanggal 5 September 2010 hari minggu dan kembali tanggal 16 September, iya emang lama… Hmmmm, perjalanan yang melelahkan, yah memang sich saya nggak pulang dengan jalan kaki, tapi yakin meletihkan.

Pengennya sih naik mobil sebelah, sayangnya si mobil masih dalam mimpi, belum keluar. :mrgreen: Semoga mudik tahun depan bisa kesampaian deh, hehe. Waktu itu saya naik bis dengan judul “Pahala Kencana” yang tiketnya sudah saya beli jauh hari sebelum keberangkatan yaitu pada hari jumat pertama  bulan puasa. Kenapa saya pilih naik bis? karena ada beberapa faktor diantaranya adalah rute bis melalui jalur pantura, lebih dekat dengan desaku, sehingga tidak perlu pindah kendaraan setelah turun dari bis menuju rumah. Saya bandingkan dengan pesawat, saya harus pindah transportasi dulu setelah turun di bandara, sebab bandara terdekat dari kotaku berada di Semarang dan Yogyakarta yang membutuhkan waktu beberapa jam lagi agar sampai ke rumah. Itu pertimbangannya menurutku, dan yang tidak kalah penting adalah harga tiketnya yang selisih jauh, hihihi…kan lumayan, mending buat angpao di kampung daripada buat beli tiket pesawat.

Bis yang saya naiki cukup nyaman untuk ukuran orang yang baru pertama naik bis antar propinsi antar pulau seperti saya ini. Beda dengan bis yang saya biasa naiki ke Jakarta. Bis executif Pekalongan-Jakarta beda dengan Pekalongan-Denpasar, AC-nya lebih dingin yang Pekalongan-Denpasar, hehe… makanya ada selimut dan bantalnya. Pelayanannya juga lumayan bagus. Harga tiket ketika saya pulang dan kembalinya berbeda, tiket Pekalongan-Denpasar Rp 365.000 dan Denpasar-Pekalongan Rp 450.000 karena mungkin beda agen. Tapi di luar itu semuanya lancar, tidak ada kemacetan panjang, hanya antrian kecil saat hendak menyebrang.

Keadaan yang cukup berbeda saat masuk kota kelahiran, banyak perubahan yang luar biasa. Jalan-jalan banyak yang sudah diperbaiki, banyak juga yang sudah rusak kembali. Keadaan desa sudah lumayan maju, cukup ramai sekarang karena tiap kali lebaran memang banyak yang mudik. Sebagian besar pemuda Tunsa lebih banyak merantau, dan kebanyakan dari mereka berdagang di Ibukota. Alhasil, desaku penuh dengan manusia perantau, hehe… Dari semua perubahan itu, yang paling berkesan menurutku adalah perubahan sepupuku, dia yang dulunya suka usil sekarang ya, masih suka usil juga, hhihi…tapi bukan itu, sepupuku sekarang sudah punya anak laki-laki yang ndut dan nggemesin, rasanya baru kemarin kita bergurau tentang pernikahan, eh malah dia duluan yang sudah momong.

Ealah, mau bahas tentang perjalananku kok malah cerita yang lain.

Nah, akhirnya tanggal 16 pun tiba, dan saya harus kembali mengembara ke pulau seberang. Tiket bis yang sama sudah saya dapatkan dulu, karena saya nitip minta dibelikan tetangga sebelum hari raya dengan pertimbangan agar bisa kebagian tiket mengingat tiap lebaran mesti semua transportasi penuh. Dengan tenang saya berangkat dengan di antar oleh salah seorang sahabatku. Jarak dari rumah ke agen tiket bis Pahala Kencana cukup jauh, dengan menempuh 15 menit perjalanan memakai sepeda motor. Saya berangkat, mulai naik bis sekitar jam 22.00 Wib menempuh perjalanan ratusan mil. Alhamdulillahnya ibu membawakan bekal makanan kecil dan air minum untuk di makan saat perjalanan. Ibuku baik ya?

Huuufft…lamaaaaa sekali rasanya nggak sampai-sampai. Baru jam setengah 6 pagi nyampe Surabaya. Dikit lagi, tenang…dalam hatiku berbisik. Saya sempat pusing, kayaknya masuk angin makanya ingin segera sampai. Kan malu kalo sampe muntah di bis, hihihi…. teman-temanku sekalian, bis baru berhenti di daerah Situbondo untuk beristirahat sejenak, dan seluruh penumpang mendapat sarapan disana. 30 menit berlalu, sang sopir mulai memasuki bis begitu juga para penumpangnya, kami akhirnya melanjutkan perjalanan. 11.34 Wib bis memasuki Ketapang, pelabuhan penyebrangan di Banyuwangi, waaah 3-4 jam lagi sampai nih, senangnya…

Mulai memasuki kapal, saat itu gelombang air laut sangat besar sehingga menyebabkan kapal bergoyang kencang, saya juga ikut pusing, mana anginnya kenceng lagiii…dingiin, ngantuk, tambah mual…hampir saja muntah. Lebih dari satu jam perutku dikocok ombak, sampailah di tepi gilimanuk (Salah satu penyebrangan di Bali). Namun, perjuangan belum selesai masih 3 jam lebih sampai tujuan. Dengan sedikit ngantuk dengat dengut tak terasa saya liat salah satu papan nama di tepi jalan. Nama jalannya yang saya liat, sudah memasuki jalan Cokroaminoto, searah dengan terminal Ubung tempatku berlabuh nanti, oohh senengnyaaaa……

Jam 16.47 Wita, Pahala Kencana yang saya tumpangi masuk pintu Ubung, langsung deh saya nyari kamar kecil dan juga mushola. Ada juga mushola di Ubung, padahal temaku yang sudah bertahun-tahun di Bali juga belum tahu. Masuk sejenak untuk sholat, setelah itu duduk sambil sambil sms temen untuk minta di jemput, hihihi… Akhirnya yang ditunggupun datang, oh my friend lama tak jumpa…nggak lama langsung bonceng, dan 15 menit kemudian…

Assalamu’alaikum…. ahlan… maaf-maafan deh sama temen-temenku disini. Hmmm…melelahkan, tapi seneng, mual yang tadi berganti suka ria. Langsung aku naik, meletakkan tas dan barang yang ku bawa, merebahkan badan sebentar…

Udah deh The end**

Iklan

26 responses to “Journery

  1. mas ari, kenapa gak naek pesawat terus turun di jogja?
    kan nanti ais bisa minta traktir?
    😀

    hoohhh.. sakit flu nya kmaren gara – gara mabok naek bisa yah?
    hihihihihihihi…

  2. Welcome back, Ari.
    seneng ya bisa pulkam alias mudik. 🙂
    seneng baca cerita mudiknya Ari, bunda juga pernah naik kapal feri dr merak ke bakauheni, dan mabok laut, walaupun gak sampai muntah, tapi mual dan pusingya itu lho….. 😦
    salam

  3. Wah ternyata sama dengan Pendar Bintang yang merantau, he he he

    Dan pemikiran pemilihan transportasi juga sama, memilih Bus karena kalau naik pesawat (gak mahal banget sih selisih juga gak jauh-jauh amat) dari bandara masih butuh beberapa jam lagi, kenapa lagi kalau bukan gara-gar aLapindo, perjalanan yang seharusnya di tempuh paling lama 2 jam jadi bisa sampai 4-5 jam, capek dech!

    Mending Bus, langsung terminal nambah sejam nyampe rumah bisa peluk-peluk Bunda lagi, sisah uang bisa dibagi-bagiin ama adik-adik kecil, he he he

    Salam Hangat selalu yah!

  4. Enaknya yang mudik, Lebaran kemarin saya ga mudik.. hiks!
    Sejak Nenek ga ada, kurang seru Lebarannya, dan alhasil tidak lagi ke kampung… 😦

  5. wah gila perjalanannya ternyata capek banget yak kalo naik bis hehe.. tapi pasti seru dan berkesan 😀
    selamat beraktifitas kembali dan selamat berblogging ria lagi deh :mrgreen:

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s