Jawaban ttg Lihyah

Bismillah,

Ternyata banyak para sahabat yang masih penasaran, untuk apa sih sebenarnya saya kok memelihara jenggot :D. Banyak diantara orang-orang yang ingin mempunyai lihyah lebat seperti kebanyakan orang, tapi sekali lagi benar kata kang ian bahwa ketaatan seseorang itu tidak bisa diukur dengan banyaknya jenggot/ lihyah, taqwa atau tidaknya seseorang itu tak bisa dilihat dari sudut pandang luarnya saja, tapi banyak faktor.

Lalu, kenapa alasan sesungguhnya? sekaligus menjawab banyak pertanyaan tentang lihyah ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَفِّرُوا اللِّحَى
“Biarkanlah jenggot kalian menjadi banyak.”

Jenggot merupakan perhiasan bagi seorang lelaki. Meskipun engkau melihat adanya sebagian orang alim yang fasiq memotongnya, ini bukanlah suatu hujjah. Juga meskipun engkau melihat di antara para raja dan pimpinan yang memotong jenggotnya, ini bukanlah hujjah. Yang dinamakan hujjah adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila engkau melihat orang-orang alim yang memotong jenggot mereka atau para raja dan pimpinan, niscaya engkau dapati mereka terpengaruh oleh musuh-musuh Islam. Sama saja mereka terpengaruh dengan belajar kepada musuh-musuh Islam ataupun belajar kepada orang yang belajar kepada musuh-musuh Islam, ataupun terpengaruh oleh orang yang terpengaruh musuh-musuh Islam. Tidak boleh bagi seorang pun untuk mengambil teladan dari salah seorang dari mereka, bahkan As Sunnah yang wajib untuk diikuti.

Demikian pula memotong sebagian jenggot dan membiarkan sebagiannya, ini juga tidak diperbolehkan karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أعفوا, maknanya adalah biarkanlah sebagaimana diciptakan Allah. Juga sabda beliau وَفِّرُوا, dan ارخوا

Memelihara jenggot merupakan perkara yang diwajibkan atas setiap muslim yang jantan lagi sejati berdasarkan hadits-hadits shahih sebagaimana akan kami bahas dalam buletin ini. Adapun laki-laki muslim yang mengikuti syahwatnya, maka ia akan berusaha mencari-cari dalih yang membolehkan cukur jenggot padahal itu haram. Seperti ia berdalil dengan hadits berikut :

ِمنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ خِفَّةُ لِحْيَتِهِ

“Diantara kebahagiaan seseorang, kurangnya jenggotnya” [HR. Ibnu Hibban dalam Adh-Dhu’afaa‘ (1/360), Ath-Thabraniy dalam Al-Kabir (12920), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (2/364), dan Al-Khatib dalam Tarikh Baghdad (14/297)]

Hadits ini tidak bisa memenuhi ambisi mereka dalam memotong dan memangkas jenggot, karena hadits ini palsu. Kepalsuannya disebabkan oleh dua orang rawi : Yusuf bin Al-Ghariq, dan Sukain bin Abi Siroj. Kedua orang ini adalah pendusta. Karenanya, Al-Albaniy memasukkan hadits ini dalam golongan hadits palsu dalam Adh-Dhoi’fah (193).

Dari Abu Hurairah  dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Fithrah itu ada lima, atau ada lima fithrah yaitu: Khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis.” (HR. Al-Bukhari no. 1889 dan Muslim no. 257)

Harusnya kumis yang dicukur, bukannya jenggot tapi kebanyakan orang mengambil banyak alasan agar jenggotnya tidak panjang. Ada yang alasan karena bekerja dengan perusahaan dan lain-lain. Padahal ketika saya bekerja di kantor yang tergolong besar, ada juga salah seorang diantara mereka yang memanjangkan jenggot, waktu itu jenggot saya belum panjang. Oleh karenanya, tidak ada alasan lain untuk memotong jenggot, dengan banyaknya anjuran di atas.

Semoga bisa bermanfaat dan dapat menjawab pertanyaan kawan-kawanku semua. Mohon maaf jika tak berkenan

Sumber:
http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/tanda-bahagia-cukur-jenggot.html
http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=32

		

18 responses to “Jawaban ttg Lihyah

  1. Sayangnya jenggot saya nggak tumbuh Mas. Bapak saya juga nggak berjenggot Barangkali turunan secara genetis ya.. salam hangat,,

  2. Makasih mas atas share nya, jadi lebih ngeh. Saya sendiri tidak ada turunan berjenggot, dan kalaupun ada di dagu itupun cuma beberapa gelintir. Ada juga rasa iri dengan orang2 yang bisa memanjangkan jenggotnya. Pernah saya tidak care dengan jenggot yang cuma beberapa biji ini, malah jadi gak sreg. Terpaksa sekalian tidak ada jenggot, langsung ambil cabutan jenggot.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  3. Jenggot memang bukan sebagai identitas ya, Ri… Kadang orang yang memelihara jenggot, kita kira muslim, ternyata bukan… Kadang kita kira tawadhu, ternyata nggak…

  4. Ping-balik: Krisis Identitas Sebagai Muslim - Tunsa·

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s