Sahabatku, Engkau Kemana?

Sahabat dekatku, Norman (nama samara), sedang menjalani ujian. Ujian kehidupan yang tiada henti mendera keluarganya yang baru saja naik haji. Norman baru berkeluarga, sekitar satu bulan yang lalu. Memang setiap orang yang beriman akan diuji oleh Allah, sang pencipta. Norman adalah sahabat baikku sejak Sekolah Dasar. Teman bermain yang menyenangkan saat kecil, teman bercengkerama yang baik di masjid, dan teman “mencuri” hati orangtua yang baik.

Kami selalu kompak dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sepulang sekolah, aku selalu menyambangi rumahnya yang berada jauh dari rumahku. Di rumah pojok, pinggir kali itu kami biasa mengembangkan kreativitas. Dari memancing, sampai membuat suling dari bamboo. Kami selalu kompak, kapanpun dan dimanapun berada.

Kami berdua duet yang paling bagus dikelas. Aku suka bahasa Arab, dia pandai bahasa Inggris. Klop, selalu belajar kelompok di rumahnya. Ya, kami lebih asyik belajar di rumah Norman dengan suasana asri di bawah pepohonan rindang. Jika sudah usai, kami biasa bermain di belakang rumah yang termasuk kebun.

Norman anak yang baik, hmm…jadi ingat pas kenangan-kenangan indah bersamanya. Dia seorang yang bersahaja dan tegar menghadapi cobaan, dulu. Ayahnya meninggal saat Norman masih seusia SD kelas 3. Kemudian ibunya menikah lagi dan merantau ke Bandung. Dia memang tidak bersama orangtuanya, tapi dia bersama nenek dan tantenya yang baik hati. Sebenarnya kami masih saudara dekat. Kakak dari nenek saya adalah nenek iparnya Norman, agak rumit memang, tapi begitulah kita, teman sekaligus saudara.

Norman tak setegar seperti dulu, sikapnya berubah drastic, sekarang tak lagi bersahaja, walaupun masih fair kepadaku. Hal itu bermula saat masuk ke jenjang berikutnya, SMP. Sejak kelas satu, kami sudah terpisah. Saat itulah, sikapnya lambat laun berubah kepada teman-temannya, termasuk kepadaku. Perubahan sikap yang justru tidak senada denganku. Dia tambah kucel, tak mau mendengarkan nasihat baik dari temannya, dan perilaku lain yang kurang baik.

Setelah ku selidiki, ternyata perubahan sikap menjadi kurang baik itu berasal dari teman-temannya. Kebetulan kelas yang ditempati Norman banyak anak-anak yang sifatnya kurang baik. Norman terlalu sering bergaul dengan mereka, bahkan merokok dikelas pun Ia lakukan dengan tidak merasa bersalah. Padahal jelas ada larangan tata tertib sekolah tentang rokok. Na’udzubillah, sifat buruk itu terbawa hingga SMK, kebetulan kami sekolah di tempat yang sama, tapi berbeda kelas.

Rupanya Norman tidak mau berubah baik, dia malah memilih teman-teman bandel. Kata-kataku sama sekali tak didengarnya. Sekolah tambah malas, sampai-sampai dia bolos sekolah hanya untuk pergi “ngamen”. Na’udzubillah min dzalik, bahkan sampai ikut-ikutan merambah ke jurang kenistaan, meminum minuman yang haram bersama teman-temannya. Saya mendapati informasi tersebut dari salah satu teman yang bercerita. Akibatnya fatal, ia dikeluarkan dari sekolah.

***

Sekitar 5 tahun kami tak bertemu, ternyata dia sudah berubah. Mungkin karena sudah berkeluarga, tapi jelas aku tak tau pastinya. Tadi pagi, aku menerima sms darinya bahwa dia sedang dalam masalah besar yang selama hidup belum pernah merasainya. Istri yang didambakan, istri yang membuatnya berubah menjadi baik, ternyata tak seperti yang Norman kira. Dia tak sebaik yang ia piker, Iis (bukan nama sebenarnya) ternyata selingkuh. Baru kemarin ia ketahuan bersama orang lain di kamar tidurnya, tatkala Norman ke Bandung meninggalkan istri tercintanya selama satu minggu.

Ia bingung sekaligus gundah, aku takut ia kembali berubah ke jalan yang tidak baik. Makanya ku telpon langsung untuk menjadi pendengar baik keluh kesahnya.

***

Benar-benar perjalanan yang panjang, seseorang tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berubah menjadi tidak baik, namun beberapa tahun saja tak cukup untuk merubahnya kembali ke jalan yang benar, tanpa hidayah sang Khalik.

Sifat dan sikap Imron hendaklah menjadi renungan khusus untuk kita. Bahwa “agama seseorang itu tergantung pada agama temannya”, maksudnya, baik dan buruknya seseorang itu bisa dilihat dari dengan siapa ia bergaul, jika teman-temannya buruk, maka kemungkinan besar ia juga akan terpengaruh. Sahabat yang dulu baik dan taat, langsung berubah dalam sekejap, tidak membutuhkan waktu yang lama.

salam

Iklan

21 responses to “Sahabatku, Engkau Kemana?

  1. Menurutku sih kalo berteman hukum alam,kita akan berteman sama orang yang nyaman ..
    temen baik temenan sama yang baik2 pula..
    temen bandel,ngumpulnya sama yang bandel2 pula..

  2. Dalam suatu niatan yang baik dibutuhkan suatu proses perjuangan melalui metode keikhlasan yang teruji Kang, Semoga sebuah usaha yang baik ini mendapatkan hasil yang terbaik dan maksimal untuk kepentingan positif kedua belah pihak.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  3. ikut prihatin
    tetap setia di sisinya sebagai sahabat yah dek 🙂
    jangan bosan mengingatkan bahwa ujian itu adalah salah bentuk cinta kasihNya, yang ingin menguji seberapa besar keimanan kita jika diimpakan sebuah ujian juga sebaliknya.

  4. sepakat sahabat tunsa..

    sahabat bagi uda harta yang sangat berharga..
    apalagi kalo dah kompakan dalam masalah “akhirat”
    salam sayang untukmu wahai sahabat uda disana..

    salam hangat sahabat,
    udariki

  5. aku juga khawatir berteman dengan orang yang tidak baik, walau dia sendiri sahabatku sejak sd

    aku pernah tes dia melalui sms, pandangannya tentang hal tertentu tetapi jawabannya mengkhawatirkan

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s