Lanjutan; Gendut Jelek Miskin

Lanjutan…

“Namaku Ihsan, kamu?”

“a..a…aku, namaku Ari

“Ayo, masuk ke rumah…pasti kamu belum makan siang kan? ibuku sudah menyiapkan makanan untuk kita” sambil menarik tanganku, menuju ke dalam rumah reot itu. Tak banyak kata yang terucap, aku manut saja mengikuti ajakan Ihsan. Sambil melamun, entah apa yang ku pikirkan saat itu, yang jelas tak ada bayangan ejekan dari temen-temen sekolah lagi. Yang ada perasaan senang, bercampur tegang. Ah…nggak tau kenapa aku ini.

“emmm…Ihsan, sebentar. Kenapa kamu langsung mengajakku masuk ke dalam? padahal kan kita nggak saling kenal. Apa kamu tak takut kalau kalau aku mengejekmu?”

“Udah…ayo masuk dulu, nanti kita ngobrol lagi, kamu jangan malu-malu ya?”

Setelah beberapa lama berada di rumahnya, kami sudah tak canggung lagi untuk ngobrol, laksana sudah berteman tahunan. Mengamati sisi ruangan yang ada di rumahnya, sederhana, walaupun sempit tapi rapi. Jika nampak dari luar, memang kelihatan sangat kumuh, sebab bagian depan yang sudah rapuh dimakan usia, lapuk dan banyak tembelan dari plastik untuk menutupi atapnya agar terlindung dari hujan dan terik matahari. Sejenak melamun, ternyata masih ada juga yang lebih jelek daripada aku. Betapa bodohnya, aku ini..rumahku memang sempit tapi masih mending daripada rumah Ihsan, yang beratapkan daun dan tembelan plastik.

“Ihsan, bapakmu kemana? dari tadi kok nggak kelihatan? yang ada cuma Ibu, dan seorang adikmu yang masih kecil?”

“Oh, Bapakku sudah lama meninggal, ketika aku baru bisa jalan, meskipun waktu itu aku masih kecil, namun aku masih ingat wajah bapakku yang gagah dan pemberani itu, beliau sangat menyayangi kami, ibu dan aku, waktu itu ibu sedang mengandung adik. Kami juga menyayangi bapak.”

“Eh, tadi Ari mau ngomong apa? jadi malah aku yang ngobrol terus, hehe”

Tawanya riang, seperti tak kenal sedih dalam keluarga.

“O iya, sampai lupa San. Hmmm… (menghela nafas), sampai lupa, gara-gara ngobrol denganmu. Sebenarnya, aku penasaran denganmu saat melihat kamu bermain tadi, nampaknya mereka sangat akrab denganmu. Apa kamu tidak malu berteman dengan mereka? mereka kan anak-anak kampung sebelah yang kaya kaya”

“Oh itu..mereka sudah lama berteman denganku, saat kelas 1 aku mengenal mereka. Mereka baik-baik kok…bahkan ada yang selalu menolongku, membantu Ibu jualan.”

“Maksudnya, emang mereka nggak mengejekmu San? mengejek karena kamu miskin atau apa gitu?”

“Pertama kali aku masuk sekolah sich mereka mengejekku habis-habisan, sampai Ibu tak tega melihatku terus – terusan di ejek. Tapi aku selalu cuek, dan tetap saja mendekati mereka. Aku selalu riang bersama orang-orang sekitar. Lama kelamaan, mereka juga baik kok. Mereka sebenarnya baik, cuma mungkin karena mereka biasa hidup mewah, semua serba ada, jadi mereka agak manja”

“Kamu sekolah dimana sich, bisa menemukan teman-teman baik seperti mereka? Sebenarnya, aku juga baru melihat kamu di tikungan Kutaraja tadi sepulang sekolah. Biasanya aku nggak lewat situ, karena aku malas lewat jalan yang bisa. Bertemu dengan anak-anak yang sombong.”

Tiba tiba terdengar suara teriakan dari luar,

“Ihsan…Ihsan…katanya mau main?”

Ihsan langsung beranjak keluar, aku pun ikut serta.

“Hai, Rico..sini masuk dulu sebentar. Ada temen baru, ku perkenalkan” Ihsan langsung menyapa Rico, anak tetangga desa yang tempatnya tidak jauh dari rumah Ihsan.

Kami duduk bertiga di dalam rumah Ihsan, Ihsan memperkenalkanku kepada Rico. Aku yang tadinya banyak ngobrol dengan Ihsan, jadi lebih pasif. Ada Rico, membuat pertanyaanku kepada Ihsan belum terjawab. Aku malu, lagi lagi rasa malu dan minder itupun datang kembali. Sesekali Rico mengajakku ngobrol dan ku jawab dengan singkat.

“Eh, San…Mainnya kita batalin dulu aja ya? Kamu kan masih ada tamu, temen baru. Gak apa apa kan? kalau gitu aku pamit aja ya? tadi bilang sama ibu nggak lama-lama mainnya. Ari, Ihsan, Rico pulang yah?”

“Iya Ric, hati – hati ya? Salam buat ayah Ibumu juga” Ihsan, mengantar Rico sampai pintu rumahnya.

“San, aku juga mau pulang dulu ya? aku sungguh senang bertemu denganmu, aku akan sangat senang jika kamu mau berteman denganku seterusnya. Aku tak pernah bertemu dengan orang selain kamu sesenang ini. Tak ada lagi yang bisa ku ajak ngobrol selainmu. Ibuku di rumah juga tak sempat memperhatikanku, karena setiap hari bapak ibuku berjualan keliling, aku sendirian di rumah, setiap hari ku lalui dengan kesedihan. Ihsan, bertemanlah dengaku”

“Iya, Ri..aku tak pernah mempedulikan siapa orang yang dekat denganku, selama aku berbuat baik, pasti tidak akan jadi masalah. Aku juga senang bertemu denganmu, dan kita akan tetap berteman. Pulanglah, sudah sore pula. Besok Kita main-main lagi bersama teman-temanku yang lain. Jangan lagi bersedih ya? Meskipun tak ada orang tuamu di rumah.”

“Makasih San, kapan-kapan gantian kamu main ke tempatku ya?” teriakku menjauh dari rumah Ihsan.

Hmmm…leganya..Hari ini Indah, hari yang begitu indah, saat ini Indah, dan akan selalu tetap indah…Gumamku dalam hati menuju ke rumah. Rasanya senang, bahagia, punya teman seperti Ihsan. Ku lewati sebagian hari ini dengan perasaan yang beda dari biasanya. Aku memang sudah kelas 5, tapi baru hari ini ku rasakan indahnya. Baru kali ini aku senang, akan ku bawa hingga tidur, dan mudah-mudahan keindahan hari ini akan sampai esok hari dan seterusnya.

 

 

31 responses to “Lanjutan; Gendut Jelek Miskin

  1. Jangan minder dan selalu merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung dan sendirian.
    jangan melihat kelebihan orang lain untuk merendahkan diri kita, tapi lihatlah orang lain untuk memotivasi diri kita.

  2. hehe…spt masa kecilku, minder-an

    tp sejak SMP kelas 2, yang terjadi malah sebaliknya
    Maha Besar Allah Yang Maha Membolak-balikkan Hati, juga mudah sekali mengubah karakter maupun nasib seseorang

    🙂

  3. Hebat juga ingatan Ihsan akan alm. Bapaknya.
    Ohya, bagi saya, hati adalah terpenting. Entah mau dibalut dengan body yang seperti apa, hati tetap yg utama;

  4. suka ini

    selama aku berbuat baik, pasti tidak akan jadi masalah

    suasana hati dan kebahagiaan hati, sbnrnya kita sendiri yg memilih..
    segala sesuatunya akan indah jika memandang dr sudut pandang yg indah..

    btw, sy kira cerita nyata *sigh*

  5. Assalaamu’alaikum Ari…

    Kisah lanjutannya cukup menarik untuk kita ambil iktibar. Sebaiknya, menerima seseorang dengan seada yang ada padanya tanpa apa-apa syarat. manusia ini sama sahaja kedudukannya di muka bumi ini yang membedakannya di sisi Allah adalah takwanya.

    Sahabat sejati adalah orang yang dapat berkata benar denganmu. Bukan orang yang membenarkan kata-katamu.

    Saya sangat terkesan dengan kebaikan Ihsan dan kecekalannya dalam bersahabat walau pada awalnya dipandang hina oleh orang lain. Jadikan dia sahabat yang dapat membina kemanusiaanmu sebagai insan yang berhati mulia.

    Salam mesra dari saya di Sarawak. 😀

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s