Bule Nyasar

Bertemu dengan orang asing dari negara lain alias bule memang sudah hal yang tidak tabu di Bali. Khalayak sudah mengetahui bahwa di Bali ini memang banyak turis asing yang tinggal, baik untuk  bekerja maupun hanya sekadar menuruti keinginannya berlibur. Saya sendiri sudah beberapa kali berinteraksi dengan orang asing tersebut, meski hanya sekejap. Kadang-kadang dia bertanya arah menuju tempat asik di Bali, juga terkadang membeli parfum di tempatku atau sengaja diajak temanku.

***

Sekitar 4 jam yang lalu, saya kembali kedatangan tamu tak diundang, benar-benar tak undang dan pulangnya pun tak minta diantar. Dia seorang laki-laki berbadan putih agak tampan dengan memakai  topi, sepertinya dari Asia. Awalnya saya tak menyangka, ujug-ujug dia masuk dengan wajah yang muram seperti suami yang habis bertengkar dengan istri.

Sambil membawa tas punggung dan sebuah handphone ditangannya dia berkata, “Handphone…Jual!!”  Bicaranya agak tersendat karena tergopoh-gopoh. Sambil nyelonong ke arahku yang saat itu sibuk di depan monitor. Dari nada bicaranya saya langsung menyimpulkan bahwa dia bukan dari Indonesia.

Dengan bahasa inggris yang pas-pasan saya langsung menyambutnya, “Can i help you, sir?”

“Handphone….! Jual…No Money!” Kata-kata itu kembali keluar dari mulutnya. Saya mulai agak bingung dengan gelagatnya, langsung saya tanya dari mana asalnya. Dia menjawab dari Japan, dengan suara masih terbata-bata. Saya tahu sekarang, ternyata dia ingin menjual handphone Nokia N 8 nya kepada saya karena tak punya uang.

Ku pegang barang itu sambil berbincang masalah harga, dan tempat ia tinggal sementar di Bali. Tapi agaknya percakapan kami tak berjalan lancar, dia tak mengetahui apa yang saya katakan, padahal sudah saya eja. Saya  baru tau, ternyata tidak semua turis asing yang ke sini bisa bahasa Inggris, atau malah saya yang salah ya? 😆

Pikiranku sekejap melayang, teringat apa kata guruku dulu, kalau orang Jepang itu lebih suka menggunakan bahasanya sendiri dari pada bahasa Inggris, “mungkin salah satunya orang ini” kataku dalam hati. Saya hanya mengerti beberapa kata dalam bahasa Japan, tidak banyak, itupun hasil dari belajar kepada senior saya saat bekerja di Jakarta. Akhirnya percakapan kami bagaikan orang bisu ngobrol dengan orang tuli, hehehe..

Dia seketika mengambil kalkulator di meja saya lalu menuliskan angka 1800000 lalu dia mengetikkan 4800000. Yang saya tangkap adalah harga handphone yang ia patok adalah 1.800.000 dari harga barunya 4.800.000. Ia jual dengan harga segitu untuk biaya kembali ke Japan.

“Butuh..u..ang…ke Japan..! masih gaya orang bisu.

“Wah…mahal. Saya (menunjuk ke dada)…tidak punya uang (sambil geleng-geleng kepala)

Hihihi..pokoknya lucu deh. Masih belum selesai nih

Dia langsung mengubah jarinya dan mengetikkan angka 300 ribu lebih murah dari sebelumnya. Saya tetap bersikeras menolaknya, akhirnya saya minta temenku untuk menanyakan harga jual dari tipe handphone tersebut.

“Wait a moment, please!”  Hahaha…mau juga dia nunggu sembari temen saya menawarkan ke konter sebelah. Gak takut kena tipu apa yak.. 😀

Tetap saja kami diam. Tak lama, teman saya kembali. Dia bilang 800 ribu aja mas. Terus ku bilang saja ke itu bule bahwa saya tidak punya uang segitu untuk membeli hapenya dengan harga satu setengah jeti. Dia pun sepertinya dikejar waktu, dalam proses tadi sesekali arloji jadi pusat perhatiannya.

Akhirnya, ia pun melangkah pergi. Belum sampai keluar, salah satu temenku memanggil cheng (nama dari orang itu) entah bagaimana mengeja nama orang itu. Saat berkenalan tadi suaranya lirih. Temen saya rupanya berminat, proses tawar-menawar terjadilah. Sampai keduanya bersepakat bahwa harganya 800 ribu saja.

Eits, jangan senang dulu. Teman saya sejenak berpikir, bagaimana jika si bule itu hanya pura-pura menjual hapenya karena butuh uang. Takut barangnya bermasalah, dia akhirnya menawar lebih murah lagi. Alih-alih supaya si bule membatalkan kesepakatannya. Dan benar dugaan teman saya, bule itu tak setuju dan melangkah pergi.

***

Peristiwa itu ku ceritakan langsung ke teman yang lain, ternyata dia juga sudah beberapa kali menemukan kejadian yang sama di  Jalan Teuku Umar. Saya jadi ragu-ragu, itu bule bener-bener butuh uang atau pasang akting saja untuk berdagang yah?

Hmm…apakah diantara narablog ada yang pernah mengalami hal yang serupa dengan saya?

22 responses to “Bule Nyasar

  1. Sudah sepakat harga, terus ditawar lebih murah lagi, apa si bule gak ngamuk ya? Hehehe..Mungkin ngamuk juga tapi gak tahu gimana ngomongnya kali yah

  2. JUjur saya belum pernah mengalaminya Ari …
    Dan sepertinya … susah dipercaya juga kalau mereka banyak yang berdagang ya …
    hehehe

    Yapi mudah-mudahan saja dia tidak menipu …
    dan mem

    Salam saya Ariang butuh uang untuk pulang ke Negaranya

  3. weh? modusnya samaan semua?
    hmm .. waspada perlu, tapi tetep utamakan mata hati
    tapi, logikanya sih kalau dia perlu uang, kok rodho piye yo? apalagi turis kan pastinya sudah belitiket PP toh? wallahu’alam deh … soale sampai hari ini ga pernah nemu kasus yg seperti itu mas 🙂

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s