[Fiksi] Cinta Itu Bisa Berubah (2)

“Hmm… (menghela nafas), tante itu sama seperti kamu dulu, bimbang saat dilamar pamanmu. Saat itu tante juga minta waktu untuk berpikir sebelum pamanmu datang ke orang tua tante, nenekmu. Memang usia tante saat itu sudah siap nikah, sama sepertimu, tentu saja hal ini membuat tante terasa ingin buru-buru menjawabnya. Namun, tante ingat satu hal, ‘pamanmu’ bukan akan menjadi teman dalam satu hari, melainkan seumur hidup, harus matang untuk dipikirkan..”

“Terus..terus..apa yang membuat tante menjawab ‘iya’ kepada paman?” Tya mulai penasaran dengan cerita sang tante.

“hehe..kamu itu slalu saja begitu, rasa penasarannya besar. (masih terasa hening) Tante juga menginginkan seorang pendamping yang sholeh, seperti yang diharapkan oleh seorang wanita pada umumnya. Waktu itu tante tau, pamanmu bukan seorang yang sholeh seperti yang tante pikirkan. Sholeh menurut tante waktu itu ialah rajin beribadah, lebih mementingkan akhirat daripada dunia, sering ke masjid setiap waktu sholat, dan yang lainnya yang berhubungan dengan ibadah seperti itu.

…tapi di sisi lain, usia tante yang sudah lebih dari 31 tahun tak bisa menolak tawaran itu, tante ingin menikah, membentuk keluarga kecil seperti teman-teman tante. Akhirnya tante menerima lamaran pamanmu dengan satu syarat, ia harus bisa berubah jika benar-benar mencintai tante”

“Tante sih enak, paman tidak merokok.. Masalahnya, calon Tya itu perokok berat. Tau sendiri kan Tya tak suka dengan orang-orang yang merokok..” Tya membanding-bandingkan cerita tante dengan kondisinya saat itu.

Bintang-bintang itu semakin malam semakin bertambah banyak, entah darimana datangnya. Tya dan tante masih duduk di teras, saling mencurahkan isi hati mereka, berbagi pengalaman.

“Tya…semua keputusan ada ditanganmu, Allah sudah menentukan siapa jodohmu, jika benar-benar dia jodohmu, insya Allah langkahmu akan dipermudah. Tante hanya berpesan, Tya tidak boleh semena-mena dalam memberikan jawaban nanti, jika ingin menolak maka tolaklah dengan baik. Tante percaya, kamu sudah dewasa untuk bersikap dan menentukan pilihan teman hidupmu. Udah itu aja, tante ke kamar dulu ya? Kamu jangan terlalu lama di luar, tar masuk angin lho..”

Tya masih belum memahami perbincangan itu, dia ingin ada yang bisa dijadikan tempat curhatnya, agar perasaannya lega dan segera menemukan kebimbangannya. Tante sudah tidur, Tya kini  sendiri..malam semakin larut, langit semakin cantik dihiasi bintang dan bulan yang mempesona.

Meski sebentar ngobrol dengan tante, hatinya kini sudah agak tenang dan sudah bisa berfikir jernih. Seketika itu Tya ingat akan sesuatu hal, sms. Ya, sms dari seorang narablog yang mengajak kopdar malam itum cepat-cepat ia membalas smsnya.

“Arif, maaf kak Tya baru balas smsnya. Kamu jadi mau kopdar gak? Di deket pantai Losari saja ya?” sms terkirim dan tak sampai lima menit datang sms balasan dari Arif. “Maaf kak, tapi ini sudah terlalu malam, mungkin kita belum berjodoh kak, hehehe..besok saya dah check out”

Tya merasa sudah menyia-nyiakan waktu hari ini, memang ini hari liburnya, tapi banyak hal yang telah terlewatkan, termasuk mengurungkan kopdar dengan teman blognya. Saat itu jarum jam diangka 12 dan jarum menit berada diangka 3.

Sekarang Tya tau dan sadar, bahwa terpuruk dalam suatu masalah itu tidak baik, ia tau apa yang harus dilakukan sekarang, istirahat… dan bangun malam untuk memohon kepada sang pemilik hati, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berbalik, menutup pintu dan menuju kamar mungilnya.

Bersambung…

Iklan

13 responses to “[Fiksi] Cinta Itu Bisa Berubah (2)

  1. Ping-balik: [Fiksi] Cinta Itu Bisa Berubah (4) « Tunsa·

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s