Aktifnya Anak-anak

Aktifnya Anak-anak

Son….son….!!

Segerobol anak-anak yang baru pulang sekolah menghampiri rumahku. Aku yang yang ketika itu masih menyantap makan siang bersama keluarga langsung keluar rumah dan menghampiri mereka yang sudah siap dengan sepeda mininya masing-masing.

“Sik yo, aku ngentekke mangan ndisik” kataku kepada mereka agar menungguiku di depan rumah

Beberapa menit kemudian, cukup singkat, mungkin hanya 3 menit, aku keluar dengan pakaian simple dan santai ala sang pahlawan sepulang sekolah. Tak lupa sepeda phoenix hitam hasil lungsuran dari pamanku yang tergeletak di samping rumah ku kendarai. Aku memang biasa meletakkan sepeda tidak pada tempatnya, ku “geletakkan” begitu saja di pekarangan.

Oiya, sebelumnya sepeda-sepeda itu kami dimodifikasi dahulu dengan “slumpring” yang dikaitkan pada “arm” sepeda yang berada antara rantai, terhubung dengan poros belakang. Sengaja sedikit ditempelkan dengan jeruji sepeda agar menghasilkan suara seperti kapal mainan berbahan bakar minyak goreng. Semakin besar “slumpring” yang dipasang, akan semakin besar pula suara yang dihasilkan.

Slumpring adalah kelopak bamboo. Biasanya bamboo yang sudah besar “slumpring”nya mudah diambil, semakin besar bamboo maka semakin sedikit slumpring. “Slumpring” biasa kami menyebutnya, bisa membuat gatal pada kulit, jika tak tau cara mengatasinya. “Lugut” namanya, yang menempel pada “slumpring”, si penyebab gatal. Bentuknya seperti bijih besi yang menempel pada magnet.

Ok, lanjut..

***

Sekitar 2o anak dengan sepeda yang sudah dimodifikasi siap tampil berarakan keliling kampong. Bukan untuk main gundu, bukan untuk main laying-layang, bukan pula untuk tawuran. Tapi kami akan ber-pawai. Ya, saat itu memang sedang musim pencoblosan, kali pertama pemilihan Kepala Negara dengan system demokrasi. Kelompok kami, mendukung salah satu partai yang sedang masyhur di desaku. Tak lupa sebelum berpawai, kami pergi ke rumah salah satu tim sukses untuk mendapatkan kaos partai. Bagi yang tak kebagian bisa minta disablonkan, dengan membawa kaos sendiri dari rumah. Aku adalah salah satu anak yang tak mendapatkan jatah kaos tersebut.

Mulai start dari depan rumahku, yang posisinya tepat di tengah desa. Laksana pawai-nya orang-orang dewasa, kami juga berteriak dengan suara lantang menyeru partai yang didukung.

“Hidup….***..”

“Hidup ***..”

Sesekali kami bersikap arogan, meniru orang dewasa yang pawai, baik dari televisi maupun dari orang-orang sekitar. Kebanyakan dari kami sering diajak oleh orangtua maupun kakak-kakak untuk ikut mendukung salah satu partai saat pawai. Makanya tak asing lagi bagi kami cara berpawai dengan bersepeda.

Salah satu contoh kearoganan kami dengan menendang pagar sambil bersepeda, terkadang memetik dedaunan bahkan buah mangga yang pohonnya bergelayut di atas trotoar jalan. Pekikan, teriakan, sangat mengganggu para tetangga. Terkadang ada yang melakukan atraksi bersepeda, salah satunya adalah aku. Aku melakukan atraksi yang sering terlihat diantara peserta pawai di jalan raya, yaitu dengan mengendarai sepeda menggunakan kaki, sedangkan tangan dijulurkan ke atas, melambangkan partai yang kami dukung.

Karena hanya mengikuti tanpa keahlian, aku pun tak kuasa melakukan finishing dengan baik sehingga menyebabkan aspal keras ku cium. Parah, pawai tak terhenti meski ada salah satu anggotanya yang kecelakaan. Aku ditinggal begitu saja. Meski menyakitkan, tapi ada hikmahnya juga, sejak saat itu aku tak berani diajak pawai oleh temen-temenku. Mending bergabung dengan kelompok lain yang sedang main “panggalan” (gasing)

***

Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kisahku, bahwa anak-anak hendaknya jangan dilibatkan untuk kepentingan partai jika kita, para orangtua, memang terjun ke dunia partai. Karena anak-anak itu cepat tanggap dan segera meniru terhadap apa yang dilihatnya. Sedangkan kita tahu, kegaduhan partai-partai di Indonesia saat melakukan pawai.

14 responses to “Aktifnya Anak-anak

  1. Saleum,
    Lama saya gak mampir disini, ternyata blognya sudah makin kinclong 🙂
    menurut saya kan Kang, Anak – anak ntu punya dunianya sendiri tempat dia berkembang dan bersosialisasi. Adalah salah kalau ada simpatisan partai merengkrut mereka utk kepentingan partai mereka. begitulah kira kira…. ditunggu lho kunjungan baliknya 🙂
    saleum dmilano

  2. Sebuah nasihat yang dapat dijadikan contoh untuk para anak-anak sekarang, yang kegiatannya selalu ikut-ikutan orang lain tanpa tau maksud dan tujuannya. asalkan ikut,,, dan berbuat sesuatu untuk menjadi ramai.

  3. Anak-anak suka ikut seru-seruannya aja. Padahal mereka berada di tempat yang tak cocok untuk mereka.
    Semoga kedepannya orang tua tak mengikutkan anak-anak dalam heboh2 parpol…

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s