“Makan” Yang Seharusnya

Makan tak lagi sekedar rutinitas. Namun juga telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Cara dan posisi makan, tata hidang berikut alatnya, hingga busana yang dikenakan juga menganut ‘ideologi’ tertentu. Repotnya, model yang dianut (lagi-lagi) adalah tata cara Barat. Bagaimana agama Islam nan sempurna ini mengatur tata cara makan? Simak bahasannya!

Islam adalah dien rahmat bagi alam semesta. Dien yang menjelaskan segala bentuk kemaslahatan manusia, mulai dari masalah yang paling kecil dan ringan hingga masalah yang paling besar dan berat. Islam sebagai rahmat telah memberikan arahan kepada pemeluknya untuk tidak mendekati perkara-perkara yang akan memudharatkan dirinya. Demikianlah kesempurnaan Islam yang hujjahnya sangat jelas dan terang, malamnya bagaikan siang. Sehingga tidak ada satupun permasalahan yang tersisa melainkan telah dijelaskan di dalamnya.

Kesempurnaan Islam

Makan dan minum merupakan kebutuhan jasmani setiap orang dan akan bernilai rohani bila diniatkan untuk beribadah kepada Allah. Tidak ada satupun dari makhluk di muka bumi, yang melata sekalipun, yang tidak butuh makan dan minum. Allah telah banyak mengingatkan tentang kebutuhan ini di dalam firman-firman-Nya:

“Hai sekalian bani Adam, ambillah perhiasan-perhiasan kalian setiap kalian memasuki masjid, makan dan minumlah dan jangan kalian berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)

Sebagai bentuk kesempurnaan syariat dan hikmah Allah di dalam menentukan urusan-urusan-Nya, Islam telah menjelaskan tatacara dan adab di dalam memenuhi kebutuhan jasmani setiap orang beriman agar mereka mendapatkan nilai yang besar di sisi Allah dan bernilai ibadah ketika melaksanakan hal itu (makan)

Keadaan Bejana

Dianjurkan bagi setiap muslim untuk memperhatikan bejana yang dipakai, baik ketika memasak ataupun menghidangkannya. Tidak diperbolehkan bagi mereka untuk menggunakan bejana orang kafir. Dan bila tidak ada bejana lainnya, maka diperbolehkan dengan syarat bejana tersebut harus disucikan dari kotoran dan najis, bila bejana tersebut tadinya dipakai untuk memasak babi dan minum khamr. Dan bila bejana tersebut tidak dipakai untuk hal-hal kotor dan najis, hal itu diperbolehkan secara mutlak, sebagaimana sabda Rasulullah Sallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Jabir bin ‘Abdillah z:

“Di saat kami berperang bersama Rasulullah, kami mendapatkan bejana-bejana kaum musyrikin dan kendi-kendi minum mereka. Kemudian kami memanfaatkannya dan beliau tidak mencelanya.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud no. 3838 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Abu Dawud 2/727, no. 3251 dan di dalam Al-Irwa`, 1/72 

Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani z, bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah:

“Sesungguhnya kami berada di tengah ahli kitab dan mereka memasak babi di panci-panci mereka dan meminum khamr di bejana-bejana mereka. Rasulullah bersabda : ‘Kalau kalian menjumpai yang lain, maka makan dan minumlah padanya. Dan jika kalian tidak menjumpai bejana lainnya, maka cucilah dengan air lalu makan dan minumlah (padanya)’.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud no. 3839 dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud 2/726, no. 3240 dan di dalam Al-Irwa`, 1/74.

Selain larangan memakai bejana orang kafir ketika makan dan minum, Rasulullah  juga melarang kita untuk makan dan minum dengan bejana emas dan perak, sebagaimana sabda Rasulullah:

“Janganlah kalian minum memakai bejana emas dan perak…  karena sesungguhnya (bejana emas dan perak tersebut) bagi mereka (orang kafir) di dunia dan bagi kalian di akhirat.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5633

Rasulullah n bersabda:

“Orang yang minum dengan bejana perak, maka sesungguhnya akan dituangkan api jahannam dalam perutnya .” Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5634

Bila hal ini dilakukan oleh seorang mukmin di dunia, dan dia belum bertaubat Rasulullah menyatakan:

“Dia tidak akan minum dengannya di akhirat nanti.” Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 5358

Berdoa Sebelum Makan

Permasalahan yang sungguh sangat ringan, namun sering terlalaikan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu berdoa sebelum makan. Padahal lebih ringan daripada mengangkat sesuap nasi ke mulut dan lebih ringan daripada menahan lapar. Yaitu membaca:

Bismillah (Dengan nama Allah)”

Dan bila lupa membacanya kemudian ingat, kita diperintahkan untuk membaca pula yaitu: “Bismillah Fii Awwalihi wa Akhirihi (Dengan nama Allah, di awalnya dan di akhirnya)”

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:

“Apabila salah seorang kalian makan suatu makanan, maka hendaklah dia mengucapkan ‘bismillah’ dan bila dia lupa di awalnya hendaklah dia mengucapkan ‘bismillah fii awwalihi wa akhirihi’.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 1936 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi 2/167, no. 1513 dari shahabat ‘Aisyah x

Di dalam hadits yang lain dari shahabat yang membantu Rasulullah selama 18 tahun, dia bercerita bahwa: “Dia selalu mendengar Rasulullah apabila mendekati makanan mengucapkan bismillah.” Diriwayatkan oleh Ahmad (4/5062/375) dan Abu Asy-Syaikh di dalam kitab Akhlaq An-Nabi hal. 238 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Silsilah Ahadits Shahihah 1/152 no. 71

Subhanallah, betapa nikmatnya agama kita ini. Bahkan “makan” saja yang termasuk rutinitas sehari-hari kita lakukan ada adab dan ketentuannya. Sekarang, sudah kita ketahui caranya tinggal aplikasi dalam kehidupan rutinitas kita saja bukan? Jadikan hidup ini lebih hidup dengan menjalankan perintah Allah dan Rasulnya. Meskipun sebagai manusia terkadang sifat serakah dan rakus yang ada pada diri kita lebih besar daripada sifat baiknya.

22 responses to ““Makan” Yang Seharusnya

  1. makan seharusnya untuk hidup, bukan hidup untuk makan
    apapun yang dimakan untuk bertahan hidup

    betul tidak ya?? tapi memang benar kadang apa yang dimakan memiliki nilai gengsi juga yak

    salam dari pamekasan madura

  2. Alhamdulillah sejauh ini berusaha berdoa sebelum makan. Oh ya, aku juga pengen posting tentang makanan yang dijamin halal oleh MUI. Kok banyak beredar isu makanan dari resto cepat saji tertentu kok mengandung racun padahal sudah ditetapkan halal oleh MUI. Termasuk meresahkan gak ya tulisan bernada isu tersebut?

  3. Yuppee…

    Terima kasih untuk artikelnya

    I wondering,someday mui atau ylki juga ikut serta dalam menyehatkan masyarakat indonesia,halal dan menyehatkan akan lebih baik dari sekedar ‘halal’,​​​​°˚˚ºo(•̃͡-̮•̃͡) hέhέhέhέhέ (•̃͡-̮•̃͡)oº˚˚°…

  4. Oo… ternyata gak boleh makan dengan peralatan emas/perak…🙂
    Kadang ada tuh cangkir keemasan oleh2 dari orang naik haji. Mungkin itu cuma kuningan aja ya…😀
    Semoga semua yang masuk ke tubuh kita, terjaga kehalalannya🙂

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s