Tragedi Denpasar-Pekalongan

Masih belum lenyap ingatan saya saat mudik waktu lalu, rasanya benar-benar menggores di hati. Mungkin bisa jadi cerita kepada anak cucu saya nantinya, kalau kakek satu ini masih kuat, haha. Lah, bagaimana tidak menggores di hati, wong perjalanan dihiasi acara berpetualang juga. Saya memang suka petualang, tapi tidak jika bukan tujuan utama saya. Ya iya donk, acara mudik mintanya sih agar bisa segera tiba di kampung tercinta, bukannya malah berpetualang yang tak terarah entah dimana terminalnya.

Tragedi besar yang saya maksud adalah NYASAR bahasa internasionalnya “tersesat”. Pengalaman pertama ini tentunya bisa dimaklumi untuk orang yang baru pertama mudik seperti saya ini. Meski banyak terbantu oleh papan arah yang ada di jalan (warna hijau), tetap saja saya salah. Papan petunjuk arah sering tak terlihat jika sedang menyalip kendaraan besar. Lebih parah lagi jika melalui jalan searah, tak bisa menghindar jika selangkah salah arah.

Perjalanan bagian pertama (Denpasar-Probolinggo) saya bisa menghindari kesalahan sebab banyak kawan yang saat itu mudik bareng. Juga karena jalur Denpasar-Probolinggo tergolong mudah, jalur utamanya hanya satu saja. Orang awam yang baru pertama melewati pun saya kira juga tak akan tersesat. Tragedinya bukan terjadi pada jalur itu, tapi setelahnya, jalur Probolinggo-Pekalongan.

Masih ingatkah kawan-kawan dengan cerita ringkasan perjalanan saya waktu lalu? jika masih bingung bisa baca di sini. Perjalanan melelahkan yang seharusnya bisa saya tempuh lebih cepat telah ku sia-sia kan gara-gara “nyasar”. Perjalanan mudik berasa tak seperti mudik, journey to the west terasa lebih sepi dibandingkan dengan kendaraan yang menuju arah timur.

Susahnya mudik sendirian, tanpa seorang teman pun. Kesulitannya saat berhenti untuk istirahat, sholat, makan (ishoma). Untungnya waktu mudik tidak ada acara makan karena saya tetap berpuasa. Yang paling susah saat beristirahat, apalagi jika barang bawaan banyak, saya sih cuma bawa satu ransel kecil yang cukup berat. Kenapa susah? karena kita tidak boleh sembarangan meninggalkan barang bawaan di tempat umum seperti SPBU dan masjid. Sehingga cukup menyusahkan, masa mau ke toilet harus dibawa barang bawaannya lengkap, sampai-sampai helm pun saya bawa masuk.

Waspada lebih baik daripada lalai kan? ingat kata bang napi, “kejahatan bukan karena ada niat dari pelaku, tapi juga karena ada kesempatan” dan kesempatan ada itu karena kelalaian dari kita bukan?

Lain halnya jika ada teman yang mendampingi, setidaknya bisa bergantian ke toilet tanpa harus membawa tas berat turut serta. Tapi, tidak adanya teman merupakan salah satu yang menjadi alasan saya untuk tidak banyak berhenti. Oleh karena itu, saya hanya berhenti untuk sholat dan istirahat (tidur) selama kurang lebih 1 (satu) jam hanya sekali saja.

“Nyasar” terjadi saat hutan jati Blora – Semarang akan berakhir. Saya lihat tanda petunjuk arah di pertigaan itu, ke kiri arah Solo / Jogja sedangkan ke kanan arah Kudus / Pati. Hanya beberapa detik saya putuskan mengambil jalur kanan, Kudus/ Pati. Pikir saya, kalau melewati Solo perjalanan akan bertambah lama sebab Jogja termasuk jalur selatan, sedangkan saat itu saya berada di jalur pantura. Lama ku tempuh jalan ada pertigaan lagi dengan petunjuk arah ke kiri: Kudus, sedangkan lurus menuju Pati. Saya ambil jalan lurus, saya pikir Pati itu lebih dulu daripada kudus dari arah timur, dan saat itu ku lihat ada mobil ber-plat B (asal Jakarta) “Wah, kalau ada dari Jakarta berati dia juga mudik, artinya dari arah mobil itu menunjukkan jalan pantura ada di sana” pikirku sedetik saat itu.

Namun sayangnya anganku tiba di rumah 3 jam lagi buyar sesaat melalui petunjuk arah kedua, kiri ke Kudus, lurus ke Pati. Jalan lurus tak selalu mulus, wal hasil saya menuju ke daerah pegunungan yang sepi, jalan naik turun lenggak lenggok bak berada di lintasan roller coaster. Lama saya ikuti bertambah besar keraguan saya, seharusnya Pekalongan itu ke arah barat, eh ini malah ke utara agak serong ke timur. Sampai melewati persawahan yang lumayan panjang, ku lihat banyak petani “semangka” yang sedang memanen. Terlihat segar warna merah dari semangka yang sudah dibelah terletak dipinggir sawah, petani itu menjual hasil panen langsung ditepi sawah.

Memang indah pemandangannya, tapi bukan saatnya untuk menikmati alam indah terbuka, saya harus cepat pulang. Sekian lama ku tempuh jalan tak berujung, akhirnya saya menyerah, sudah putus asa. Kebayang jika tak bisa pulang berada di tengah hutan, hiii..sereeemm>> Muncul ide mendadak, yang nekat saya ikuti karena sudah tak ada jalan keluar lagi, ide itu adalah mengikuti matahari terbenam. Ya, petunjuk arah satu-satunya yang bisa membantu saya adalah mentari sore yang hampir tenggelam. Matahari terbenam ke barat, sama seperti tujuan saya ke barat. Saya ikuti saja matahari itu yang kemudian bisa membawaku ke jalan besar kota.

“Alhamdulillah…” ucapku lega setelah melihat papan arah menuju kota Semarang. Dalam hati girang bukan main, memaksa saya tetap ekstra berhati-hati agar tidak salah jalur lagi. Saya sudah beberapa kali ke Semarang dengan naik motor, tentu saja saya hafal benar jalan Semarang-Pekalongan. Walaupun jalan sedikit berbeda dengan kondisi jalan saat saya lalui tempo dulu, saya tetap melajukan sepeda motor dengan optimistis.

Semarang kota ku lalui, Kendal pun terlewati, hingga akhirnya tembus di Weleri…Ahh…Batang nongol juga. Alhamdulillah yah? Saya bisa keluar dari pegunungan dan persawahan sebelum matahari tidur. Kota Batang adalah kota yang berbatasan dengan Pekalongan, sehingga saya tak perlu ngoyo lagi memacu kendaraan. Maghrib pun tiba, saya berhenti di SPBU Batang kota untuk berbuka dengan takjil yang sudah ku bawa dari Denpasar yaitu satu kotak kurma.

Saat itu badan sudah terasa kaku, kepala pening berat. Ditambah lagi baru beberapa kilometer jalan, mata saya kemasukan binatang kecil. Duuh, benar-benar bikin hilang kesabaran. Saya membuka kaca helm agar bisa melihat jalan yang saat itu terlalu gelap, tapi malah kena musibah, segera saya menepi untuk mengatasinya. Air minum yang tinggal setengah saya gunakan untuk cuci mata (benar-benar mencuci mata) yang semakin pedih.

Keceriaan tak selalu berjalan mulus, ada kalanya sewaktu-waktu bisa berubah menjadi duka. Inti dari berkendara jarak jauh adalah konsentrasi dan sabar. Dengan dua hal tersebut insya Allah, kita akan selalu terjaga. Konsentrasi kunci hati-hati, berhati-hati itu harus konsentrasi. Tidak selalu ngebut itu grusa-grusu, ngebut yang santun adalah ngebut dengan hati-hati, artinya pandai melihat situasi jalan. Mengurangi kecepatan saat jalanan tak sepi. 😀

Salam

Iklan

25 responses to “Tragedi Denpasar-Pekalongan

  1. Ikut senang dengan berakhirnya petualangan balik kampungnya Mas. Selamat kembali ke istana persinggasanaannya, semoga dapat beraktifitas kembali dengan cepat dan lancar.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

    • oiya, sebelum berangkat, saya telah berjanji untuk tidak bertanya-tanya pada orang. ada alasan tersendiri, hehe.. yang jelas agar aku bisa lebih kuat..banyak hikmah juga ternyata, hehe

  2. Bisa jadi tersesatnya itu emang di Blora perbatasan Pati, Mas. Atau malah sudah masuk wilayah Pati bagian selatan yang memang daerah pegunungan kapur denganhutan jatinya. Kalau diteruskan mungkin malah nyampai rumah saya.
    Hehehehe

    • wah..tau gitu tak lurusin aja pak, biar kita bisa kopdar, hihi..sayangnya pas mudik c…
      tapi sepertinya saya belum sampai pati deh, baru jalan ke Pati langsung nembus kudus pak..

  3. wah mau nulis apa ya…., dahsyat….pengalamanya…, ini saya lagi nyari pengalaman mudik berkendara sendiri lewat pantura….,tq ceritanya..

  4. Ping-balik: Menerawang Gili Trawangan « Tunsa·

  5. Ping-balik: [Batikkan harimu] Pekalongan Kota Batik | Tunsa·

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s