Cinta Itu…

“Engko sayang be’en” (Aku sayang kamu)

Sepenggal kalimat yang siang itu aku dengar dari salah seorang yang sudah saya anggap seperti paman sendiri. Beliau ini sedang dirundung oleh cinta, cinta yang telah lama mati kini bersemi kembali. Cinta itu indah, seperti dua cinta makhluk paruh baya yang ada di depanku sekarang. Namun, cinta tak selalu indah, tergantung dari sudut mana kita memahaminya.

Cinta yang indah adalah berdasarkan agama, sebab agama adalah patokan yang tidak dapat diganggu gugat, karena berasal dari wahyu Allah untuk makhluknya.

Entah darimana awalnya, paman mendapatkan wanita itu, yang jelas saya belum pernah melihatnya, bahkan sampai sekarang. Beliau terbuka mengenai masalah itu, dan saya diberi kesempatan mendengarkan penuturan beliau. Paman kelahiran tahun 1964 sedangkan sang wanita berusia 2 tahun lebih muda darinya. Mereka dahulu berpacaran saat SMA, tapi paman tersisihkan setelah lulus sekolah.

Setiap hari saya melihat kegembiraan dari wajah paman itu, tampak sekali ceria saat mereka sedang saling beradu di ujung hanphone masing-masing. Mereka saling berkolaborasi dalam asmara, cinta itu butuh pengorbanan, jelas hal itu tampak dari kelakuan paman yang selalu menyempatkan waktu untuknya meski dalam keadaan sibuk. Dan saya menyimpulkan bahwa cinta itu membutuhkan pengorbanan.

Paman selalu bilang, cinta itu menyenangkan. Bisa memotivasi diri dalam segala hal, dan itu ia buktikan. Selalu saja ada alasan tersembunyi dibalik kegigihan dan keuletan dalam pekerjaannya, paman ungkapkan kepadaku bahwa alasan tersebut adalah cinta. Dan saya bisa menyimpulkan bahwa cinta itu bisa memotivasi diri.

Pernah suatu ketika, mereka bertengkar, entah gara-gara hal apa. Yang jelas, kata paman, mereka tidak sedang bertengkar memperebutkan sesuatu, hanya gara-gara hal yang sepele, semacam berbeda pendapat dalam perkataannya. Paman orang yang pandai dalam hal itu, selalu tenang menyikapi segala sesuatu, termasuk jika si wanita ngambek. Sehingga saya bisa menyimpulkan jika cinta itu harus mengalah, tak boleh mengedepankan egoisme diantara pasangaan.

Dari beberapa hal yang telah disampaikan paman kepada saya, rasanya cinta itu memang indah. Mereka berdua, paman dan sang wanita pujaannya saling berkorban, saling memotivasi, dan harus mengalah. Benar-benar indah bukan? Namun sayang, semua itu tidak sama seperti yang saya sangka, cinta mereka hanyalah tipu daya, menurut saya bukan cinta, tapi nafsu. Yang paman bicarakan kepadaku itu bukan istrinya, tapi ia bermesraan dengan wanita lain yang masih mempunyai suami yang sah. Mereka selingkuh! 😯

Istri paman tak pernah mengetahui kelakuan suaminya di luar rumah, yang beliau tahu sang suami tercinta mencari nafkah dengan berdagang. Paman pandai menyembunyikan perselingkuhan itu dari istrinya, dengan kata-kata halus kepada istri dan anak-anaknya. Saya sudah kenal dengan keluarga mereka, anak pertamanya perempuan kelas 1 smp, dan yang kedua laki-laki kelas 5 SD. Mereka, anak dan istri paman, selalu tampak ceria, selalu menduga bahwa suaminya adalah pahlawan yang penuh cinta. #kasihan mereka

Sehingga kembali saya simpulkan bahwa cinta itu tak seperti pandangan kita, cinta hanya bisa didasarkan pada agama, bukan menurut pandangan seorang makhluk yang bernama manusia. Menurut paman, perselingkuhan mereka itu didasari dengan cinta, tapi menurut saya itu bukan cinta. Agama sudah menyebutkan segalanya mengenai cinta, baik kepada pasangan, maupun kepada sang pencipta. Sebenarnya istri paman lah yang mempunyai cinta, selalu mencintai paman apa adanya, selalu menjaga harta dan kehormatan suaminya saat paman keluar.

Tulisan ini saya ikutsertakan di acara 5thAnniversary Giveaway: Ce.I.eN.Te.A yang diselenggarakan oleh zoothera.

Semoga yang punya hajat langgeng pernikahannya,  dunia dan akherat berdasarkan pada agama 😀

37 responses to “Cinta Itu…

  1. Maksudnya paman itu punya dua isteri gitu, Ri?
    Atau apa?
    Yang jelas saya sependapat dengan kata-kata yang di-bold itu, tapi kalo ternyata paman punya dua wanita dewasa untuk dicintai dalam waktu bersamaan…ah, ah…tak bisa komen deh… 😦

  2. Kesimpulan yang dipetikl mengenai arti cinta oke punya, tapi semoga pengaplikasiannya tidak salah kaprah seperti halnya yang dilakuin oleh paman kamu yaa..
    Saya setuju, cinta itu harus memiliki akar yang kuat, apalagi kalau bukan agama.

    Terima kasih udah ikut meramaikan GA: Ce-I-eN-Te-A, linknya segera dimasukin ke postingan apdet peserta 🙂

  3. Ping-balik: Apdet Peserta GA: Ce.I.eN.Te.A « the dots of my life = my history·

  4. saya sekaprat dengan makna cinta di sini…
    Cinta itu harus punya landasan: agama. Tapi kalau untuk saya sendiri, cinta itu luas. Cinta itu bisa dari saudara ke saudaranya yang lain, dari ibu ke anaknya, dari anak ke ibunya, dari sesama muslim ke muslim yang lainnya, dari suami ke istrinya, dan sebaliknya. Tapi, jelas, cinta-cinta yang saya sebutkan itu kadarnya haruslah disandarkan pada agama.

  5. landasan yang kuat memang dibutuhkan sebab tanpa landasan bangunan yang dibangun setinggi apapun akan runtuh dengan mudah… meski sedikit angin atau gelombang….

  6. Hehe… Bila dasarnya adalah agama, maka takkan salah. Namun bila agama telah disingkirkan, maka jelas salah.
    Semoga kita tidak termasuk orang2 yang tersesat… 🙂

  7. Ping-balik: Ehem Ehem.. Ini dia para Jawara Ce-I-eN-Te-A……. « the dots of my life = my history·

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s