Kampung Halaman Chapt.2

Pict.

Kampung Halaman Chapter.1

Liburan, pulang kampung, lebaran, campur aduk jadi satu, mungkin jadi bubur kalii ya? abis tu kasih ayam, biar jadi bubur ayam yang lezaaaat. :mrgreen: mmm…enaknya…

Satu tahun yang lalu diriku beranjak keluar kota, meninggalkan kenangan-kenangan indah saat itu di kampung halaman. Hingga baru tanggal 6 September 2010 aku kembali melangkah ke tempat itu. Ini dia rumahku teman-teman, nampak dari atas…yach, meskipun nggak keliatan dalemnya…

Rumahku terletak di pinggir jalan utama Tunsa, sehingga mudah mencarinya, tinggal nanya orang sekitar, pokoknya kalau sudah sampai di desaku, pasti semua kenal (soalnya banyak utang, hihi). Sebelah selatan ada taman kanak-kanak TK Bustanul Athfal Aisyiyah Tunjungsari, 100 meter ke selatan lagi terdapat balai desa Tunjungsari, lima puluh meternya ada SD Negeri Tunjungsari, tambah 200 meter ke selatan ada masjid Ash Sholihin, sehingga jangan khawatir kalau mau sholat, selain masjid ada juga Mushola di sebelah barat rumahku, sekitar 100 meteran. O iya, di samping jalan terdapat sungai yang mengikuti jalan utama Tunsa. Belakang rumah ada kebun yang luas, tapi bukan punyaku, punya tetangga :mrgreen: . Nah, jauh ke belakang lagi terdapat hamparan ladang padi yang menjadi tempat persembunyian ku di kala aku ingin menenangkan diri, karena disana sejuuk banget, apalagi kalau siang hari, bikin ngantuk deh pokoknya. Depan rumah ada pohon mangga juga lho? kalau ada yang mau mampir boleh kok di petik, hihi…bagi yang suka kelapa muda bisa juga, di kebun belakang banyak. Udah kebayang belum? itu sedikit gambaran letak geografis gubuk tercinta.

Keberadaan desa memang sungguh sangat luar biasa, betapa banyak orang kota yang menginginkan tinggal di desa. Mata ini akan lebih terjaga di desa, pemandangan yang hijau, menyejukkan mata. Meskipun bukan daerah pegunungan, namun pohon – pohon rindang masih banyak yang kokoh berdiri. Sikap tolong menolongpun masih sangat kental.

Ada sesuatu yang berbeda denganku, menurut para tetangga. Setelah hampir setahun kurang dikit pemuda lugu nan tampan ini mengembara, kini mereka (tetangga) merasa ada perbedaan dari Ari yang dulu dengan Ari yang sekarang, 😆 . Hahaha…hayo, apa coba yang beda?? Aku sekarang menjadi pemuda yang kontroversial di kalangan rakyat Tunsa, cie ilaaahhhh….lari-lari di tempat. Masalahnya adalah tampangku, hihi…(Mungkin mereka kira aku tambah jelek, padahal kan tambah cakep) Wajah yang berseri ini menjadi perhatian banyak orang karena sekarang sudah tumbuh jenggot. Katanya aku ini teroris, hiiii, seremmmm…. Pemuda tampan ini di bilang teroris katanya. Haduuh, sekalian aku mau jumpa pers, untuk membersihkan nama baikku, hehe… Bahwa sesungguhnya saya nyatakan, saya ini bukan teroris, bersih lahir batin, dan pernyataan ini adalah yang sebenar-benarnya, tanpa ada pihak lain yang memaksa. (titik) Selamanya tak kan menjadi teroris!

Tidak semuanya orang yang berjenggot panjang itu teroris, salah besar jika mengatakan semua orang yang bercelana di atas mata kaki itu teroris. Hanya ada pihak – pihak tertentu yang sebenarnya ingin menggerogoti agama suci ini dengan menyebar teror di jagat Indonesia ini khususnya, dengan memakai label Islam. Mereka yang pemahaman agamanya salah yang melakukan banyak teror di negeri ini, bahkan sampai menghalalkan segala cara. Wah, malah ngomong serius, bisa dibaca sendiri aja selengkapnya disini ya? jangan lupa, agar pemahaman tentang Islam, dan jihad menjadi lurus dan benar.

Meraih Kemuliaan Melalui Jihad Bukan Kenistaan

Nah, begitu ceritanya, aku ini memang suka dengan jenggot, suka dengan memakai pakaian muslim, suka dengan berpenampilan Islam, karena itu memang yang membedakan muslim dengan yang lain dari penampilan luar, tapi harus tetap saling menghormati. Banyak yang menentang tapi ada juga yang mendukung penampilan gaya ku banget ini, hehe….terutama yang paling mendukung Orang Tua donk, yang tak berkomentar masalah ini. Budhe ku juga suka katanya dengan aku sekarang, katanya persis seperti pakdhe ku, hehe… Temen-temenku yang lain juga banyak yang sama, hihi…yang penting kan nggak merepotkan orang lain, juga nggak jadi tambah banyak makan karena emang aku sudah banyak makan.

Namanya juga orang hidup, mesti ada banyak masalah dan tantangan kehidupan, ada yang baik, tentu ada yang jahat, ada yang setuju pasti ada yang nggak setuju juga, ada yang berwarna, ada yang hanya kelam. Kalau tidak begitu, namanya bukan manusia, nggak pernah salah. Bukan berarti juga mau menang sendiri, maunya harus benar sendiri, hehe…

[Kampung Halaman] Bersambung lagi ya…

Salam, semoga sehat selalu.

Iklan

17 responses to “Kampung Halaman Chapt.2

  1. Ping-balik: Kampung Halaman Chapt.2 « Tunsa - Kumpulan Cerpen·

  2. mas ari, pas kumpul lebaran kemaren juga adek aku diledekin habis – habisan soal jenggotnya. tapi dia enjoy aja.

    dan ya.. gak selamanya kan yang berpenampilan kek gitu itu teroris.

    kalimat terakhirnya itu loh.. teteuuupp.. mau bener sendiri
    huuuuuhhh…

    *ngaciir*

  3. krn banyak DPO teroris yg berjenggot, lantas orang sepertinya mulai ‘alergi’ dgn penampilan orang berjenggot ya Ari.
    anak sulung bunda yg laki2 juga berjenggot, dan dia cuek aja dgn tanggapan orang lain, yg penting gak menyusahkan orang lain, dan gak sombong 🙂
    ngomong2 , bunda kebayang indah banget ya kampung halamanmu Ari, tergambar dr tulisan diatas 🙂
    salam

  4. He he he he he

    Perutku mules,mule Ari…ha ha haha h aha

    berulang-ulang muji diri sendiri cakep, iya dech..siapa tahu dengan setuju bilang Ari cakep ntar lo mudik lagi aku dibawain oleh-oleh 😛

    *nyindir*

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s