Kampung Halaman Chapter. 1

Tempat terindah di dunia ini adalah kampung halamanku, menurutku. Desa tempat aku dilahirkan dan dibesarkan ayah bunda, tempat aku menghabiskan seluruh masa kecilku disana. Tunsa, desa yang sangat ku rindukan. Selamanya takkan ku tinggalkan kenangan-kenangan indah disana, kenangan waktu aku masih ingusan, nakal, sangat bandel, nggak bisa dinasihatin ibu. dan lain sebagainya. Beberapa waktu silam aku baru menengoknya, hanya beberapa hari disana. Desa yang begitu indahnya, sudah nampak berbeda dengan masa kecilku. Sekarang sudah banyak campur tangan manusia dalam penataannya,
sudah nggak natural lagi.

Hmmm…desaku memang top.

Pengen tau oleh-olehku dari sana? eiit, tapi jangan minta jajan ya? soalnya aku nggak bawa oleh-oleh jajan dari kampung. Padahal dalam angan sich ingin membawa sesuatu, namun waktu berjalan begitu cepat hingga aku baru tersadar saat hendak naik bis, hehe…akhirnya kagak jadi deh (Alesan kalee:mrgreen: ) Temen-temen tau nggak, apa makanan khas Pekalongan? Kalo yang sama-sama Pekalongan atau tetangganya pasti tau dnk. Udah ah, kalau dibahas terus jadi banyak yang pingin lagi..😆

Sepuluh hari kira-kira, aku berada di kampoeng halaman. Masih seperti yang dulu, namanya tetap Tunjungsari atau biasa dikenal dengan ‘tunsa’. Sebuah desa yang terletak di pedalaman Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Kampungku memang berada jauh dari pusat kota teman, tentu bisa dibayangkan. Tidak ada alat transportasi umum yang melewati tunsa. Makanya akses ke kota juga sulit, harus melalui padang sawah yang didampingi sungai sekitar satu setengah kilometer baru kita bisa menemukan alat transportasi umum, itupun bukan pusat kota lho. Nah, menuju ke kotanya masih belasan kilometer lagi, hihihi.. Jauh dari daerah pegunungan dan jauh pula dari pantai, tapi lebih dekat ke pantainya.

Sebagian warga tunsa mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Ada juga ibu-ibu yang bekerja sebagai buruh membatik tulis. Pekalongan kan terkenal dengan batiknya, jadi disana sudah biasa kalo ada orang mengenakan batik. Bahkan remaja putri di desaku sudah banyak yang ahli membatik tulis, adikku contohnya. Sejak lulus SD dia sudah bisa membatik, membantu ibu. Kan lumayan bisa dapet uang saku lebih, hehe… tapi kakaknya nggak bisa. Kehidupan wong ndeso emang sangat akrab dan ramah, mereka saling gotong royong, saling membantu diantara sesama. Tetangga satu dengan yang lain, sama-sama sudah seperti keluarga sendiri. Tidak seperti di kota kota besar, rumah-rumah disana berpagar tinggi, penghuninya pun disibukkan oleh pekerjaan, pergi pagi pulang petang hingga tak pernah tau siapa nama tetangga sebelah. Mmmmm…beruntungnya aku dilahirkan di desa yang penuh cinta damai.

Teman-teman, liburanku di kampung halaman idul fitri kemarin meninggalkan kenangan tersendiri, dan kebetulan di desaku waktu itu lagi musim kawin, hihi…banyak banget yang nikah, bahkan Kecamatan Siwalan mencatat  pada hari senin (13/09) ada 20 pasang pengantin yang melakukan akad nikah. Ref: KUA Siwalan. Itu baru satu kecamatan, belum lagi yang lain. Tapi bukan yang itu yang mau saya bahas, nanti malah jadi kepingin gimana hayoo.. di akhir liburanku kemarin, ada undangan untukku dalam acara silaturaahmi pemuda dan kebetulan sekali karena sudah lama aku tak berjumpa dengan kawan-kawan lamaku dulu. Acara dimulai sore hari sekitar jam setengah 4, setelah sholat ashar. Kebetulan juga acaranya diisi oleh salah seorang pemuda yang menurutku luar biasa dalam hal ilmu pengetahuan, dan yang lebih menggembirakan lagi, ternyata dia adalah orang asli Pekalongan.

Phiet H Khaidir namanya, beliau seorang jenius dari SD sampai pendidikan terakhirnya di Inggris pun mendapat predikat kumlout. Beliau lulusan terbaik salah satu universitas di Inggris, entah apa nama universitasnya, lupa. Bahkan teman sekelasnya orang Inggris, belajar di Inggris juga dikalahkan olehnya. Dan tidak hanya itu prestasi di dunia agama juga sangat bagus, Dia menjadi ketua perhimpunan orang muslim disana. Dia selalu menjadi pembicara dalam kajian-kajian islam dan membimbing warga Inggris yang baru masuk Islam. Subhanallah… Kalau temen-temen ada yang suka nonton berita di TV One, dalam acara Apa Kabar Indonesia pagi, pasti pernah melihat mas Phiet deh. Mas phiet selalu mempromosikan bangsa Indonesia di mata negara lain sebagai bangsa yang aman, dan tentram, tidak ada konflik. Salah satu sikap yang patut kita tiru.

Sesungguhnya banyak cerita tentang liburanku di kampung halaman. Tapi tidak mungkin bisa ku tuliskan semuanya disini karena keterbatasan ku juga. Sedihnya berlibur ke kampung sendiri, harusnya berlibur yang ideal itu dari kampung sendiri ke tempat luar yang belum kita jamah, menurutku. Hmmm….bagaimanapun juga, kampungku tetap menjadi tempat kembali yang mengasyikkan daripada yang lain.

Salam blogger, semoga sehat selalu.

40 responses to “Kampung Halaman Chapter. 1

  1. Sayang tidak ada foto, btw sudah bisa di tebak cowok memang paling susah dimintain oleh-oleh apalagi makanan…
    Bedah lagi dengan cewek (aku ni..:D)
    Satu koper penuh makanan karena aku memang cuma membawa tiga potong baju, belum lagi satu tentengan makanan lagi kalau nggak gt bisa di hajar orang sekantor kalau balik tanpa oleh-oleh😀

  2. oleh oleh..
    oleh – oleh nya mannah mas ari…
    ais gak minta makanan kok. minta nya batik pekalongan ajah.
    hehehehehe…

    Tapi bukan yang itu yang mau saya bahas, nanti malah jadi kepingin gimana hayoo..

    ngakak puas pas baca bagian itu
    *kabuuuurrr*
    😀

  3. kapan dong bunda bisa ikutan pulkam ketempatnya Ari?

    terus, Ari kapan dong ikut mengibarkan janur kuning utk pernikahan?
    katanya lagi musim di kampungmu ?🙂

    eh ya , bunda langsung jatuh cinta pd Mas Phiet, dgn kehebatannya mempromosikan negeri kita🙂
    salam

    • haduh…pertanyaannya banyak bnget bun,😆
      boleh kalo mau ikut ke rumah, tapi kampungnya masih pedalaman bun, jalannya blm aspal bgus, masih sering becek kalo ujan, hihi…
      kalo soal janur kuning mah, nanti bun, aku gak pake janur kuning ah…hehehe….tp emang di kampungku banyak nikah kalo hari raya idul fitri, hehe…

  4. Ping-balik: Kampung Halaman Chapt.2 « Tunsa·

  5. semenjak di jogja dan sekarang di surabaya jadi jarang pulang kampung.. paling banter 2 tahun sekali, itupun bukan pas lebaran karena biasanya lebaran liburnya cuma sebentar dan mepet..

  6. AR,PIYE KABARE????????????
    MAKSIH TRAKTIRANE DIPINGGIRAN ALUN ALUN (KAJEN )PEKALONGAN…
    PANCEN MAS PIET HAIDIR EMANG HEBAT,,,,,
    IBROHNYA ADALAH “MAN JADDA WUJIDA” YO PO?!!
    ALHAMDULILLAH AQ UDAH PUNYA LAPTOP N MODEMNYA , JADI SERING ON LINE N SILATURAHMI KITA BISA JADI LEBIH SERING BRO,
    GITU AJA DULU YA AKH,,,,ILLA LIQO, WASSALAM

  7. assalamualaikum,
    shobahul khoir akh.
    kaifa haluk.
    mga hari ni pahala kita lbih banyak dari pada dosa kita, amin.
    ane warai nggawe blog ra?!
    maklum ane kan wong ndeso,pake kmpter bisane cuma ngtik2 doang pdhal udah dolanan kmpter sejak tahun 1994tan,jaman SMP N 1 wiradesa, nang STM Joetex jga da pelajaran kmpter tpi wayah kwi durung usum internet jd ane jauh ketinggalan ma anak2 skarang…
    btw, airin punya blog pora?
    sampean biasane lego ngenet jam pironan ar?

  8. Ping-balik: Idul Alha di Bali « Tunsa·

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s