Hari Raya Idul Adha Silam

“Tok…tok..tokk…”

#buka pintu kamar kos ku

“Ayoo..buruan…nanti telat” kata temanku

Terlihat basah disekitar dahinya, karena keringat sehabis melaksanakan sholat maghrib

“Bentar..bentar…tinggal dikit, doohh…apalagi ya..yang musti ku bawa” Aku mulai tergesa-gesa

“Telat wis…gak usah bawa barang banyak, kayak mau pindahan aja” Hendi (nama samaran) temanku mulai sedikit emosi.

“Yahh….iki lho, ces-cesan…! okelah, mari kita berangkat!!” Ketemu juga apa yang ku cari sedari tadi

Ternyata dua orang temanku yang lain sudah menunggu dibawah. Kami mau mudik! malam itu adalah malam Idul Adha 1428 H. Berarti kalau dihitung-hitung sudah 4 kali itu saya mudik dari Jakarta ke Pekalongan. Lega rasanya, barang bawaan diransel kecil sudah lengkap dan tak ada yang tertinggal. Kami berjalan kaki sekitar 200 meter sebelum akhirnya menaiki 03 A yang sedang mangkal dibawah flyover di bilangan sungai bambu. Untuk menuju ke terminal Tanjungpriok saya harus menaiki angkutan umum sekali.

“Capeknya diriku, tadi kerja diluar kantor seharian” aku memulai obrolan diangkot.

“Untung aku masuk shift 2, jadi bisa istirahat dulu” sahut Anto yang kebetulan satu bagian denganku.

Obrolan ngalor-ngidulΒ yang menemani perjalanan selama 15 menit akhirnya berakhir di terminal Tj. Priok. Saat itu ku lihat jam di hape sudah menunjukkan pukul 20.03 waktu setempat. “Wah, kita telat!” Temanku tercengang melihat lautan manusia di terminal. Bis antar propinsi tak lagi menampung jumlah penumpang yang sedemikian banyaknya.

“Ayo ke Pulogadung saja, di sini kayaknya sudah tidak ada bis” Kata ku, sambil menarik tangan salah seorang teman.

“Bentar, pasti ada. Kita tunggu sejenak di sini ya?” teman yang paling tua diantara kami mencoba meyakinkan. Lagi pula, dia kan senior sudah lebih dulu tinggal di Jakarta dan sudah sering pulang kampung, jadi kami menurut Β saja.

Aha..benar ada. Namun sayang, bis tak sempat mendekati kami. Saya dan teman-teman mengejarnya, tapi tak bisa juga. Seketika bus berhenti, seluruh penumpang langsung mengerumuninya, berlomba siapa yang paling cepat masuk. Benar-benar Jakarta! ini yang khas dari pinggiran Jakarta, hehe.

Kesempatan kami hanya itu, bus yang baru saja berangkat adalah armada terakhir yang memberangkatkan penumpang dari terminal Tj. Priok malam itu. Sekarang hanya ada dua opsi, urung mudik atau berusaha mencari bus di terminal lain. Kami menyepakati pindah ke Pulogadung untuk mendapatkan tumpangan. Tak lama, angkot ku stop dan kami berlarian naik. Sepertinya kami salah angkot, bukan salah jurusan, tapi salah memilih angkot, jalannya benar-benar santai, padahal kami diburu waktu, takut tak kebagian bus antar propinsi.

Akhirnya baru sampai bawah jembatan penyebrangan dengan jalan yang sedang direnovasi kami melihat ada bus antarkota yang juga jurusan Pulogadung. “Pak..pak, stop..kiri pak” Saya bayar semuanya, tak tau berapa uang receh yang kuberi pada pak sopir, kami terburu-buru. Temanku yang lain langsung nyetop bus tersebut.

“Naah..iki baru biss..cepet, hahaha” kami tertawa kecil berada di bagian belakang, meski berdiri, kami merasa senang. Tak lama kemudian sampai juga diterminal.

“Waaaaaauuuuu……!!” Komentar kami pertama kali setelah turun dari bis tadi.

“Kayaknya ini bukan ide bagus” tiba-tiba seorang temanku bergumam.

Maklum saja, terminal Pulogadung yang kami kenal sebagai terminal besar ternyata juga bak lautan manusia. Kami sangat shock, tidak biasanya hari raya Idul adha se-ramai ini diterminal. Kali ini sungguh susah mencari celah, tapi kami optimis bisa dapat bus, sebab terminal ini lebih banyak jadwal keberangkatan bus antar propinsi.

Begitu berat perjuangan kami…bagaimana tidak, setiap kali ada bus yang masuk, belum berhenti saja sudah digandoli calon penumpang. Saatnya tiba, bus yang kami lihat sepertinya agak mendekat ke arah kami, ini kesempatan. Jangan dibayangkan payahnya untuk menuju ke atas bus. Kami dapat, cek teman-temanku ternyata semua bisa masuk.

Memang benar kami bisa masuk, tapi jangan senang dulu. Kami dan belasan orang yang lain yang bisa masuk sudah tak dapat tempat duduk. Ya, kami semua berdiri, bukan satu atau dua orang tapi belasan orang yang tak kebagian tempat duduk. Laksana naik metromini saja, padahal perjalanan yang akan kami tempuh lebih dari 9 jam (perjalanan normal tanpa macet). Bus dengan kondisi “jelek” ini tetap saja mengangkut semua penumpang, kami ikut daripada tak bisa mudik :mrgreen: (benar-benar alasan khas penduduk asli Indonesia yah)

Saat itu sudah lebih dari jam sepuluh malam waktu Jakarta. Itu adalah pengalaman pertama saya yang menakjubkan. Tak lama setelah kami sampai di dalam, pintu langsung ditutup dan bus segera melaju keluar terminal. Β Sementara itu kernet minta uang dari setiap penumpang, benar-benar seperti naik metromini saja. Dan harganya pun menakjubkan. Satu orang dikenakan tarif 110 ribu sampai ke Pekalongan. Padahal ini bus tak ber-AC, yang jika pada hari-hari biasa harga tiketnya hanya 30 ribu saja.

Perjalanan sudah setengah jam, tapi kami belum bisa masuk tol terdekat, dikarenakan macet. Hahaini lah yang ku suka dari Jakarta! Jakarta banget, “Sesuatu”. Kami kembali tertawa kecil di bus yang saat itu bergemuruh karena suara penumpangnya.

***

Subuh menjelang, terdengar lirih suara adzan dari luar bus. Saya dibangunkan teman untuk melakukan sholat di dalam bus. Sholat ditengah celah antara kursi penumpang kanan dan kiri, dengan posisi duduk dan dengan dua teman yang berjaga di depan maupun belakang, takut ada orang yang lalu lalang. Kami lakukan secara bergantian. Kembali terkena macet di Cirebon. Kemacetan puanjang dan paling lama saat perjalanan.

Huufftt…Sudah subuh tapi baru sampai Cirebon. Padahal Pekalongan masih jauh. Terdengar suara takbir bersahutan, ku lihat dari balik kaca, terdapat hewan kurban yang sudah tinggal menunggu beberapa jam di eksekusi. Jam setengah 6 pagi, bukannya macet bisa terurai, tapi malah macet total. Kali ini bus terjebak di daerah sawah..Kanan kiri hanya ada sawah, jauh dari pemukiman apalagi masjid. Terlihat semua penumpang juga keluar dari kendaraan karena lamanya macet. Hingga telah lewat waktu Sholat Id, kami masih terjebak di perjalanan, hiks 😦 Rasanya sungguh sedih.

Baru setelah jam tujuh lewat, bus berjalan sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti hingga akhirnya saya baru sampai di Pekalongan sekitar jam setengah sebelas. Itu pun belum tuntas, kami kembali harus naik angkot menuju rumah.

***

Itu pengalaman saya tepat saat hari raya Idul Adha 4 tahun silam, pengalaman yang tidak akan saya ulangi lagi. Pelajaran yang sangat berharga, kalau mau mudik jangan ambil waktu mepet. Saya seharusnya berangkat dari Jakarta pagi hari, karena saat itu masih masuk kerja, saya dan kawan-kawan memutuskan untuk mudik malam harinya.

Tidak ada rencana mudik pada awalnya, karena saat itu kami hanya dapat jatah libur saat hari raya Idul Adha saja, cuma sehari. Saya nekat karena ajakan dari teman, dan memang ada sedikit keperluan di rumah, ada sepupu saya yang menikah. Akhirnya tak sempat ke rumah, saya langsung mampir di tempat sepupu. Lalu pulang ke rumah pada saat siang untuk beristirahat, sebab malam harinya saya harus kembali ke Jakarta. Besoknya saya masuk kerja πŸ˜€

Benar-benar nekat. Sampai rumah jam setengah tiga sore dan kembali ke Jakarta pada malam harinya, tepat jam 8 malam Wib. Sampai di Jakarta jam 6 pagi dan harus masuk kerja jam 7 πŸ˜† Sekarang hal itu mustahil saya lakukan lagi. Dan saya berjanji tidak akan “ngoyo” untuk mudik jika waktunya sempit, lebih baik berhari raya Idul Adha di kota orang πŸ˜€

Iklan

21 responses to “Hari Raya Idul Adha Silam

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s