Kemarin Nyepi, Sekarang Ngrame

Nyepi adalah salah satu hari yang dijadikan tanggal libur nasional. Selama ini apakah para sahabat sudah tahu bagaimana keadaan Nyepi? Nyepi kali ini adalah yang kedua bagi saya selama tinggal di Denpasar. Tadi pagi, sudah berakhir. Tapi tahukah sahabat bagaimana kisah-kisah saya selama hari Nyepi? Saya akan menjelaskan mulai dari persiapan hingga selesai. *hihi*

Umat muslim di Denpasar memang tidak ikut melaksanakan Nyepi, akan tetapi kami menghormatinya dengan cara ikut tidak keluar sama seperti mereka. Untuk itu ada agenda persiapan lain untuk menghadapi nyepi bagi selain yang menjalankannya seperti saya. Layaknya orng yang akan menghadapi liburan panjang, saya beserta teman-teman senasib seperjuangan mempersiapkan bekal makanan yang cukup banyak. Cukup untuk memenuhi kebutuhan perut hingga 2 hari. Keadaannya berbeda, tidak seperti tahun lalu. Saya tinggal di daerah penduduk yang sebagian besar muslim. Tahun ini, saya tinggal diantara penduduk yang menjalankan Nyepi.

Rasanya sedikit tidak enak, takut mengganggu pada saat kami memasak dan lain sebagainya. Beruntungnya, ada sedikit bantuan makanan dari Bos. Hehehe.. Istri beliau memasakkan lauk berupa rawon dan satu lagi (namanya lupa) sebanyak dua panci, kami tinggal menghangatkannya. Yang lebih kerennya lagi, kami di belikan kompor dan disediakan magic Jar. Welehh…lengkaplah sudah peralatan tempur dengan ditambah piring, cangkir, wajan, panci, dan bahan makanannya. Makanan ringan juga tidak ketinggalan tentunya.

Jauh hari, saya sudah mempersiapkan film yang akan kami tontong ketika tiba hari Nyepi. Banyak sekali, sampai saat ini belum selesai menontonnya. Yah, Nonton film adalah satu-satunya hiburan yang ada. Bagaimana tidak, televisi, radio, tidak ada siarannya. Semua di blok selama Nyepi. Tapi, meskipun saya menonton film, kami tidak membuat gaduh. Volumenya pun tidak terlalu besar, hingga tidak dapat didengar dari luar. Oh iya, sebelumnya juga kami menutup semua lubang di rumah agar cahayanya tidak terlihat dari luar. Ya, pada saat nyepi memang seharusnya tidak boleh menyalakan lampu atau apapun yang mengeluarkan cahaya. Sehingga, saat itu ruang menjadi gelap dan sangat pengap karena seluruh ventilasi dan jendela kami tutup menggunakan koran bekas dan kardus. Sebelum Nyepi benar-benar di mulai, kami cek dari berbagai sudut untuk memastikan tidak ada cahaya yang keluar dari dalam rumah.

Oh iya, hampir kelupaan. Nyepi di mulai dengan arak-arakan ogoh-ogoh, patung/boneka yang dibuat oleh masing-masing banjar (RT/RW). Ritual ini adalah salah satu rangkaian dari acara Nyepi. Dan Ogoh-ogoh di perlombakan juga lho, biasanya pemenangnya akan diumumkan beberapa hari setelah Nyepi. Saya kurang begitu paham kriteria yang dinilai. Karena saya bukan panitia penilai😉 . Suasana langsung hening, dan gulita manakala mata saya terbangun dari tidur untuk melaksanakan sholat shubuh. Tidak ada sebercak cahayapun sehingga membutuhkan bantuan handphone menuju kamar mandi.

Malam dan siang, sama sunyinya. Hanya beda cahaya saja. Yang ada gonggongan anjing-anjing sekitar. Mungkin akan sedikit aneh bagi orang yang baru pertama kali bertemu hari Nyepi. Kira-kira begitulah gambaran keadaan kala Nyepi kemarin. Hingga tadi pagi saya kembali terbangun untuk menjalankan sholat shubuh. Kali ini kondisinya berbeda dengan hari kemarin. Terdengar suara mobil dan motor yang sedang antri, menanti kemacetan. Mereka sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Pagi telah bercahaya, tapi rumahku masih gelap gulita. Segera saya nyalakan lampu kamar mandi.

Akhirnya saya juga harus kembali beraktivitas seperti biasanya, kemarin nyepi tapi sekarang sudah rame lagi. Alhamdulillah, bekal bahan makanan masih tersedia sehingga saya masih bisa sarapan. Hehe… Sampai di sini dulu ceritanya. Tunggu kisah-kisah selanjutnya…

***

26 responses to “Kemarin Nyepi, Sekarang Ngrame

  1. Wah… bener bener sepi yah..
    jadi mereka yang merayakan nyepi kemana aja seharian? dirumah dan tidak boleh keluar? tidak boleh berbicara?
    hemm…

  2. eeh ternyata pertanyaan aku terjawab di postingan yg ini! hehehe

    waduuuh bisa bosen juga donk yah klo ga bisa kemana2 kaya gitu, cuma nonton film aja..
    serem iiih malem2 ga ada suara apa2, ga ada lampu pulaa.. hiiiiii..!

      • hii.. klo saya kerja disana dan nge kost sendirian, bisa dipastikan setiap malam nyepi, kost-an saya kosong, karena saya pasti ngaciiiirrr ke kost-an temen biar ga gelap2an sendirian!
        hehehe!

  3. Selamat siang pak…

    Nyepi..nyepi..
    sunyi sepi…

    ^^

    Wah hebat toleransi beragamanya…

    Tp saya bingung: rumah anda ikut2an gelap ya pak..
    hihihihi..serem….

    ^^

    Oh ya list film yg ditonton apa tuh pak?
    pasti yg romance romance..soalnya kalo yg thriller ka gak mungkin..bisa bikin njerit…

    ^^

  4. Wah. Saya pengen bisa merasakan Nyepi di Bali sana. Rasanya tentu beda karena jarang-jarang bisa ikutan begitu. Toleransi antar umat beragama tentu wajib ya, karena kalau sudah susah, semua orang tentu saling bantu.

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s