Pantai Penyu itu di Pulau Serangan

Pantai Penyu? saya sudah pernah membahasnya di sini. Perjalanan pertama saya ke tempat itu sekitar satu tahun lalu membuat saya penasaran mengunjunginya kembali, sebab waktu itu terasa kurang puas berada di sana. Pantai ini belum banyak yang mengetahui keberadaannya, tak seperti pantai Sanur dan Pantai Tanah Lot.

***

Saya memang sudah sekian lama ini tak berwisata ringan, sebagaimana yang pernah saya utarakan, tapi pagi itu entah apa yang mendorongku ke sana. Oiya, aku ingat, salah seorang teman sekaligus partner jalan-jalan mengajakku memancing. Awalnya kami tidak bermaksud menuju pantai penyu, tapi ke hutan mangrove yang juga sudah banyak perubahan #katanya.

Kali ini terjawab sudah apa yang menjadi pertanyaan besarku saat pertama kali datang ke tempat tersebut. Pertanyaan tentang nama resmi dari pantai itu. Pulau Serang, namanya. Pulau Serang menjadi tempat wisata resmi, dan pantas dijadikan tempat wisata resmi. Sekarang sudah terpasang dengan jelas namanya di ujung jalan masuk pulau tersebut, jalan Bypass Ngurah Rai.

***

Perjalanan kami mulai dari sekitar jam 6 pagi waktu Denpasar. Hampir-hampir kami mengurungkan niatan, karena langit menunjukkan tanda-tandanya yang tidak mendukung. #Ingat, rencana kami bukan ke Pulau Serang, tapi ke Mangrove untuk memancing. Memang benar, cuaca sedang tidak bersahabat. Baru 15 menit kami jalan, gerimis turun dan intensitasnya semakin meningkat.

Saya memutuskan untuk berhenti sejenak di bawah naungan pohon besar untuk mengambil jas hujan. Batin bergejolak, memutuskan akan terus dilanjutkan perjalanan atau kembali pulang dan tidur. Namun, kami tetap memutuskan untuk melanjutkan sampai ke lokasi mengingat kami sudah hampir sampai ditujuan. Sayang sekali gayung tak bersambut, tekad saya yang menggebu seketika melempem saat mengetahui bahwa wisata hutan mangrove ditutup sementara. Katanya sich, karena akan menyambut kedatangan ibu presiden Ani Yudhoyono.

Mau tidak mau, kami harus memutar balik kendaraan dengan sedikit kecewa. Tapi tak apa, masih ada pantai penyu kan? pagi itu benar-benar sepi, semua orang yang ada di daerah sekitar bersiap menyambut presiden negara adi daya, Barrack Obama. Hampir sepanjang jalan bypass terlihat poster maupun sepanduk KTT Asean.

Akhirnya perjalanan kami sampai di ujung jalan pulau serangan, keadaannya sungguh menakjubkan. Tak sampai lima menit, kuda besi kami hentikan di sebuah jembatan satu-satunya yang melewati jalan itu. Ya, kami memutuskan untuk memancing di sana. Sebenernya bukan kami, hanya satu orang temanku saja yang membawa kail.

Ujung jalan Pulau Serangan

Sepanjang jalan menuju Pulau Serangan

Waktu saya berangkat memang sedang hujan, tapi langit cerah kala kami tiba di tempat persinggahan, tempat pemberhentian favorit untuk menghempaskan mata kail. Namun keadaan berubah menjadi cerah di sana, meski rintik gerimis masih menetes. Tempatnya sangat bersahabat sebab berada di bawah jembatan😀 jika hujan tak kehujanan ketika panas kulit tak sampai mengelupas.

Kami harus turun untuk mendekat ke air, sebab jembatan dan sungai berjarak lumayan tinggi. Tidak hanya kami yang datang, beberapa orang bahkan sudah duluan di bawah jembatan. Ada pertunjukan menarik saat itu, kolaborasi menawan antara pemancing, penjaring ikan, dan penyelam. Dalam satu tempat yang lebarnya sekitar 20o meter persegi, mereka saling menghormati satu dengan yang lain. Penangkap ikan itu menyelam dengan sangat cantik, hingga gelombang air tidak terlihat. Begitupun dengan penjaring ikan, hanya pinggir sungai saja yang ia jelajahi. Sayangnya saya tidak merekam kejadian itu dengan kamera, hanya jepretan yang menunjukkan penyelam sedang mencari ikan😀

Anda lihat kotak putih kecil itu? kotak itu yang dijadikan sebagai tempat ikan😀

Memang tak terlalu jelas kelihatan, itu orangnya berada di sebelah kotak yang terbuat dari gabus itu. Si penangkap ikan ini menggunakan metode menombak menggunakan sejenis panah kecil. Awalnya saya kira dia hanya mengumpulkan sampah yang ada di sana, ternyata dia sedang bekerja, menangkap ikan😀

Inilah tempatnya, di bawah jembatan😀

Ya, kami memancing di sana, di bawah jembatan yang terlihat kokoh. Kami harus menuruni lewat sisi belakang kameramen. Memang di atasnya, ada beberapa orang yang sedang memancing, juga yang menunggu temannya memancing seperti saya. Ada juga orang yang baru saja berolahraga mampir sebentar untuk melepas lelah. Tempatnya memang sejuk, mungkin karena hujan, tapi setiap kali saya ke sana memang sejuk, apakah hanya kebetulan saja ya? hehe..

Pantainya mana pantainya..

Saya belum menulis tentang pantainya ternyata😀

Nah, berhubung saya itu bosenan orangnya, dan lagi ditambah rasa penasaran ingin berkunjung ke pantai penyu itu kembali, akhirnya saya ajak satu orang teman untuk meninggalkan mereka (para pemancing mania). Sodara..ini belum sampai di pantainya lho, masih ada jarak sekitar 7oo meter lagi, sampai bibir pantai.

Jalanan di pintu masuk tetap sama, tidak banyak perubahan, masih belum diatur dengan baik. Jalanan tanah setengah pasir itu banyak yang tergenang oleh air. Yang berbeda adalah ID pengunjung. Dulu menggunakan ID pengunjung saat akan memasuki pantai yang ditukar dengan KTP kita dan membayar Rp 2000 / motor bukan per orang. Sekarang..pengunjung tetap dikasih kertas sebagai bukti bahwa ia sudah bayar, karena sampai pertengahan ada pos pemeriksaan.

Jadi, begini.. pintu masuk pantai ada dua. Pintu masuk pertama sampai pantai masih jauh, sekitar 500 meter melewati pos kedua. Nah, orang lain yang berbuat curang, akan bisa masuk melalui pos pertama tapi tidak akan lolos dari pos penjagaan kedua. Saya hanya mendapatkan gambar di pos pertama saja😀

Patung penyu menyambut di pintu masuk pertama

Ini pos penjagaan pertama, saya ambil dari tulisan dulu

Sepanjang perjalanan dari pos satu ke pos dua sampai ke pantai adalah padang rumput dengan jalan berpasir putih yang mengeras dan dipinggiran sepanjang jalan dihiasi pohon cemara dan banyak pohon lamtoro (petai china). Biasanya saya melihat segrombolan sapi-sapi yang berjalan bebas di area itu, akan seperti sedang berwisata ke taman safari saja ya?😀

Jalan menuju pantai setelah melalui pos kedua

Namun, anda harus kecewa setelah sampai dipantainya sebab saya tidak membawa oleh-oleh foto dari sana😀. Sesampainya di sana, saya langsung nyemplung di pantai, bukan untuk mandi, tapi mencari biota laut dan memotretnya. Keadaan pantai yang dangkal tidak memungkinkan untuk mandi di sana. Walaupun ada juga satu orang yang memaksakan diri berendam. Lagi pula saat itu sedang musim sampah, bukan sampah plastik dan sejenisnya, tapi sampah tumbuhan laut, seperti ganggang air.

Apalagi saat itu masih pagi, air laut belum pasang. Biasanya semakin siang, sampah-sampah itu akan terbawa arus. Dalamnya sebatas betis sampai paha, tak ada ombak di sana, sangat tenang. Ombak hanya terlihat 200 meter dari bibir pantai.

Benar-benar seperti kita berada di kolam besar, yang didalamnya terdapat karang dan banyak ikan kecil-kecil seperti ikan clownfish kecil yang warnanya belum sempurna. Ada juga bulu babi, hewan berbentuk bulat yang dipenuhi duri di seluruh permukaan tubuhnya. Dan yang paling keren, saya lihat ada seekor gurita bersembunyi di bawah karang😀. Gurita itu warnanya hijau, saya tidak tau apakah itu jenis lain atau memang gurita biasa yang warnanya hijau. Bentuk dan anatomi tubuh sangat sama dengan gurita pada umumnya, seperti gurita peramal yang masyhur saat piala dunia kemarin, Paul.

Bulu Babi (Filum Echinodermata)

Duuh..maaf, sayang sekali gurita dan clownfish-nya ternyata juga tidak tertangkap kamera. Saya hanya merekamnya di video, tapi saya belum meng-uploadnya ke youtube.  Hehe..mungkin anda belum beruntung, tapi saya benar-benar melihatnya, sayangnya tak ada bukti😦

Setelah sekian lama saya becanda dengan biota laut tersebut saya memutuskan pulang, air semakin pasang, sudah setinggi paha yang memaksa saya sedikit mengangkat celana agar tidak basah:mrgreen: #bagian ini disensor

Dengan hati yang ceria, disambut gerimis yang kembali turun saat saya sudah hampir sampai ke rumah. Senang, tapi ingin rasanya menguak biota laut yang tumbuh liar di perairan pulau serang. Tak ada penyu di pantai itu, karena penyunya sudah ditangkarkan di tempat tersendiri. Sebelah pantai yang saya kunjungi itu ada tempat penangkarannya, yang juga dekat dengan pantai. Pengunjung yang ingin mengetahui perihal penyu bisa langsung datang ke sana. Cocok untuk pelajar yang study tour ke Bali, selain bersenang-senang, tentunya kita akan menambah pengetahuan tentang hewan yang berjalan lamban tersebut, sehingga kita bisa menghargai dan sadar untuk melestarikan alam.

—–

Baca juga: Cara Menghilangkan Bau Mulut

—–

Salam

Ari Tunsa

39 responses to “Pantai Penyu itu di Pulau Serangan

  1. tempatnya msh asri ya , msh byk pohon hijau di sepanjang jalan ..

    membayangkan duduk di atas batu batu di bawah jembatan itu buat motret sunset🙂 …. nggak punya SIM mancing sih, jadi nggak pernah mancing.

    thanks foto2 nya ya

  2. Daerah yang jarang dikunjungi emang mesti sering2 ditulis Mas, agar lebih dikenal masyarakat luas. Jadi banyak alternatif kalau ke Bali🙂

  3. Penyesalan saya ketika membaca wisata adalah PENGEN KE SANA, haduh😀

    OOT

    Sumbangan buku untuk ke Papua adalah buku untuk anak2 usia SD baik fiksi maupun nonfiksi🙂

  4. Ping-balik: Sapi Bali « Tunsa·

  5. Ping-balik: Puteri Duyung di Pulau Serangan | Tunsa·

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s