Ro’umpet

Bismillah,

Ro’umpet, adalah suatu permaianan saya ketika masih kecil. Permainan tradisional ini juga tak jarang masih disukai anak-anak dewasa pada jaman dulu. Seru dan menyehatkan, ketika kita memainkannya. Hehe..ini permaianan sudah umum ada hampir diseluruh daerah di Indonesia kok, bahkan di dunia. Hanya saja nama dari permainan itu berbeda-beda. Perbedaan tersebut dikarenakan oleh orang yang pertama membawa permainan tersebut ke suatu daerah.

Penasaran? 😀

Jangan penasaran, itu permainan anak-anak yang seringnya dimainkan saat malam hari. Nama ro’umpet mungkin diambil dari bahasa Belanda (haha…yang ini ngawur). Pemain tidak dibatasi, sebanyak-banyaknya juga bisa. Begitu juga usia dari peserta tidak dibatasi, tetapi lebih baik jika yang memainkannya adalah anak-anak dengan usia sebaya agar tidak terjadi diskriminasi yang menyebabkan salah satu anak menangis. Di kampung saya sudah biasa, jika pemain tidak sama rata maka permainan akan berakhir dengan tangisan salah satu anak. Permainan ini membutuhkan kejelian dan ketangkasan. Bukan permainan kelompok, artinya tidak memerlukan kerjasama antar kelompok.

(Hehehe..terlalu bertele-tele) Nama internasionalnya Hide and seek, saya ingat permainan ini pernah muncul di modul SMP saya dulu :mrgreen: Awalnya, saya tak menyangka bahwa permainan dengan nama nasional “Petak Umpet” ini ada juga di luar negeri, hihi.  Petak Umpet memang lain julukan di setiap daerah. Khusus di Pekalongan bernama Ro’umpet. Contoh lain di daerah Probolinggo istilahnya Pak Tepong atau Tekongan. Tak hanya berlainan nama, mungkin juga cara memainkannya.

Anak-anak desa Tunsa selalu memainkannya ramai-ramai, bisa lebih dari 10 anak dalam satu permainan. Biasanya memang dimainkan saat malam hari, karena kondisinya yang sangat mendukung. Satu orang yang berjaga “wajib” menemukan anak-anak yang telah bersembunyi, jika anak yang diketemukan maka si penjaga harus teriak “Dua Lima” dan menyebut nama dari anak yang sudah ketemu. Untuk menentukan siapa yang jadi “penjaga / penunggu” salah satu tiang atau pohon dengan cara “hompimpa” (entah bagaimana ejaannya, xixi)

“Dua Lima Otong..”

Jika “penunggu” sudah menemukan temannya, tidak cukup hanya berteriak “Dua Lima” tapi masih harus bekerja keras berlomba menyentuh tiang yang dijaganya. Penjaga tiang dianggap sah menemukan “maling”nya jika lebih dulu menyentuh tiang yang dia jaga. Dan jika ternyata si “maling” lebih dulu menyentuh tiang maka harus teriak “Tol” dengan lantang (Huruf “O” diucapkan seperti pada kata “GOL”)

Jika penjaga menemukan anak yang bersembunyi lebih dari satu, untuk menentukan penunggu selanjutnya adalah yang kalah. Namun jika tidak menemukan seorang pun maka dia kembali berjaga tiang. Itulah sebabnya kenapa permainan ini saya sarankan diikuti oleh anak-anak sebaya. Karena biasanya teman yang terlalu kecil akan selalu menjadi penjaga tiang, dan akhirnya permainan bisa langsung bubar jika ada salah satu anak yang menangis.

Hahaha..jadi inget saat aku nangis di pojokan rumah karena main ro’umpet dengan anak-anak SMP yang lebih besar. Ternyata seru juga yah? kemarin saya sempat ngobrol dengan kawan-kawan mengingat permainan jaman dulu. Banyak dan bikin sehat. Berbeda dengan generasi sekarang, sepertinya sudah jarang peminat permainan tradisional. –Mending main PS daripada lari-larian ngalor-ngidul yang bikin capek-

Iklan

46 responses to “Ro’umpet

  1. Nama permainan ini beda beda ya tiap daerah, ada yang menyebutnya petak umpet, eh bener yang ini bukan ya? Kalau iya maka di desa dimana saya tinggal, permainan ini dulu dikenal dengan nama “Jetungan”

    salam dari gunungkidul

  2. Nah di tempatku namanya Ucing Sumput..
    sama an kaya Orin..

    Senneg banget,dulu waktu Sd sering main ucing2an..
    Aha sangat menyenangkan..
    Kalo sekarang mah anak2 jarang maen kaya gituan..

  3. di kampung dulu, nama permainan seperti ini yah biasa-biasa saja, main sembunyi2, hihi
    menyenangkan, menyehatkan juga.
    meski anak-anak sekarang jarang main seperti itu lagi, tapi saya tetap ngajarin si sulung ma si tengah mempelajari permainan2 tradisional. InsyaAllah akan saya jauhkan dari PS dan sebagainya yang merusak generasi

  4. Perminaan jaman dulu selalu mengajarkan kebersamaan dalam setiap aturan main nya. Beda dengan permainan jaman sekarang yang mengutamakan ketrampilan individu. Jadinya sang anak jadi jarang bergaul dan cenderung egois.

    Jaman saya dulu permainan model begini selalu membuat saya ketagihan. Kadang sampai berdarah-darah dan membuat orang tua kuartir 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  5. hompimpa alaium gambreng.. hahahahaha, bener gk mas?? permainan masa kecil itu memang lebih seru yaa mas, sayang anak2 sekarang lebih suka dengan permainan yang hanya membutuhkan konsentrasi mata dan tangan..

  6. oh ternyata ro’umpet itu petak umpet ya…
    aku nggak suka skrg sama petak umpet…
    gara2 vania pernah ngumpet aku nyari smpe hampir jantungan…
    nggak lagi deh..
    maenan tradisional yg lain aja deh… jgn petak umpet…

  7. Anak2 bermain di malam hari untuk jaman sekarang sudah tak lagi bisa ditemukan karena mereka lebih asyik di depan televisi. Jaman saya kecil dulu, terutama ketika besok libur gak sekolah, habis maghrib sudah bermain hingga pukul 9 malam dengan permainan tradisional yang tak pernah lagi dimainkan anak sekarang.

  8. Ping-balik: Indonesia Jual Listrik « Tunsa·

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s