Trauma Terhadap Sarung

Bismillah,

Sarung sudah tak asing lagi di Indonesia, semua penjuru insya Allah tidak akan gagap mengenal sarung. Namanya juga sudah nasional, SARUNG. Sesungguhnya sejak kecil saya tidak terlalu suka dengan sarung, tak seperti sebagian besar anak-anak sebaya saya saat itu. Karena alasannya simple, saya trauma terhadap sarung gara-gara saat khitan menggunalan sarung, hihi..

Saat SD saya hanya punya satu sarung, sarung yang setiap hari kupakai sholat hanya di madrasah, itupun saat sholat dhuhur saja. Setiap kali ibu mau mengganti sarung, saya selalu menggelengkan kepala, sebab saya tak mau memakai sarung yang ukurannya tidak pas (kekecilan).

Ukuran sarung, apalagi yang bermotif kotak-kotak itu kebanyakan berukuran orang dewasa, kalaupun ada yang seukuran anak usia kelas 4 SD sangat jarang adanya. Saya beranggapan sarung besar itu memang selalu lebih ribet memakainya. Tak khayal dari kelas 3 sampai lulus SD sarung saya pun tak tergantikan. Sarung batik lusuh yang pas dipakai lebih saya sukai daripada sarung baru yang ke-gede-an.

Saya khitan pada saat kelas 5 SD. Anak yang baru dikhitan pasti harus mengenakan sarung agar lebih bebas bergerak dan lebih mudah untuk bongkar pasangnya 🙂 . Nah, saat itu sarung kesayangan saya berperan, sarung batik lusuh nan sempit itu menghalangi jimat yang baru saja dirumat, hihi..

Sudah tentu tak nyaman dikenakan, seharusnya anak khitan itu harus memakai sarung yang lebar agar bebas bergerak sehingga sang jimat tak tergesek. Juga karena ada benda tambahan yaitu cengkal (kulit kelapa yang dibentuk sedemikian rupa untuk menyangga sarung agar tidak menempel dan mengenai luka. Karena sempitnya sarung, saat tidur dan tak sadarkan diri, cengkal tersebut jatuh dan mengenai luka khitan. Alhasil, yang seharusnya sembuh dalam waktu satu minggu, malah saya bertahan hingga 1 bulan dan tak kunjung sembuh.

Setelah sekian lama dan akhirnya sarung kesayangan saya robek saya pun tak mau lagi memakai sarung. Sampai akhirnya 2 tahun terakhir ini saya baru kembali memakai sarung dan membiasakan diri untuk memakainya. Ternyata sangat nyaman, lebih bisa bebas bergerak saat sholat dan tidak akan ISBAL karena kita sendiri yang mengaturnya kan? 😉

Nenek saya selalu membuatkan sarung batik tulis karya sendiri untuk para cucunya yang akan menikah kecuali saya, karena awalnya saya menyatakan diri tidak suka memakai sarung. Berhubung saya sekarang sudah menyukai sarung, maka saya sangat menginginkan sarung buatan nenek saya itu, untuk dikenakan saat berijab qobul, hehe..

Note: Isbal = menjulurkan sarung sampai di bawah mata kaki.

Sodara…sudah ikutan giveaway “Berbagi Cerita Tentang Sarung” kan? Bagi yang belum, insya Allah diberikan kesempatan untuk mengikuti giveaway lainnya, sebab Kak Akin sudah menutup acara kontesnya kemarin sesuai deadline yang sudah kami umumkan. So, untuk yang sudah terdaftar resmi tunggu pengumumannya esok hari ya? Kami berdua sudah mengantongi nama peserta yang akan dikirimi sebuah sarung samarinda lho 😉

:: Selamat Berharap-harap Cemas ::

39 responses to “Trauma Terhadap Sarung

  1. Pak jurinya malah punya cerita seru dgn sarung. Nenek sudah mulai buat sarung batik tulis untuk Ari? Kereeen… (kayaknya waktu semakin dekat nih..)

  2. Ping-balik: Pengumuman Pemenang Cerita Tentang Sarung « Try 2B cool 'n smart…·

  3. keknya sekarang banyak anak2 yang gak suka pake sarung lagi saat dikhitan…
    Ini menurut pengamatanku loh… 😀
    Tengkiyu ya, Ri… Karena telah menemaniku dalam penjurian giveaway “Berbagi Cerita Tentang sarung” 🙂

  4. dewan juri ternyata punya cerita sendiri tentang sarung.. ^_^
    dapet vocab baru lagi dari Ari nih… “Isbal”

    ohya, udah liat pengumumannya Kakaakin…
    selamat utk para pemenang… ^_^
    dan sukses selalu utk Pak Juri.. hehe..

  5. Merindiiiing pas baca luka yang baru sebulan baru sembuh itu…persis dengan yang dialami adik-adik saya dulu soalnya…

    Sarung, ah…suami saya aja yang suka pake sarung pas sholat. Saya tetep pake mukena dua bagian, karena selalu merosot kalo bawahannya pake sarung 😀

  6. 😀 Adik sepupu ku malah menolak menggunakan sarung. Baru 2 hari selesai di khitan, eeh dia-nya sudah bercelana panjang ria kembali. Katanya, malu pakai sarung. haha

  7. haduuuuhh, saya merinding mas ngebayangin tragedi itu. Soalnya hal itu juga pernah dialamin sama adek saya, dulu sarungnya pernah 1 kali mengenai itunya yang baru disunat. haduuuuhh gk tahu deh gimana rasanya.

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s