Ramadhan Ke-Dua di Pulau Dewata

Bismillah,

Ramadhan tahun ini adalah bulan puasa yang kedua bagi saya di pulau dewata. Pulau yang sebagian besar penduduknya adalah masyarakat non muslim ini tentu berbeda dengan pulau lain di Indonesia yang sebagian penduduknya adalah muslim. Begitu pun juga pengalaman berpuasa di sini yang berbeda dengan pulau Jawa, pulau tempat kelahiranku.

Bisa anda bayangkan sendiri tentunya, di Jawa saya bisa mendengar adzan dari masjid dari tempat pelosok sekalipun. Sedangkan di sini? tidak. Saya hanya bisa mendengarkan suara adzan dari aplikasi dari handphone saja. Jarak antar masjid satu dengan masjid yang lain cukup jauh, waktu yang cukup lama jika ditempuh dengan berjalan kaki yang biasanya membutuhkan waktu 15-20 menit. Seperti yang saya lakukan pada ramadhan tahun lalu.

Dengan keadaan yang demikian adanya, membuat ibadah puasa harus dilakukan dengan motivasi yang ekstra dan hati-hati. Ekstra tenaga dan ekstra semangat. Juga harus berhati-hati, jangan sampai mengganggu tetangga saat kita bangun sahur. Berhati-hati dalam hal menjaga waktu juga harus diperhatikan terutama saat masuknya waktu sholat, buka dan sahur. Alhamdulillahnya saya hidup di jaman yang sudah modern dengan teknologi yang cukup maju, sehingga meski jauh dari masjid saya masih bisa mengetahui waktu adzan.

Sahabat,

Saya tinggal di kota Denpasar. Gambaran mengenai keadaan masyarakat yang sebagian besar non muslim itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang daerah pelosok. Kota Denpasar lebih banyak muslimnya tapi masih kalah banyak dengan non-muslimnya, lebih-lebih dengan yang ada di pojok desa. Beberapa hari yang lalu, saya diundang buka bersama di salah satu rumah seorang muslim yang kebetulan berada di sebuah desa yang bisa dikatakan tidak jauh dari pusat kota.

“Siulan” daerah yang tidak terlalu jauh dari pusat kota, lebih tepatnya sekitar 5 kilometer dari jalan raya Bypass Ngurah Rai. Penampilan desa khas adat Bali dengan penjor bekas hari raya galungan yang sudah layu terpasang di sepanjang jalan menuju perkampungan tersebut. Sungguh, minoritas penduduk muslim yang ada di sana. Dari satu kampung itu hanya ada tidak lebih dari 10 keluarga yang letak rumah satu dengan yang lain jaraknya tidak dekat. Sudah barang tentu tidak ada mushola di sana, apalagi masjid. Namun, saya salut dengan persaudaraan antar sesama muslim di sana.

Selama ramadhan ini, tadarus diadakan setiap malamnya sehabis sholat tarawih dari satu rumah ke rumah lain. Setiap sore sebelum buka, semua wanitanya membantu masak di rumah yang akan jadi tempat tadarus malam harinya. Waktu saya berbuka di sana kebetulan rumah tersebut juga menjadi tempat berbuka bersama anak-anak tadarus alquran. Benar-benar suasana akrab terasa kental berada di sana. Tampak laksana keluarga besar yang sedang berkumpul.

Mungkin ada yang bertanya dimana sholat tarawih dilaksanakan? Hehe..

Sholat tarawih berjamaah tetap diadakan, meski tak ada mushola atau masjid. Lokasi sholat diadakan di salah satu rumah gedong salah satu dari segelintir muslim di sana. Tempatnya cukup luas, kurang lebih 3 kali lipat dari rumah tempat buka bersama. Sayangnya saya tidak ada kesempatan untuk mampir masuk ke dalam rumah itu. Tampak dari luar sih memang benar-benar besar rumahnya.

Inti sebenarnya bukan dilihat dari seberapa banyak masyarakat muslimnya, tapi bagaimana jiwa kita semangat untuk berlomba mendulang pahala di bulan suci ini. Tidak menjamin puasanya orang ditengah penduduk yang mayoritas muslim bisa lebih baik daripada puasa segelintir manusia diantara masyarakat mayoritas non muslim.

 
— :: Mari semangat beribadah yang sesuai sunnah agar diterima Allah Rabbul’alamiin.. :: —
Iklan

42 responses to “Ramadhan Ke-Dua di Pulau Dewata

  1. Yang saya tau …
    setiap kali mendarat di Bandara Ngurah Rai …
    saya selalu tertarik dengan sebuah masjid yang ada di tepi jalan tidak jauh dari Bandara itu. letaknya ada disebelah kiri jalan kalau kita dari Bandara …

    Salam saya Ari

  2. Sangat membutuhkan semangat yang lebih mengingat lingkungan yang berbeda dan jauh dari masjid. Tapi itulah ujiannya, meski keadaannya demikian tentu tidak akan mengurangi kesungguhan dalam berpuasa di bulan ramadhan.

  3. saat dhe masih di pemogan, kos kami tepat di samping mushola, jd bs stiap saat dengar azan. di pemogan jg suasananya spt di jawa, rame org muslim jg. dan srasa spt di jawa. tp saat bulan ini pndah ke sesetan, sama sx ga kedengaran azan. hikz 😦
    tiap pulang kantor klo mo buka puasa mesti ke mesjid, klo ga diponegoro ya ke tuban. hehehe.. abisnya, dhe blum tw mesjid yg laen daerah bali.

    tp, mari qt harus ttp smangat ngejalani ibadah ya kan 😀 hehehe

    • Di sesetan kan ada masjid juga mbak, tapi lupa nama daerahnya, hehe…ntar tak tanyakan temen deh. Diponegoro masjid AnNur ya? Ke ukhuwah aja, jalan sulawesi…ujung jalan diponegoro, saya biasa disitu. Ato kalo enggak di masjid baitul makmur di monang-maning. Mbak tempat kerjanya dimana?

  4. Justru dengan hanya sedikit muslim yang ada, suasana keakraban dalam suasana ramadan semakin terasa antar sesama. Satu dengan yang lainnya akan saling mensupport.

  5. Wah, aLhamdulillah saya di Jakrta. jadi ga ekstrim banget (walaupun “parah” juga)..
    semoga ALLAH menguatkan antum..

  6. kalo di Denpasar mah lebih enak mas soalnya yang nggak puasa memang mereka yang non muslim. coba lihat yang di kota2 besar yang mayoritas muslim, orang muslim pun banyak sekali yang dengan PDnya tidak puasa, bahkan makan di tempat umum. wallahu’alam

  7. Seperti kegiatan di kampung saya di Jogja, biasanya taraweh dilakukan di rumah. Abis taraweh mengaji sambil nyemil gorengan. Setiap tahun ganti tuan rumahnya.

  8. aslm.. puntenn.. sy lg nyari kostan murah tp deket mesjid ad ga ya?? budget 300rb-an gitu masih ad ga ya?? makasih..

    • sy baru seminggu disini.. sambil nyari kerja.. skalian kl ad info sewa motormurah gitu.. Sewa motor berapaan ya? Lg musim liburan apa mahal jg ongkos sewany?? makasih =D

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s