Part.2 : Sosok

Hmm…suasana yang nyaman dan kondusif. Tahukah kalian, betapa bahagianya aku saat ini bersama dengan orang yang paling dekat denganku di perantauan. Kedekatan dan persahabatan kami ini bukan tidak pernah dihinggapi masalah. Jadi teringat masa lalu, ketika baru beberapa minggu mengontrak di rumah ini. Joko dan Hasan yang saat itu juga baru diterima kerja. Mereka saling bermusuhan gara-gara hal sepele. Begitu juga denganku, aku tidak bisa menahan marah ketika mereka semua menjahiliku. Walaupun aku tau mereka tidak bermaksud melukai perasaanku, tapi mereka tidak tau hal yang menjadi candaan itu membuat masa-masa sedihku teringat kembali.

Kami dan Pak Tono juga demikian. Dulu pak Tono sempat kesal terhadap kami yang biasanya sering mengganggu Tini dan Ani, kami memang jahil tapi itu semua hanya gurauan belaka. Namun sekali lagi, pak Tono menanggapinya dari sudut pandang yang berbeda. Yah, warna-warni seperti itu memang sering terjadi pada orang-orang terdekat karena seringnya berinteraksi. Alhamdulillah, karena itu pula kami bertambah rasa kekeluargaan, sehingga bisa saling mengerti satu dan yang lain.

Lucu juga kalau diingat-ingat tentang masa lalu, masa saat kami bermusuhan, bertengkar, bahkan membenci sementara. Tak bisa terlupakan, kadang-kadang ketika sedang kumpul bersama dan kami membicarakan masalah itu, semua tertawa dan ada yang merah muka karena malu atas ulahnya saat itu. Kadang-kadang kehidupan ini harus ada pertengkaran kecil, kadang juga perselisihan. Agar hidup terasa nyaman. Kita harus berfikir positif, coba bayangkan bila hidup ini datar, pasti rasanya ada yang kurang dan tidak bermakna hidup kita ini. Namun demikian, jangan terus kita mencari masalah dengan alasan supaya hidup penuh warna. Yang dicari kan kehidupan tentram, aman, damai dan sejahtera, bukan malah sebaliknya.

Oh iya, saya jadi lupa..

Sebagaimana yang sudah anda ketahui, pak Tono adalah kepala desa yang baik hati. Beliau sekarang telah menikmati satu tahun masa jabatannya. Pak Tono tau apa yang dirasakan oleh warganya, sehingga beliau sangat disukai oleh masyarakat desa. Beliau sekarang selain sibuk akan pekerjaannya juga sibuk dengan persiapan pernikahan putri pertamanya, Ani. Baru semester 4, tapi sudah ada yang melamarnya. Pak Tono tidak seperti kebanyakan orang, yang mentargetkan standart orang yang akan menikahi putrinya. Yang penting beliau tau asal usul dan latar belakang pemuda tersebut.

Kalau dia baik dan bertanggung jawab menjaga putrinya, maka pemuda itu pasti disetujuinya. Ani sendiri anak yang taat kepada kedua orang tuanya. Bukan karena takut akan ayahandanya, tapi hanya karena dia sayang kepada kedua orang tuanya. Pak Tono punya prinsip, seorang wanita yang sudah beranjak dewasa akan dia nikahkan demi menjaga si anak sendiri. Tidak selamanya pak Tono bisa mengawasi putrinya selalu, kalau sudah dinikahkan kan tinggal suami yang bertanggung jawab penuh. Kebetulan pemuda yang akan menikahi gadis berparas cantik itu adalah pemuda satu kampungnya. Dia sosok orang yang bertanggung jawab sesuai seperti apa yang diharapkan pak Tono. Meskipun satu desa dengan Ani, pemuda ini belum mengenal jauh si Ani. Sebab, dia sudah merantau sejak lulus dari SMK. Kuliah dan bekerja sendiri, di Jakarta.

Kronologis pertemuan mereka berawal dari kegiatan sosial dari kampusnya yang bergabung dengan kampus Ani. Hardi namanya, sesosok pria gagah nan pemalu itu juga aktif kegiatan sosial. Hardi juga ditunjuk sebagai ketua senat di kampusnya. Dia pemalu, tapi bukan rendah diri, namun malu saat bertatap muka dengan wanita. Sehingga setiap pertemuan yang diadakan dengan wanita, pandangannya selalu menunduk. Orang tua Hardi cukup kaya, semua itu tak membuatnya menjadi anak manja dan pemalas, bahkan biaya kuliahnya sendiri dia dapatkan dari jerih payahnya bekerja sebagai seorang jurnalis di salah satu media cetak tersohor kawasan Jakarta.

Ani dan Hardi akan melangsungkan pernikahannya secara sederhana dengan mengundang teman-teman dekat mereka. Tempatnya di rumah mempelai putri, tempat bapak Tono. Saya, Joko, dan Hasan, ditunjuk sebagai pelaksana acara. Ini kali pertamanya kami bertiga membuat konsep acara pernikahan. Agak deg-degan juga sich seperti yang punya hajat saja ya? Hehe…

***

Yang belum baca cerita sebelumnya bisa klik di sini

Kapan-kapan lanjut ya?  😉

31 responses to “Part.2 : Sosok

  1. indah sekali tulisan ini,
    setelah membacanya sy jadi mendapatkan satu hal yang amat berharga..
    thanks tunsa 🙂

  2. tahun depan gantian jadi EO kawin masasal,
    ketuane kang ari,
    peserta pertama kang ari jga,
    nanti ane ngikut,,,
    kaifa akhi?

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s