Kenut, Bocah Pembawa Hikmah

Bismillah,

“Ustadz, apakah yang saya lakukan itu mustahil?” Kenut bertanya kepada gurunya

“Memang dimata manusia terlihat mustahil, tapi yakinlah bahwa Allah akan menolong hamba-hambanya yang mau berusaha, dan tidak ada yang mustahil untuk Allah” jawab sang guru

“Terima kasih Pak Ustadz, dan saya mohon doa restunya dari pak ustadz” Kenut lalu pamit

***

O iya, Kenut itu nama panggilannya. Nama lengkapnya Muhammad Ainun, si anak yang masih sekolah SD ini telah ditinggal mati bapaknya sejak usianya masih kecil. Dia tinggal bersama kakek – neneknya di sebuah dusun di desa Pacitan, desa tempat tinggal presiden SBY. Ibunya bekerja di Arab Saudi sebagai TKW.

Santernya berita tentang kasus penyiksaan dan pembunuhan para Tenaga Kerja Indonesia di Arab membuat hati Kenut sungguh cenat-cenut, dia gelisah setiap saat. Perasaan itulah yang membuat ia berani meminta izin kepada kakek – neneknya untuk mencari tau kabar ibunya meski harus ke luar negeri. Tak khayal sang kakek pun melarang Kenut pergi sendiri ke sana. Bukan hanya kakek – neneknya saja yang melarang, seluruh desa, kepala sekolah beserta guru-gurunya, dan pemerintah desa setempat tidak membolehkan.

Bagaimana mungkin seorang anak kecil pergi sendirian ke luar negeri. Sudah banyak nasihat yang melarang Kenut pergi. Namun tidak demikian yang dirasakan Kenut, meskipun dari keluarga miskin, Kenut tergolong anak yang cerdas dan taat beribadah. Tergambar jelas dari sosok sahaja nenek dan kakeknya yang menanamkan sikap untuk selalu taat kepada sang Maha Hidup.

Tidak mau tau, kalau punya keinginan, apalagi niatnya baik, pasti Kenut bersikeras untuk mendapatkannya. Termasuk keinginannya menyusul ibu kandungnya ke Arab Saudi. Sampai-sampai suatu hari datang orang menasihati sang kakek agar Kenut jangan diijinkan pergi.

“Mana mungkin ada seorang anak-anak bisa sampai ke luar negeri tanpa membawa bekal yang cukup dan tanpa saudara di sana, sebaiknya kakek larang Kenut” tetangga itu mengawali pembicaraan kepada kakek Kenut.

Kenut itu anak yang cerdas, pandai, taat beribadah, tapi satu hal yang tidak bisa dihilangkan yaitu keras kepala. Dia itu anak yang keras kepala” Kakek menanggapi pembicaraan tadi.

(obrolan yang cukup lama, yang inti dari pembicaraannya adalah agar Kenut jangan diberi izin)

Seiring tentangan oleh semua orang, ada satu orang yang mendukung Kenut, yaitu guru agamanya. Setidaknya dia sudah mendapatkan izin dari sang ustadz, setelah berdialog berdua. Ustadz meyakinkan Kenut agar dimanapun jua harus menegakkan perintah Allah terutama sholat.

***

Perjalanan Kenut dimulai subuh, tentu tanpa berpamitan dengan orang yang ada di rumahnya (kakek – neneknya)

Pertama kali, ia mengunjungi rumahnya pak SBY di Pacitan, Jawa Timur. Setibanya di sana, ia disambut oleh seorang penerima tamu (karena memang rumah kecil SBY menjadi layaknya museum yang dipajang foto-foto beliau)

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu dek?” sapaan pertama dari penyambut tamu di sana.

“Nama saya Muhammad Ainun, panggil saja Kenun, saya mau ketemu pak SBY” dengan nada khas anak usia Sekolah Dasar.

Lalu dijawablah, “Pak SBYnya di Jakarta, kalau mau lihat foto-fotonya ada di dalam”

Kenut perlahan masuk dengan memandangi foto-foto presiden Indonesia yang terpampang menghiasi dinding rumah. Kemudian tiba-tiba ia berhenti, melihat foto satu itu, foto SBY dengan penuh senyum sambil menggenggam tangannya laksana memberikan semangat kepada Kenut. Dia bergumam kecil, “Pak SBY, saya mau ke Jakarta, bolehkah saya numpang di Istana Presiden?”

Kenut melanjutkan perjalanannya…

Sampai di Jakarta, pertama kali, ia menuju ke sebuah warung nasi yang masih sepi, “Pak, nasinya setengah, tempe, sayur, kuahnya banyakin” tanpa basa-basi langsung ia lahap setelah bapak penjualnya menyiapkan di piring. Karena penasaran ada anak kecil sendirian yang mampir di warung, ia bertanya kepada Kenut. “Nama siapa? Dari mana? Tujuanmu apa? Sama siapa?” langsung membrondong beberapa pertanyaan sekaligus yang dijawab Kenut dengan singkat dan lengkap sesuai pertanyaannya.

“Nama saya Muhammad Ainun, panggilannya Kenut, dari Pacitan tetangga desanya pak SBY, saya sendiri, mau ke Arab, mencari ibu saya yang kerja di sana” jawab Kenut.

“Wuahahaha…gemblong!! Dikira gampang ngurus visa, passport opo?? Memangnya biaya sampai ke sana sedikit apa, dikira mudah” cerca pak penjual nasi tak mengurungkan niat Kenut. Setelah membayar makanan tadi, Kenut melanjutkan jalan kaki sambil berpikir bagaimana cara membiayai perjalanannya sampai bertemu ibunda.

Tak lama, Kenut sudah berada di dalam bus menuju airport. Bapak botak yang duduk di sebelahnya bertanya, “Nama kamu siapa?”

“Muhammad Ainun, nama panggilannya Kenut, saya dari Pacitan, tetangga desanya pak SBY” dijawab lebih oleh Kenut.

“Mau kemana?” bapak di sampingnya bertanya lagi. “Mau ke airport Soekarno-Hatta” Jawabnya. Sesampainya di bandara, Kenut melihat-lihat keadaan sekitar, hanya melihat pesawat terbang, “Subhanallah, segede itu bisa terbang” hanya bergumam kecil.

Sampai langit sudah semakin gelap, kini tiba masa Kenut kebingungan mencari tempat menginap. Ada sebuah masjid ia temukan yang ditutup oleh gerbang trails besi, “Assalamu’alaikum…” teriak Kenut. “Wa’alaikumussalam..” Jawab dari kejauhan yang semakin mendekat. “Pak, saya musafir dari Pacitan mau ke Istana Negara mau bertemu pak SBY”

“ooh, dari sini masih jauh, langsung ke arah sana saja..” jawab penjaga masjid tersebut. “Bukan pak…saya itu musafir yang sedang membutuhkan bantuan saudara sesama muslim, saya mau menginap di masjid ini boleh?” eyel Kenut. “Maaf, kalau mau menginap cari tempat lain saja” jawab penjaga masjid dari balik teralis pagar tersebut. Langkah demi langkah Kenut susuri untuk mencari tempat penginapan. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya tiba di masjid yang tidak ada pagarnya, ia masuk dan menemui seseorang di dalam masjid dengan Alquran di depannya. Tampaknya ia sedang mengaji. Kenut mendekati beliau, ternyata bapak tua itu tertidur saat mengaji, bukan tidur lebih tepatnya, ia mengantuk.

Lelaki paruh baya itu kaget melihat anak kecil di depannya ketika ia terbangun. “Siapa kamu?” Tanya orang itu kepada Kenut. “Saya Muhammad Ainun, biasa dipanggil Kenut, saya musafir dan butuh tumpangan untuk istirahat malam ini, bolehkah saya tidur di masjid ini?”

“Ini masjid nak, bukan tempat tidur. Tidak boleh tidur di dalam masjid, masjid bukan tempat untuk tidur” lelaki tua itu menjawab. “Lah itu, kakek tadi tidur di sini” jawaban Kenut sedikit nyelekit. “Kakek bukan tidur tapi tertidur, tidur itu beda dengan tertidur” si kakek ngeles. Akhirnya karena tak tega kakek melihat Kenut si kecil yang sendirian dia pun mengajaknya menginap di rumah reot milik kakek. Sampai keesokan harinya, ia melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang hampa, tak tau arah. Di depan pintu masuk monas yang saat itu tertutup, ia melihat seorang pemulung tua wanita yang sedang kepayahan membawa tumpukan kardus digendongannya. Kenut merasa iba, dan menolong nenek tersebut.

“Mau kemana nek? Sini saya bantu”

“Mau ke situ cu, nganter ini (kardus dan barang rongsokan lainnya)” nenek itu menyauti Kenut. Sambil menggendong barang bawaan si nenek ke tempat penampungan barang rongsok untuk ditukar dengan uang, Kenut mengantarkan sampai tujuan.

Setelah nenek tadi diantar, Kenut melanjutkan berkelana. Kali ini, dia benar-benar telah kehabisan bekal makanan tak ada uangpun tak tersisa. Perut semakin gemuruh, pertanda lapar yang sangat. Ia hanya bisa melihat orang-orang makan. Tibalah ia sampai di warung tempat pertama kali ia makan di Jakarta. “hey…” suara pemilik warung dari kejauhan. “iya, kamu…sini..” orang itu menunjuk ke arah Kenut. Kenut mendekat ke sumber suara itu. “Ini makanlah nak..kamu lapar kan?” penjual tadi menyodorkan sepiring nasi. “Tidak pak..terima kasih” Kenut takut menerima pemberian dari orang yang tak dikenalnya. “Sudahlah sini..ini makanlah buatmu” bujuk si penjual tadi. “Sudah, jangan sombong nolak rejeki” celetuk salah seorang pembeli yang sedang makan di tempat itu. Akhirnya dengan rasa takut, Kenut pun menerima sepiring nasi tersebut. “Terima kasih banyak pak, semoga Allah mengganti dengan pahala yang berlipat” berdoa sejenak, lalu menyantapnya dengan lahap.

Selesainya makan, dia diajak oleh seseorang lelaku berkumis yang tadi nyeletuk di warung tempat ia makan. “Kamu mau kan saya ajak kerja?” tanyanya kepada Kenut. Kenut mengangguk, tanda kalau ia menerima tawaran si abang tadi. Diajaklah Kenut ke tempat sunyi, sepertinya gedung tua yang sudah tak terpakai. Ternyata tempat itu dijadikan secretariat oleh abang tadi. Kenut bingung, lalu berhenti sejenak. “Kerja apaan bang?” rasa penasaran Kenut terucap.

“Sini saya jelaskan..Kenalan dulu sebelumnya” abang tadi menjabat tangan Kenut. “Nama saya Muhammad Ainun, panggil saja Kenut. Asal dari desa Pacitan, tetangganya pak SBY. Saya ke sini untuk menyusul ibu saya yang bekerja di Arab” Kenut memperkenalkan diri.

“Hahahaha…saya Murtadhoh, panggil saja bang murtad”

“Lho, kok namanya murtad, kan itu nama bukan islam bang” si Kenut bertanya.

“Mau bukan islam mau apa, yang penting punya banyak uang. Tidak ada hubungannya dengan agama” jawab bang murtad

“Lah, terus agama bang murtad apa?”

“Yaah, kalau di KTP sih ISLAM. Sudahlah, yang penting kamu bisa hidup banyak uang” jawaban bang murtad semakin menambah penasaran bagi Kenut.

“Kerja apa bang?” Tanya Kenut lagi

 “Kita di sini adalah yayasan yang bertugas mengumpulkan dana dari umat (DDU), kerja di sini enak, makan dijamin, tempat tidur disediakan, seragam kerja ada, pokoknya kamu akan merasa senang kerja di sini”

“Ngemis? Enggak mau saya bang..” Jawab Kenut

“Bukan ngemis, kita mengumpulkan dana dari umat, kalau di pemerintah ada yang namanya Dana Untuk Umat” bang murtad ngotot menjelaskan kepada Kenut.

“Lah terus dana yang sudah kita dapat untuk siapa? Pesantren? Anak yatim? Orang miskin?”

“Berhubung anak yatim sudah ada yang ngurus, orang miskin banyak yang nangani, ya dana ini untuk membiayai kita sendiri” bang murtad bertambah kesal.

“Astaghfirullah…itu kan dosa bang, saya tidak mau kerja di sini, saya takut dosa, takut sama Allah, takut akan siksaannya” wajah Kenut miris.

“Heh!! (nada meninggi) di dunia ini yang penting ada duit..orang makan butuh duit, duit adalah segalanya, kalau tidak ada duit semua sulit, apalagi kalau ada kasus, juga butuh duit..” bang murtad sambil mendendangkannya laksana menyanyi, seperti alunan murotal yang biasa kita dengar.

“Astaghfirullah…isitighfar bang..istighfar, takutlah kepada Allah. Takutlah siksa Allah. Allah itu maha segalanya, mintalah pertolongan hanya kepada Allah” Kenut berusaha menasihati bang murtad.

“Hahh! Ini anak, Allah itu tidak bisa menolong kita.. kalau kamu nggak punya uang terus kelaperan siapa yang akan menolong?” Bang murtad naik darah.

“Allah!” jawab Kenut dengan mantap

“Lalu, tadi di warung siapa yang menolongmu kalau bukan bapak penjual nasi itu? Kalau tidak ada bapak itu pasti kamu kelaperan..kamu akan mati, tidak bisa makan…haaah! Tau?”

“Allah yang menolong saya melalui bapak penjual nasi tadi sehingga bapak itu member saya nasi” dengan enak Kenut mematahkan kata-kata bang murtad.

“Baik..baiklah…sini..! (menyeret Kenut menuju sebuah tiang. Kenut diikat pada tiang tersebut, tangan, kaki diikat dengan posisi disalib). Siapa yang akan menolongmu sekarang! Apakah Allah kamu itu bisa melepasmu dari sini? Hahhh..lihat! kamu akan kelaperan di sini sendirian!” kemarahan bang murtad memuncak saat itu.

Rupanya, saat bang murtad berdialog dengan Kenut, anak buahnya yang lain yang juga termasuk anak-anak, mengintip dari atas, ventilasi.

Bang Murtad meninggalkan Kenut sendirian tanpa diberi makan dan minum. Sampai malampun tiba, disebuah gedung tempat DDU ditinggali semua anak buah bang Murtad yang tadi ngintip pembicaraan Kenut dengan bang Murtad. Salah satu dari mereka yang paling besar gelisah saat yang lain tidur nyenyak. Dia pun mengendap keluar menuju tempat Kenut disalib dengan membawa air mineral gelas plastic yang tersisa tidak sampai sepertiganya itu. “hey..bangun, ini minumlah, saya cuma bisa memberikan minuman, tidak ada makanan. Ini saja kalau ketahuan bang Murtad bisa dibunuh saya” anak itu lalu menarik kursi kecil dan duduk disamping Kenut diikat.

“Kenapa sih, loe gak nurut aja sama bang murtad, kan gak kayak gini jadinya, tinggal lakukan yg bang Murtad minta, kerja pagi pulang sore” bocah dengan tampilan anak jalanan beranting dan rambutnya berwarna itu mencoba menasihati Kenut.

“Tidak, aku tidak mau dosa, aku takut Allah, aku takut siksanya, lebih baik aku mati daripada harus bekerja haram. Kenapa kamu ikut kerja haram?” Semangat Kenut.

“Gue sih masih pingin hidup, masih pingin makan enak, sate, gule, punya rumah gedongan, naik mobil mewah, punya istri. Ah..maafkan aku sobat, aku pingin membantumu tapi gimana caranya, akan ku pikirkan lagi” menjawab pertanyaan Kenut.

Kenut langsung menimpali, “Saya takut siksa Allah, siksa yang sangat pedih. Pertolongan Allah pasti datang. Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang dalam kesusahan”

Wajah kenut terlihat jelas tampak pucat, bibirnya kering, karena hanya minum seteguk air sisa dari sobat tadi. Air itu cukup untuk memperpanjang hidupnya sampai esok hari dan membawanya tertidur sementara. Keesokan harinya, bang Murtad datang seperti biasanya, meminta setoran dari anak-anak tak berdosa yang dipekerjakannya. Dia menghimbau kepada anak-anak lain untuk tidak mendekati, menolong, dan mengajak bicara kepada Kenut.

“Hahhh…kenapa masih di sini? Allah kamu belum menolong? Katanya Allah bisa menolongmu? Anak-anak…..jangan coba dekati dia, dia itu berbahaya, jangan ada yang berani member makan, ngajak ngobrol, tau sendiri akibatnya kalau kalian melanggar.” Bang Murtad memberikan peringatan kepada anak lain dengan gaya nyindir Kenut.

Sore menjelang…

Sobat yang semalam datang, kini kembali lagi dihadapan Kenut.

“Hey..bangun (memukul pipi Kenut, pelan) Kamu masih kuat lari?” anak itu membangunkan Kenut.

Kenut tidak menjawab, karena saking lemahnya. Dia hanya mengangguk sedikit. “Kamu akan ku bebaskan, tapi kita harus lari, kalau tidak pasti bang Murtad mengejar kita” bisik sobat baru Kenut itu.

“Kamu sudah tidak mau bekerja di sini?” Kenut lambat laun bisa berucap setelah, lagi-lagi diberikan minum, kali ini segelas penuh.

“Iya, aku gak mau lagi kerja dengan bang Murtad, aku ingin pergi dari sini” sambil melepas ikatan tangan dan kaki Kenut.

Tiba-tiba…

Bang Murtad datang, sementara kedua bocah tadi sudah bersembunyi. Tak pelak, diapun bingung dan kaget melihat tiang tempat Kenut diikat sudah kosong. Saat yang bersamaan, bocah-bocah itu lari serentak aba-aba dari sobat Kenut “Satu..dua…Lari…..!”

Mereka berlari dengan lincah, hanya Kenut yang masih pucat sempat terseok saat dikejar bang Murtad. Namun, akhirnya mereka bisa lepas. Mereka terpisah dalam pelarian, Kenut berlari ke tempat komunitas pemulung, sedangkan sobatnya entah lari kemana. Kenut yang sedang ketakutan sekaligus gemetar karena lapar mencari tempat persembunyian.

Kebetulan ada sebuah kotak besar, sepertinya gerobak pembawa sampah yang sedang mangkir tak lama Kenut langsung menutup dirinya di tempat itu sambil terkapar. Setelah itu, ada seseorang yang mengetahuinya. Dibukalah kotak itu dan… “Hahhh..!!!” teriak Kenut dan orang yang membukanya. Kenut langsung pingsan saat itu juga karena sudah terlalu lemah. Beruntung, yang menemukan bocah itu adalah sang nenek yang tempo hari ditolong Kenut. “Sepertinya saya kenal… (dan) Ooohhh..ini kan anak yang tempo hari bantu saya” kata nenek. Berada dalam komunitas pemulung yang kumuh, Kenut kini aman bersama orang baik yang ingin membalas budinya.

Berramai-ramai, orang-orang itu menggotong Kenut menuju rumah sang nenek. Sesampainya di sana, tak lama kenut sadar karena diberi minum sang nenek. “Hah? Jadi kamu tidak diberi makan?” perbincangan kenut membuat kaget si nenek. “Iya nek, saya diikat, disiksa, sampai tidak dikasih kesempatan untuk sholat” sambung kenut. “Jadi kamu bisa sholat cu? Ajarin nenek sholat ya? Nenek dari dulu pingin sholat” nenek merubah arah pembicaraan. “Memangnyaa..nenek tidak bisa sholat?” kenut nyaut.

“Yah, bagaimana mau sholat cu, nenek kan bekas anak jalanan mana ada waktu untuk sholat, orang tua nenek meninggal, nenek bekerja sendirian. Suami nenek kan preman, gimana mau ngajari sholat?” wajah nenek memelas. “Iya nek” jawab kenut. Kenut berucap dalam hati, “Dunia ini aneh, di desa kenut diajari sholat oleh nenek, di kota gantian saya ngajari nenek-nenek”

***

:mrgreen:

Udah…serius amat bacanya, hihihi..

*Maafkan daku, tulisan ini kayaknya panjang sekali 😀

 

48 responses to “Kenut, Bocah Pembawa Hikmah

  1. iya panjang banget tulisannya, tapi menarik koq nyimak perjalanan kenut.. satu yang pasti dia pegang teguh adalah dia yakin bahwa Alloh akan menolongnya.,

  2. Sungguh perjalanan hidup dari seorang bocah yang tak mengenal menyerah menghadapi lika liku kehidupan. Apalagi ia selalu berpegang teguh dengan menjadikan Allah SWT sebagai penolongnya 🙂

  3. wah bro, aku juga mau nulis ttg FTV berjudul KENUT ini 😀
    malah keduluan
    ini dialog2nya ditulisin semua..
    kerja di SCTV ya>?
    atau smbil nonton direkam filmnya?
    atau sambil nonton sambil nyatet? 😀

    *sy jg akan nulis ini segera ah 🙂

    • hahahaha..aku bukan pegawai sctv, dan tidak pula ngerekam juga tidak nyatet dialognya, hanya masuk ke otak aja, karena bagus filmnya.. 😀
      salam

  4. pertanyaan kenut belum ada yang terjawab kok ceritanya terpotong. Gimana gak serius dan penasaran?

  5. Dari Pacitan 😕 koq sama denganku. Tapi aku gak kenal neneknya Kenut 😦

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  6. Ditunggu terusan ceritanya ya Mas. Jangan sampai terbawa mimpi karena penasaran nih !
    He…x9

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s