[Fiksi] Cinta Itu Bisa Berubah (1)

..Ini kelanjutan fiksi bersambung dari kaka Akin..

“Bagaimana dengan pertanyaanku semalam? Apa kau sudah membuat jawaban?”

Sms singkat dari handphone jadul itu dibukanya, ternyata sms darinya, dari seorang yang telah ku temui semalam di pojok ruang tamu. Norman kembali membuatku semakin terpojok, dia ingin segera tahu apa jawabanku. Namun sayang, Tya belum menemukan jawaban itu, masih bimbang. Tanpa membalas sms itu, Tya memasukkan handhphone-nya ke saku.

Tak lama berselang, paha kanan terasa bergetar, ternyata K550i saya yang bergetar, pertanda sms masuk. “Ah, ini pasti Norman, tak sabar sekali ia menunggu ku” gumamku sembari membuka handphone.

“Kak Tya dimana? Kita kopdar yuuk?”

Ternyata dari seorang blogger seberang yang sedang berlibur ke kotanya, Makassar. Ajakan kopdar dari Arif tak membuat senyumnya memecah kegalauan Tya. Jangankan Arif, ibunya yang sedari tadi memanggil Tya untuk makan pun tak ia hiraukan.

Tya sedang kesal ditambah bingung, seharian ia hanya online di kamarnya untuk melupakan ucapan Norman tadi malam, “…Nanti kalau sudah berrumah tangga kan ada istri yang mengingatkan…” kata-kata itu slalu menghantui.

Meski Norman tak memberikan deadline, Tya tampak dikejar sebuah pertanyaan yang perlu dijawab segera. Norman memang bukan lelaki yang seperti kriterianya, tapi dia adalah orang yang sungguh berarti dalam hidupnya. Dia adalah salah seorang sahabatnya. Ia memang bukan orang sholeh, tapi Tya yakin dia bisa berubah. Keyakinannya itu memang bukan tak ada alasan, Tya sudah kenal Norman sejak lama, 10 tahun yang lalu, saat duduk di bangku SMA. Tya tau, Norman bisa melakukan apapun jika keinginannya kuat, ia pantang menyerah.

“Hmm…pertanyaan itu sesungguhnya membuatku bingung, gimana yah? Aku sudah berumur, malu dengan teman-temanku yang sudah menggendong anaknya. Tapi…” monolognya di depan cermin terhenti ketika sang ibu mengetuk pintu kamarnya.

“Tya…turun nak, kita makan malam bersama yuk…dari tadi pagi kamu kan gak makan? Ibu khawatir jika kamu sakit…” sang Ibu merayu dengan hati-hati, tak mau anak sulungnya itu bertambah sedih.

Ibu Tya memang sudah tau perkara yang sedang dihadapi Tya, karena sebelum Norman datang ke rumah, Tya sudah bercerita kepada ibunya.

“Baik bu, Tya ke kamar mandi dulu ya? Ibu turun duluan aja” jawab Tya yang terlepas dari lamunannya. Setelah ke kamar mandi, Tya makan malam bersama dengan Ibu, paman dan Tantenya.

“Tya, kamu kenapa nak?” tante mencoba menaruh perhatian. Dengan senyuman, Tya mengelak atas permasalahan yang sedang ia hadapi. Ia tak mau semua anggota keluarga mencampuri urusan yang akan menentukan hidupnya kelak.

Setelah makan malam…

 Tya bergegas keluar, memandang langit yang berbintang itu dengan pandangan yang kosong. Subhanallah…betapa indahnya langit mala mini. “Pernahkah kamu menghitung bintang-bintang itu?” tanyanya dalam hati pada diri sendiri

Tiba-tiba tante Tya keluar dan langsung merangkulnya. “Kamu liat bintang yang di sana? Indah bukan? Dan tentu kamu tak bisa menghitungnya..” Kata-kata tante persis seperti gumamnya dalam hati.

“Iya, tante kok keluar? Belum ngantuk emangnya? Tante kan baru pulang ngantor..” Tya menghindari pembicaraan tante yang akan menjurus kepadanya.

“Hehe..kamu persis tante mu ini waktu kecil, pandai mengalihkan pembicaraan. Tya, tante baru tante tau kok apa yang sedang kamu rasakan…ibu mu sudah cerita saat sebelum makan malam tadi. Memang tante tidak berhak ikut mencampuri urusanmu, tante hanya menyayangkan sikapmu saja yang murung gara-gara masalah itu” mulai menjurus, tapi agaknya Tya masih terdiam, tentu saja sambil mendengar nasihat tantenya.

“Tante, gimana saat paman melamar tante dulu? Perasaanya gimana? Apakah tante langsung member jawaban saat itu juga? …cerita donk..” sedikit terbuka hati Tya, tersadar bahwa tante juga menikah saat seusianya.

“Hehe…keponakan tante beneran ingin tau? Ya udah, jangan murung gitu donk…masa anak bu Nunik manyun gitu” tante menghibur Tya. Tya mengangguk dengan bibirnya merekah menuai senyum.

Iklan

22 responses to “[Fiksi] Cinta Itu Bisa Berubah (1)

  1. kira-kira apakah jawaban Tya?
    Apakah jawabannya akan terkuak di episode selanjutnya?
    Mari kita tunggu episode berikutnya…
    hahahaha…

    Aduh, gimana lanjutannya nanti, ya?

  2. Ping-balik: [Fiksi] Cinta Itu Bisa Berubah (4) « Tunsa·

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s