Curhat Rani

Rani dan Fara sahabat akrab, sejak SMP hingga sekarang mereka masih saja berdua kemana pun, bahkan Rani sering nginep di rumah Fara. Tapi malam ini gantian Fara yang nginep ke rumah Rani. Mereka sering curhat, sehingga satu sama lain sudah saling memahami. Kebetulan juga Fara dan Rani berada di kampus yang sama di daerah Jakarta Utara, hanya beda fakultas. Rani memilih fakultas kesehatan karena memang cita-citanya jadi sorang dokter. Sedangkan Fara kuliah bercita-cita menjadi seorang pengajar, terutama di bidang kimia. Meskipun berbeda jurusan mereka berdua sangat kompak, kemanapun kalau sudah ketemu, pasti deh nyerocos ngomongin apa aja yang jadi perbincangan, ala ibu-ibu, maklumlah wanita, hehe..Mereka sangat terbuka, tetapi sampai saat ini ada hal yang belum Fara tau dari Rani, yaitu tentang cowok. Entah kenapa Rani nggak pernah suka kalau membahas serius tentang cowok.
Dia paling nanggepinnya dengan becanda ketika Fara ngomong serius. Paling banter dia ngomong begini, “Pacaran? Ah, aku belum memikirkannya Far..”

Hingga pada malam itu, perbincangan masalah cowok pun terjadi lagi karena Fara masih sangat penasaran.

“Ran, Kenapa sich kamu? Yang naksir kan banyak? Tinggal kamu pilih aja kan?” si Fara ngomel karena kegemesan.

“Aku belum kepikiran, Far, lagian kamu tuh kenapa cii…udah punya cowok sendiri juga” sambil tersenyum dengan nada datar dan santai menanggapi si Fara.

“iiiihh, Rani…serius ni…kamu tuh di ajakin ngobrol soal cowok slalu deh gitu”

Diam, hening….Rani tetep saja melanjutkan aktifitasnya, entah apa yang dia corat coret di selembar kertas itu. Beberapa menit kemudian…

“Fara, sahabat terbaikku….aku juga serius kok, kamu aja tuh yang nyerocos mulu dari tadi. Aku cuma mau fokus kuliah aja dulu, biar nggak terganggu dengan adanya cowok gitu hani..”

“Tapi kan Ran….cowok nggak selalu bikin kita nggak fokus kuliah. Dia malah bisa ngasih support dikala kita lagi pusing banyak tugas kuliah, bisa bantuin kita saat bikin skripsi nanti, kayak aku ni contohnya”

“Fara cayankkk…kamu kan udah tau, kalau aku tuh orangnya nggak suka deket ama cowok, maluuu au…ada kamu juga udah bisa bikin support, cuma ya…nggak bisa bantuin tugas kuliah aja, hihihi….”

Fara ngomong serius, tapi Rani nanggepi dengan santainya…bikin si Fara tambah sebel sama Rani. Maklumlah, sudah bertahun-tahun mereka bersahabat, Fara belum bisa mengerti Rani soal cowok, alasan utamanya sich mau fokus sama ini lah, belum mau itu lah…banyak alasan.

“Fara, sini deh…aku tuh punya prinsip nggak mau pacaran dulu kalau belum bekerja, nanti malah merepotkan orang lain. Dan Aku juga nggak mau memberikan kesempatan kepada cowok sampai nembak Aku. Kamu harus ngerti donk, kita kan udah delapan tahun lebih sahabatan, masa kamu nggak tau. Dulu sich memang pernah naksir sama cowok di SMA, dulu itu lho, yang pernah ku ceritakan padamu. Tapi itu hanya perasaan kagum saja, mungkin aku ini bisa menerima kehadiran sosok pria setelah bekerja nanti, itupun langsung nikah aja biar nggak menjadi masalah.”

“o iya aku inget, dulu pas upacara bendera kamu berusaha baris di deketnya itu kan? Hihi…terus yang kamu maksud biar nggak jadi masalah, gimana?” Fara udah sedikit puas dengan cara Rani menanggapi percakapannya.

“Gini mbak Fara yang cerewet…kalo orang pacaran tu kan biasanya berduaan di tempat sunyi, gandengan tangan, peluk-pelukan saat naik motor bareng, dan masih banyak lagi hal hal serupa mbak, nah, iya kalo pas si cowok lagi baik, kalo pas syetan lewat, trus hasratnya naik gimana coba? Yang pasti, sebagai cewek si pria, kita tentu malah seneng kan…? Apalagi sama-sama kena syetan lewat. Kamu tau kan apa yang ku maksudkan?”

“Iya, juga katamu Ran. Tapi jangan kau samakan denganku lho. Cowokku kan bukan tipe seperti itu, kita juga jarang ketemu karena dia sibuk kerja diluar kota, untuk mempersiapkan pernikahan kita tahun depan, hehe..”

Rani nyaut, “Cie…yang mau nikah…iya Far, kalau kayak kamu sich nggak apa-apa, kamu kan langsung tunangan sama dia,” Fara tersenyum tersipu..

“Udah jam 12 lebih Ran, bobo yuuk, ngantuk”

“ciiiiieeee…mengalihkan pembicaraan, ya udah, ayuuukk…aku mau ke kamar mandi dulu bentar ya?”

To be continued…

29 responses to “Curhat Rani

  1. saya pacaran.. tapi boro2 peluk2an gandengan tangan.. ketemu juga mesti tunggu tahun depan itupun penuh aturan.. hehe.. semua orang punya pilihannya masing2.. termasuk memilih akan pacaran atau tidak.. dan akan pacaran seperti apa.. *saya penganut kebebasan bertanggung jawab sih mas..* :mrgreen:

  2. Ping-balik: Ini Memang Gila, Tapi Ini Cinta | Tunsa·

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s