Dia Mengalah..

Bismillah,

“Silakan, kalau mau duluan nggak apa-apa”

Tutur katanya lembut, membuat hati nyaman mendengarnya. Dia..gadis berpawakan tanggung, tidak besar, tidak pula kecil. Senyum indah nampak dari balik kaca helm yang diangkatnya separuh. Ah, indahnya jika semua orang ramah seperti dia. Tak banyak kata yang keluar dari mulutnya, tapi sekali bertutur menyejukkan.

Gadis itu…

Memang benar tampaknya dia masih gadis. Aku melihat kaos kaki yang ia kenakan, sedikit robek di samping jempol kanannya. Β Bukan maksud hati membeberkan kejelekan kecil darinya. Saya berpandangan lain, gadis itu benar-benar tangguh, gigih, tekun, ulet, maaf mungkin saya terlalu cepat menilai seseorang. Saya memang sudah biasa, menilai dari pandangan pertama dulu, mungkin sama seperti orang menilaiku pada pandangan pertamanya juga.

Tas kecil yang dibawanya dengan tidak adanya make up menebali muka, ia kelihatan natural dan simpel. Tapi…selain tampilan luar darinya ada satu hal yang saya sukai yaitu sifat beliau. Sungguh jelas terlihat jiwa besarnya, meski saat itu dia sedang mengalami kesulitan yang menerpa.

Ada yang penasaran siapa gadis itu? πŸ˜† :mrgreen:

***

Jarum putih menunjuk pada garis merah mepet, pertanda asupan gizi untuk si motor kesayangan saya berkurang. Sedari berangkat dari rumah hati ini terasa was-was, bisakah mencapai tujuan saya, masjid. Akhirnya saya bisa sampai tujuan dengan selamat dan bahagia :D. Usai sholat ashar tertunaikan, saya melajukan sepeda motor ke tempat yang semestinya, warung makan sepeda motor alias pom bensin :mrgreen:. Tak seperti di kota-kota lain, pom bensin di sini cukup lengang dan stok selalu ada.Β Garis nasib mempertemukan saya dengannya pada waktu yang tepat. Benar-benar tak disangka.

Antrian kelima, tepat di belakang Supra X 125 cc warna silver hitam. Bukan motornya yang jadi perhatian, tapi pengendaranya, dia lah gadis itu.. πŸ˜€ gadis yang rela antriannya didahului orang berjenggot seperti saya, hihi.. *mbak maafkan daku ya? :mrgreen:* meski mbak sendiri yang mempersilakan, saya tidak enak hati untuk menolaknya, hehe.

Setelah beliau mempersilakan saya mendahuluinya, saya hanya menengok sekali ke belakang untuk memberikan terima kasih dengan isyarat senyum. Tak mengerti jika gadis itu dalam masalah tadi, tak lama setelah saya berterima kasih. Ternyata ia tak bisa membuka kunci bagasi/ jok/ sadel sepeda motornya. Kasihan…saya jadi bertambah tidak enak manakala seorang lelaki bertopi dengan logo yang warna merah, hijau, biru dengan seragam yang didominasi merah dan putih itu berhasil membukakannya.

Haduuh…pokoknya saya mengucapkan terima kasih, tengkyu, hatur nuhun, matur nuwun, matur seksame, syukron, kamsya, kepada gadis itu..gadis yang baru pertama saya lihat.

Baik sifatnya, lembut tutur katanya, dan pantang menyerah

53 responses to “Dia Mengalah..

  1. Oh ternyata si Mbak nggak bisa buka jok nya? hehe.. kasihan juga ya Mas. Soalnya saya juga pernah gitu. Beruntung nggak beli di POM, tapi eceran.

  2. Lo, kenapa Tunsa sampe harus menyelip antrian?
    Lagi buru-buru kah?
    Iya Tunsa, tidak semua orang yang disalip akan bereaksi santun seperti itu, yang sering terjadi adalah sewot atau ngelirik judes… πŸ˜‰

  3. Kirain mau jatuh cinta pada pandangan pertama lagi Om, he.he.
    Ceritanya menghanyutkan awalnya, endingnya senyum2 sendiri.

  4. Disetiap kebaikan yang tertabur, akan tertanam dalam ingatan kita. Hanya ucapan yang tulus yang dapat terucap. Hingga terbingkai dalam sebuah karya ini. Mantapz…. Sob !

    Sukses selalu ya Sob !
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  5. wuih.. mang 1 kbaikan aka trus tringat di hati, apalagi dr cewe maniz πŸ˜€

    lho?? kok ndak kenalan to mz ari?

  6. saya tau mas lelaki bertopi dengan logo yang warna merah, hijau, biru dengan seragam yang didominasi merah dan putih
    Petugas pombensin kan πŸ˜†

  7. baik banget sih si embak, gara2 susah bukain jok malah mempersilahkan buat duluan. hehehe.. asal bukan gara2 nyerobot aja.

    nggak sekalian kamu beliin bensin sob??.. siap tauuu berlanjut….hahaha

  8. Apapun alasannya, mengalah bukan berarti kalah. Satu keputusan yang mungkin saya sendiri tidak mudah melakukannya. Tak salah bila si Mbak ini masuk kategori gadis baik.

    Kalau hafal type motor yang dipakai si Mbak, jangan-jangan sempat menyimpan nomor polisinya juga, berharap satu waktu nanti bisa bertemu lagi. Hehehehe….

    • πŸ˜† emangnya aku petugas parkir di mall? pake nyimpen nomor motornya aja πŸ˜€
      betul, mengalah bukan berarti kalah

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s