[Fiksi] Cinta Itu Bisa Berubah (3)

“Tya… bisa tolong ibu belikan santan di pasar nggak?” pagi-pagi, ia sudah disuruh ke pasar sebelum berangkat kerja jam 7 nanti.

“Baik bu, sebentar Tya ganti baju dulu..” jawabnya dari balik pintu kamar.

Tak sengaja, ia melihat Norman masih tidur diteras rumahnya yang hanya dihuni sendiri. Tampak juga beberapa temannya tergeletak di sana, sepertinya mereka habis melewati malam dengan pesta. Biasanya begitu, jika ada beberapa kotak bungkus rokok, kulit kacang yang berserakan, dan beberapa gelas di sana, eh, ditambah beberapa botol-botol minuman.

Tya tidak menghampiri mereka, hanya menoleh sebentar ke rumah yang tak berpagar itu. Meski hanya sekejap, Norman terlihat jelas dengan kaos kuningnya. Tya hanya menuju pasar, tepat beberapa meter lagi dari rumah Norman. Dan kembali ke rumah setelah mendapatkan barang pesanan ibu.

“Ini bu, santannya harganya naik nih bu.. uangnya kurang deh. Tadi Tya sudah bilang ini pesanan ibu, mungkin mbok Darmi gak tau kalau saya anaknya ibu.”

“Ohh..ya udah gpp, besok ibu bilang ke mbok Darmi. Kamu mandi dulu sana, dah jam 6, nanti telat lho. Ibu mau ngelanjutin masaknya.” Kata ibu dengan nada bangga.

“Baik, bu” jawabnya dengan sopan.

Sejak melihat Norman di rumahnya dekat pasar tadi, kekhawatiran Tya makin bertambah besar. Mana mungkin Norman bisa berubah setelah mempersuntingnya, baru sehari saja dia sudah berubah. Sepertinya memang tak punya komitmen atas apa yang diungkapkannya malam itu untuk berubah ketika sudah berisitri.

Setelah mandi dan santap sarapan yang sudah disiapkan ibunya Tya berangkat tepat pukul setengah 7 pagi. Perjalanan ke SD tempat Tya mengajar sekitar 20 menit dengan berkendara sepeda motor. Entah apa yang Tya rasakan, ia sekarang sudah ceria. Senyumnya lebar tatkala bertemu rekannya sesama guru bahkan ke siswa-siswi didikannya.

Hari ini Tya ada mengajar pada jam ke-2 setelah upacara bendera, makanya ia mempunyai waktu yang lebih banyak untuk mempersiapkan tugas untuk murid kelas 5. Setelah upacara, Tya online sebentar, hanya sekadar membuka surat elektronik.

Hari itu Tya lewati seperti biasanya, tak ada hal yang aneh di sekolah. Tya juga bisa bersikap tidak aneh didepan rekan-rekannya, Tya tetap Tya yang dulu, baik dan sopan lagi suka bercanda dengan teman-temannya. Tya memang disukai semua orang, mungkin karena sikapnya care kepada yang lain. Sepulang mengajar nanti ada satu temannya yang mengajak Tya untuk menemaninya membeli buku di Gramedia. Sebagaimana janji yang telah ditentukan, Tya pun berkenan diajak ke toko buku siang itu, jam 2.

“Tya, kamu tak lupa dengan janji kita kan?”

Sms dari Norman masuk, tapi Tya belum menyadarinya. Sesampai di rumah baru ia buka, dan ia langsung paham dengan yang dimaksud oleh Norman. Malam ini, di ruang tamu rumah Tya, Norman menagih janjiku kepadanya. Iya, tadi pagi Tya sudah memberi tahu Tya via pesan singkat bahwa mala mini Tya akan memutuskan apa yang diinginkan oleh Norman.

Tya lalu membalasnya, “Iya, aku gak lupa kok, nanti malam setelah sholat isya ya? Aku mau ajak Novi juga”

“Lho, kok sama Novi? Emang kamu gak malu?” Norman langsung membalas segera setelah ia menerima sms balasan dari Tya.

“Iya sama Novi, kalo kamu gak setuju ya sama ibu deh..kalo gak sama tante aja gimana?”

“Iya..iya..terserah kamu deh..” Norman mengalah, tentu saja ia menerima apa yang akan Tya lakukan, agar Tya senang dan yakin kan menyambut pertanyaan Norman waktu itu dengan  “oke” 😉

“…Nanti malam adalah malam dimana aku menentukan apakah Dia akan menjadi pendamping hidupku atau tidak. Bismillah, semoga keputusanku adalah keputusan yang terbaik, mohon doanya ya teman-teman…” Tya masih saja sempat menulis status di facebook.

Malam itu akhirnya telah tiba, setelah sholat berjamaah isya di mushola samping rumah, Tya ngobrol dengan ibunya tentang keputusan itu dan tentu saja dengan alasannya. Novi yang sebelumnya sudah di sms oleh Tya sudah duduk di ruang tivi. Novi ini sepupunya, anak dari tantenya yang tinggal serumah dengan Tya. Sebenarnya Novi sedang sibuk mempersiapkan skripsi, ia biasanya tinggal di kos yang lumayan jauh. Novi sengaja menempuh satu jam perjalanan demi permintaan sang kakak sepupu.

“Nov, kamu gimana skripsinya?” basa basi Tya yang baru saja duduk di samping Novi yang sedang memegang remot.

“Masih seperti biasanya kak, banyak revisi dari dosen pembimbing, hehe..dosennya terlalu sayang sama Novi, makanya skripsiku belum disetujuinya.. :D”

“hehe…dasar! Makanya perhatikan arahan dosen tuh, biar cepet kelar kuliahmu, pangeran biar tak menunggu lama.” Kelakar tawa mereka terdengar ke seluruh penjuru ruangan itu.

Ting..tong…assalamu’alaikum..

“Kak itu pangeranmu dah nyusul, haha..” Novi menggoda Tya yang menyembunyikan kecemasannya.

“kamu sana yang buka…” pintanya sambil mendorong-dorong Novi sambil bercanda.

***

Saya bingung bagian endingnya… mau gimana ya? Mungkin kah ada temen narablog yang mau melanjutkan kisah antara Norman dan Tya? :mrgreen:

Silakan dengan tanpa paksaan.

18 responses to “[Fiksi] Cinta Itu Bisa Berubah (3)

  1. hahahahaha.. dhe garuk2 kepala nih mas.. bagian 1 dan 2 nya ketinggalan je, jadi mo balik mundur dulu..

    waaah, udah bikin serial cantik juga mas Tunsa satu ini.. dhe kapan yaa?? hehe

  2. Ping-balik: [Fiksi] Cinta Itu Bisa Berubah (4) « Tunsa·

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s