Perlukah Kekerasan Terhadap Anak?

Bismillah,

Malam ini (tadi malam) saya kembali menemukan sesuatu hal yang membuat hati miris. Tragis, tak tega saya melihatnya. Terasa sakit, saya ikut sakit manakala tangan itu beradu dengan wajahnya. Si kecil yang malang, usianya masih 3 tahun 8 bulan, jelas si ibu yang sudah dua kali menghantamkan tangan ke wajahnya. Ini kisah nyata, bukan gosip belaka. Jika biasanya saya hanya melihat adegan seperti itu dalam sinetron saja, tapi malam itu live di sebuah warung tenda biru.

Tenda biru itu adalah sebuah warung sate kambing dan sate ayam langganan saya. Penjualnya orang madura lengkap dengan bahasa uniknya, sebagaimana sebagian besar warung sate pada umumnya yang ada di Denpasar. Sepasang suami – istri itu mulai membuka lapaknya dari jam 6 sore sampai paling lama jam 11 malam. Mereka mempunyai 2 orang anak yang masih kecil, anak paling kecil dititipkan kepada saudara mereka di rumah kontrakan dan yang paling besar biasa diajak berjualan oleh mereka.

Entah saat itu sedang ada masalah apa, yang jelas ketika saya datang, putra sulung mereka masih duduk di pojokan dengan kepala di atas meja dengan alas tangan sebagai penyangga. Tampaknya si kecil bermuka masam, terlihat bekas air mata yang sudah mengering. Waktu ku tanya, si kecil hanya diam. Tak seceria biasanya. Sepertinya telah terjadi perselisihan antara orangtua dan si anak.

Ternyata belum cukup sampai di situ, justru adegan panas terjadi ketika saya sedang menyantap sate ayam. Tiba-tiba, dia lari keluar dan menuju ke sebuah warung yang tidak jauh dari tempat ibu bapaknya berjualan. Hendak membeli jajan tentunya, tapi si ibu melarang, dengan maksud agar si sulung tak bermain-main lagi sebab malam sebelumnya dia demam gara-gara terlalu capek akibat main dengan teman-teman sebayanya. Maklumlah si ibu cemas.

Yang namanya anak kecil, makin dilarang akan tambah semakin besar keinginannya untuk melawan. Sampai akhirnya si ibu geram, sambal kacang yang sedang diaduknya ditinggal begitu saja menghampiri si kecil dan menariknya. Bertambah geram lagi saat tangisan si kecil pecah, anak itu semakin tak mau dilarang. Sambil memeluk yang punya warung (kebetulan ibu juga) anak laki-laki itu makin membangkang. Si ibu tak kuasa menahan marah dan akhirnya… “Plaaakkk…plakkk..” beberapa kali tangan itu menghantam wajah si kecil dibagian mata sebelah kanan. Ibu itu belum puas, diseretnya lagi si kecil untuk dibawa pulang.

Apa daya si kecil dengan tubuh mungilnya, si ibu menyerahkan kepada suaminya (bapak dari anak itu) agar membawa pulang si kecil dengan naik sepeda motor. Ternyata si bapak lebih tenang daripada istrinya, beliau mengalah kepada si kecil yang masih meraung-raung. Ibu itu kembali muncul, dan sekali lagi “Plak..!!!” masya Allah…tak tega aku melihatnya.

Saya bertanya kepada ibu itu, “Anaknya kenapa bu?”

Dijawab dengan bahasa madura… @#%$&@#(&*@g&$#*&$564$#$13%^&

Hahahaha…aku tak bisa menulis terjemahnya, sebab saya juga nggak tau 😆 Si ibu memang berbahasa madura kepada pelanggan yang sudah dikenalnya, teman-temanku memang ahli bahasa madura, dikiranya saya juga orang madura kalee :mrgreen: Mesti tau sedikit, tapi saya kagak ngerti jika berdialog dengan bahasa madura.

Setelah saya renungkan, muncul beberapa pertanyaan dari saya:

  • Apakah perlu kekerasan dalam mendidik anak?
  • Bagaimana pengertian disiplin dalam mendidik anak?
  • Apakah melanggar larangan dari orang tua termasuk tindakan tidak disiplin yang dilakukan seorang anak?
  • Terus bagaimana caranya untuk menanamkan rasa disiplin terhadap anak jika tidak dengan cara yang keras? Apakah kekerasan yang dilakukan ibu itu termasuk masih wajar?
Masih banyak pertanyaan yang lain, jika berkenan mohon saran dan penjelasannya. Saya takut, suatu saat nanti tidak bisa mendidik anak dengan cara yang benar. Hmm…mudah-mudahan saja tidak terjadi. 😀
Salam

42 responses to “Perlukah Kekerasan Terhadap Anak?

  1. Sebenarnya tidak perlu dengan kekerasan dalam mendidik anak, bahkan tidak boleh. Tapi seringnya ketika anak rewel dan ortu sdg dalam kondisi hati “yang tak baik”, biasanya rentan sekali berbuat kekerasan terhadap anak. Untuk itulah pentingnya menjaga kestabilan hati dan emosi ortu 😀

  2. suka esmosi yaaa sama ibu2 yang mukul anaknya even cuma nyubit
    tuh tangan bisa banget yaa nyakitin anak sekecil itu
    *pengennonjok*

    padahal anak kecil yang dididik dengan kekerasan akan menjadi orang yang penuh kebencian

  3. Duh..untunglah saya tidak disana untuk menyaksikan adegan panas itu mas Ri.. Mudah2an kita tidak menjadi orang tua yg ringan tangan seperti itu ya, Amiin..

  4. anak adalah amanah dari yang Maha Kuasa.
    dan, tidak mudah utk menjalankan amanah ini.
    sudah banyak aturan2 yg ditulis di Kitab Suci, bagaimana cara mendidik anak, semasa masih dlm upaya membuatnya, mengandungnya, menyusui hingga mengantar mereka pada pernikahan.
    Semua itu adalah tugas ortu, dan Kitab Suci telah membimbing kita agar sukses dlm mendidik dan membesarkan mereka.

    Namun, kenyataan hidup kadang kala, membuat beberapa gelintir orang tu ini menjadi tdk mampu menjalankan amanah ini dgn baik, dgn berbagai alasan yg beraneka ragam.

    Semoga kita semua selalu mendapat bimbingan NYA dlm mendidik dan membesarkan anak2 kita kelak ,amin
    salam

    • iya bun, sudah ada panutannya semua.
      tapi kondisi sekitar sangat mempengaruhi, banyak orang yang meskipun sudah belajar dari panduan yang sudah ditetapkan mesti harus belajar lagi dari pengalaman orang lain. pengalaman adalah guru yang berharga…
      salam

  5. moga2 kita tidak menjustifikasi seseorang dr satu sisi saja, meski terlihat salah.. ada banyak hal yg tidak kita pahami dan tidak kita alami..

    ga ada sekolah jd ortu, semoga kita bisa jadi lebih sabar setiap saat

    • sekolah ortu adalah pengalaman dan naluri masing-masing. meski sudah ada panduan yang hebat tentang bagaimana menjadi orang tua.

  6. Perlakuan yang diterima oleh si Anak laksana sebuah pembelajaran yang akan membekas di hati anak tersebut. Jika sejak kecil sudah menerima tindak kekerasan jangan heran jika ketika dewasa akan terbiasa melakukan kekerasan.

    • ada yg bilang, kalo dalam masa kanak-kanak itu memang susah diajari, tapi kalo sudah berhasil bisa-bisa tak terlupa dan menancap di hati spanjang masa bagai mengukir diatas batu..
      salam

  7. waaa kebayang sakit ya, sedikit berbagi (baca : curhat), mama saya kalau kita anak2nya bertengkar hebat kalau udah capek ngomong suka diem, masuk kamar, pas udah besar saya tanya kenapa mama kok sikapnya begitu, mama jawab “mama takut kalap nanti main tangan, lukanya di hati bakal berbekas lama dibanding sakit di fisiknya”.

  8. Saleum,
    kasian banget anak tersebut ya kang, sebaiknya gak perlulah pake kekerasan seperti itu pada anak kecil. jiwa mereka beda dengan orang dewasa, akibat dari kekerasan itu akan membuat psikologis anak terganggu dan akibat buruknya dia akan mengaplikasikan penderitaan hatinya itu dengan jalan yang salah….
    saleum dmilano

  9. keras terhadap anak perlu klo itu tujuannya unk mendidik. Tpi klo kekerasan jadi jalan keluar saya ga yakin klo si anak tumbuh dewasa akan menjadi anak yang baik, setidaknya psikologi si anak akan unk melakukan hal yg pernah di alaminya waktu kecil..

  10. hmm … jadi teringat waktu jalan2, melihat seorang suami ngeplakin kepala istrinya seenak jidatnya, berulang kali pula sambil marah2, kami yang di dalam mobil bingung antara mau berhenti menengahi atau membiarkan, tapi akhirnya ya kami biarkan.
    jangan2 tuh mas2 begitu karena lagi kecilnya sering dikeplakin juga sama emak/bapaknya? terus emak bapaknya juga dulu pasti ngerasain hal yang sama? lalu di generasi ke berapa di keluarga itu nanti sudah tidak main keplak ya? *garuk2 pipi*

  11. Astaghfirullah …. saya jujur aja nggak pernah tega mukul anak…
    kalau situasi ibu ini, saya jg pernah ngalamin…
    stress tentu saja…
    kalau amarah memuncak, lebih baik saya menyingkir…
    dan saya minta tolong Oma/Opa/tante nya anak saya, untuk menenangkan…
    setelah saya sndiri tenang, barulah kami bicara… 🙂

  12. wah baca aja deh di postingan yang buat kontes kemarin.. harusnya g boleh gitu2 amat kali..namanya juga anak-anak.. anak sebenarnya g bandel cuma ortu aja yang g bs menangani jika anak seperti itu.. aduh mau jadi tukang pukul yaaa

  13. butuh kesabaran ekstra untuk mendidik si kecil / buah hati …
    kekerasan yang pernah dialami hanya akan memberikan memori yang kurang berkenan nantinya …

    ^_^

    salam ukhuwah dari 4antum …

  14. dari cerita diatas, menurut saya memang keterlaluan..”jalan” terakhir yg ditempuh emosional dan fatal fisik thd anak…. jalan terkahir memukul boleh tapi ada batasanya…tidak meyakitkan anak dan tidak boleh wajah…. faktor contoh diatas adalah kesalahan ortu dlm mendidik anak ,salah satunya kurang perhatian thd anak krn kesibukan kegiatan ekonomi. sehingga anak bebas bergaul temAN2 nya yg belum tentu baik… selain itu kadang ortu, kurang mengerti kemauan anak…sehingga salah menghukum…. semoga jd masukan….kita semua sbg ortu…

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s