Gendut Jelek Miskin

Udah gendut…Jelek…Miskin lagi…lengkap sudah penderitaan yang ku rasakan setiap waktu. Nampaknya hampir semua orang yang memandangku beranggapan demikian. Penderitaan yang sampai kini kurasakan tiada berujung, entah kapan…sampai kapan ejekan temen-temenku akan berhenti. Sampai-sampai aku jenuh hidup di dunia ini, tak ada yang mau berteman denganku. Tak pernah kubayangkan wanita mendekatiku, bahkan tetanggaku pun acuh denganku. Aku mau kemanaaaaaaaaaaaaa………..

Badanku gendut, item, wajahnya jelek, banyak jerawat dimana-mana. Ditambah, otakku pas-pasan, bahkan sampai-sampai dikelas, aku dapat nilai yang paling jelek. Ya, memang kedua orang tuaku tak punya, mereka hanya bekerja jika ada orang lain yang membutuhkan tenaga orang tuaku. Sehingga, tak mesti tiap hari mereka dapat bekerja. Dan Aku, aku dapat sekolah yang banyak beasiswa bagi orang tak mampu. Sebenarnya aku bisa, cuma tekanan dan ejekan dari temen-temenku yang membuat kepala ini seolah-olah berisi teriakan mereka. Tak banyak yang bisa ku lakukan, bergaul saja aku tak bisa. Sering rasanya ikut berkumpul bersama orang lain, namun sayang sudah tentu mereka akan mentertawakanku. Tak bisa, aku hanya bisa melihat dari kejauhan, melihat betapa senangnya menjadi mereka, semua serba ada dan banyak teman pula.

Malam ini kupejamkan mata, dengan terpaksa. Entah apa lagi kejadian esok yang akan menimpaku. Setiap aku bermimpi, pasti banyak orang-orang sedang mengerumuniku, dan mereka semua menyalahkanku. Bahkan mimpi saja, tak ada yang bisa ku jadikan selingan. Hmm…pagi sudah menjelang, tapi perasaanku pagi ini lumayan agak tenang, setelah semalaman air mataku bercucuran deras. Memandang awan di langit, putih…sejuk, nampaknya enak tinggal disana, tak ada yang menyakitiku, bebas. Tak lama berselang, aku tersadar ternyata lima menit lagi bel sekolah berbunyi. Agenda klasik pun aku rasakan kembali, sambil mandi rasa ketakutanku datang kembali. Rasa yang tak pernah bisa ku rasa, hampa terasa. Ketakutan yang sangat menghantuiku, ejekan dan celaan dari semua temen-temen sekolahku.

Teng…teng…teng…

Bel sekolah akhirnya berbunyi, pertanda pulang. Hari ini, kulewati dengan menutup telinga. Aku cuekin mereka yang berpapasan tadi. Beberapa langkah melewati tikungan jalan depan sekolahku, aku terhenti sejenak. Langkah cepatku, melambat. Terlihat sesosok orang, dia kurus, kusut, rambutnya acak-acakan, item kulitnya tempak seperti terbakar terik matahari. Tapi dia kliatan ceria sekali bermain dengan teman-temannya. Ku pikir, ini kesempatan baik untuk mendapatkan teman. Pasti dia mau berteman denganku, karena kita sama-sama jelek dan orang miskin, dalam hatiku bergumam. Belum ada keberanian untuk mendekat, aku mengintai dari kejauhan, dengan masih mengenakan seragam putih merah. Ku amati dengan seksama sampai dia masuk rumahnya yang jelek itu. Tak ada raut wajah yang murung sedikitpun darinya.

Sudah masuk rumah, namun aku masih berdiri dalam intaian, tidak jauh dari rumahnya. Beberapa menit kemudian, dia keluar lagi seolah sedang menuju ke suatu tempat, ke arahku. Rupanya dia telah tau, aku mengintainya. Tiba-tiba, “Ayo masuk ke rumahku” dengan bangganya dia berkata seperti itu, tak ada rasa malu sedikitpun karena rumahnya jelek dan sangat sempit. Dia seolah telah mengenalku lama, tak ada rasa canggung terhadapku, wajah yang selalu ceria. Aku ternganga karenanya…

Bersambung….

Berhubung sudah malam dan banyak agenda menantiku, cerita ini akan ku lanjutkan esok hari, dan kisah ini ku terbitkan dahulu…hehe…

salam

Iklan

22 responses to “Gendut Jelek Miskin

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s