Kampung Halaman Chapt.3

Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan

Bismillah,

Tulisan sebelumnya tentang Kampung Halaman:

Kampung Halaman Chapter 1

Kampung Halaman Chapter 2

Ya, saya sangat bangga menjadi orang desa dan sangat bahagia menjadi orang biasa. Seperti yang temen-temen sudah ketahui setelah membaca kampung halamanku, desaku pelosok dan susah di jangkau transportasi umum. Hehe…Banyak orang yang tidak suka tinggal di desa karena katanya ketinggalan jaman (Kayak si doel anak betawi, hehe), akan tetapi banyak pula orang kota yang ingin menikmati suasana pedesaan. Naah, macem-macem kan persepsi orang,
saya kembali mau bercerita tentang kampung halaman, kayaknya masih banyak yang perlu diungkap deh, sekaligus promosi gituhh,😆

Tulisan kali ini akan sedikit melabar sampai tingkatan yang lebih tinggi daripada Desa dan Kecamatan. Pekalongan mempunyai dua wilayah,  yaitu Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan (Desa tempat tinggalku terletak di Kabupaten Pekalongannya bukan Kotamadya Pekalongan atau biasa disebut Kota Pekalongan). Perbedaan sederhananya, kalau kabupaten itu dipimpin oleh Bupati, sedangkan Kotamadya pemimpinnya disebut Walikota. Karena sama-sama Pekalongan, maka tidak  sedikit persamaan dari keduanya, tapi juga banyak perbedaannya.

Saya awali dari Kota Pekalongan..

Logo

Dengan luas wilayah 17,55 km² dan Jumlah Penduduk 272.000 (2003), Kepadatan 15.499 jiwa/km², Kecamatan ada 4, Desa/kelurahan 4, itu secara geografisnya. Kota Pekalongan mempunyai motto BATIK (Bersih, Aman, Tertib, Indah, Komunikatif). Sesuai mottonya, icon batik Pekalongan itu sebenarnya berasal dari situ. Memang Kota Pekalongan sebagian besar mata pencahariannya seputar batik. Bahkan saya pernah ikut seminar yang di hadiri bapak wakil walikota saat itu (tahun 2007), dan beliau mengatakan:

“Perekonomian Kota Pekalongan ini bisa diketahui dari warna air di sungai, jika warnanya jernih itu artinya Kota Pekalongan sedang ada penurunan masalah ekonominya, tapi sebaliknya air sungai yang keruh malah perekonomian Kota jadi naik”

Itu maksudnya, karena limbah produksi batik meningkat jadi sungainya menjadi keruh, artinya perekonomian lancar. Dan sebaliknya jika perekonomian Kota dalam masalah, air akan semakin jernih, hehe…aneh. Sebagian daerah di Kota Pekalongan sudah banyak yang tercemar limbah produksi batik, apalagi di tempat-tempat pusatnya produksi batik. Bahkan, di rumah pak dhe ku, air sumurnya sampai keruh. Wilayah Kota Pekalongan sebagian besar adalah daerah dataran rendah, berbeda dengan Kabupaten Pekalongan. O iya lupa, Kota ini dipimpin oleh bapak walikota dr. H. Muhammad Basyir Achmad (2010-2015), biar lebih jelasnya bisa lihat situs web resmi Kota Pekalongan.

Walikota dan Wakilnya

Ini gambar peta Pekalongan, saya sampaikan secara singkat saja ya?

Selesai pembahasan dari Kota Pekalongan.

Gantian saya bahas kota kelahiran, kalau yang kabupaten serahkan saja padaku, karena saya lebih mengetahui seluk beluk kabupaten Pekalongan daripada Kota Pekalongan.

Kabupaten Pekalongan.

Kabupaten Pekalongan terdiri atas 19 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 270 desa dan 13 kelurahan. Termasuk Siwalan, nama Kecamatan desa Tunsa (Tunjungsari), tempat tinggalku. Kabupaten Pekalongan pusat pemerintahannya berada di Kajen, kota yang terletak sekitar 25 kilometer ke selatan dari Kota Pekalongan. Kajen, merupakan kota kecamatan yang telah dikembangkan menjadi ibukota kabupaten yang baru, menggantikan Pusat Pemerintahan Kabupaten Pekalongan sebelumnya yang berlokasi di Jl. Nusantara Nomor 1 Kota Pekalongan. Kepindahan Ibukota Kabupaten Pekalongan ke Kajen, dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2001 (sumber: wikipedia). Temen-temen bisa melihat lebih detai di situs resminya.

Memiliki motto yang berbeda dengan kota Pekalongan, Kab. Pekalongan ini berslogan SANTRI (Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapi, Indah), makanya banyak santrinya di Kab. Pekalongan. Dan sebagian besar mata pencaharian masyarakat setempat adalah pertanian. Meskipun batiknya juga banyak, namun tak sebanyak Kota Pekalongan.

Bupati Pekalongan

Nama Bupati Pekalongan Dra. Hj. Siti Qomariyah, MA dan Ir.H.Wahyudi Ponconugroho, MT sebagai wakilnya. Beliau terpilih menjadi bupati pada pilkada lalu, sebelum saya lulus sekolah, tahunnya lupa.

Logo Kab. Pekalongan

Peta Kab. Pekalongan

Letak wilayahnya melintang ke Utara-Selatan, di lalui Jalur pantura, dan sebagian besar wilayah pegunungan. Kajen sendiri terletak di daerah pegunungan, tapi masih lumayan panas. Banyak terdapat daerah pariwisata di gunung, salah satu yang terkenal adalah linggo asri, kebun binatang di daerah pegunungan ini tempatnya sangat asyiik. Pariwisata lain masih banyak lagi seperti air terjun, pantai, dan lain-lain. Di banding Kotamadya, Kab. Pekalongan lebih luas daerah pegunungannya, sehingga banyak terdapat tempat wisata yang ada di pegunungan, pokoknya bagus bagus deh. Berhubung saya sekolahnya di daerah Kajen, yang deket pegunungan jadi saya agak tau daerah sana. Temen-temen sekolah dulu juga banyak yang dari daerah pelosok di pegunungan.

Wah, kayaknya masih banyak lagi deh tempat wisatanya.

Mmmm… dari sekian banyak keindahan alam Pekalongan, yang paling dikenal orang justru bukan dari alamnya, tapi ‘Batik’nya. Batik, memang ada ciri khasnya sendiri-sendiri tiap daerah. Ada batik cirebon, batik solo, dan batik-batik lain yang masing-masing berbeda. Saya sendiri kurang tau perbedaan antar daerah. Yang saya tahu batik itu ada dua jenis, yaitu batik dengan menggunakan tangan (Batik Tulis) dan batik yang sudah ada cetakannya, maksudnya batik cap. Jadi batik cap ini pembuatannya relatif lebih cepat. Batik tulis adalah batik yang pembuatannya dengan cara seperti menulis, memakai beberapa perlengkapannya. Batik ini lah yang berharga jual tinggi, sebab pembuatannya lebih lama.

Perlengkapan Pembuatan Batik Tulis

Pembatik Tradisional

Itu dia orang yang sedang membuat batik tulis. Seperti yang sudah pernah ku tulis, bahwa batik ini sudah sangat familiar sekali dengan masyarakat Pekalongan, bahkan anak SD pun sudah bisa membantu orang tuanya membatik, sampai nenek nenek sekalipun juga masih kuat membatik. Biasanya membatik tulis ada yang dilakukan berramai ramai dan ada juga yang melakukannya sendiri di rumah masing-masing, ada juga yang satu keluarga kegiatannya membatik. Bahkan ni ya? jaman dulu, waktu aku masih kecil, laki-laki juga sering membatik, contohnya pak dhe ku. Beliau dulu pekerjaannya membuat batik tulis sebelum akhirnya mengembara ke Tangerang.

Wuiihh, capek juga bikin tulisan ni…masih banyak lagi kawan, nanti ku ceritakan lebih lanjut. Bagi warga Pekalongan dan sekitarnya mungkin sudah bosen liat tulisan seperti punyaku ini.

Salam..

15 responses to “Kampung Halaman Chapt.3

  1. duh, tulisan yg lengkap sekali, jadi senang bacanya, informasinya betul2 detail.
    terimakasih ya Ari krn telah berbagi cerita .
    walaupun blm pernah ke pekalongan, tapi bunda punya beberapa batiknya🙂
    salam

  2. Laporan dari TUNSA kita tercinta akh,
    Mudhohi masjid Ash Sholihin th 1431 H ada 38 orang meningkat dibandingkan dengan idul adha 1430 H sebanyak 33 Mudhohi,
    dengan perincian 5 ekor kerbau dan 4 kambing.
    Alhamdulillah tahun ni kalo ndak kelewat hampir 100 % warga tunsa mendapat jatah 0,5 Kg daging.
    ada sekitar 900 bungkus,
    Btw,aq sndri yang nganter ke rumahmu,
    semoga amal para mudhohi ditrima dening Allah ta’ala,amin,,,
    see you,,,,,
    wassalam

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s