[Fiksi] Cinta Itu Bisa Berubah (4)

Akhirnya aku menatap sosok laki-laki yang ada dihadapanku malam ini. Laki-laki yang cukup tampan, laki-laki yang memiliki pandangan mata yang lembut, laki-laki yang dulu selalu bisa membuatku merindukan senyuman dari wajahnya.

“Kak, Novi ke belakang dulu ya?” Novi langsung berdiri tanpa mendengar persetujuan terlebih dulu dariku.

Ahh, sebenarnya aku tak ingin Novi meninggalkan aku berdua seperti ini dengan Norman. Sengaja aku menyuruhnya kesini, supaya dia bisa memberikan aku kekuatan. Tapi ntah mengapa, mendadak aku hanya bisa diam tanpa bisa menghentikan langkahnya yang semakin jauh.

“Hmm, jadi bagaimana Ya??” Akhirnya Norman pun memulai percakapan antara kami.

Aku tak langsung menjawab. Nafasku yang mendadak berantakan pun langsung aku netralkan terlebih dahulu.

“Tadi pagi ketika aku ke pasar, aku melihat kamu dan teman-temanmu sedang tidur di teras rumah,” kuhentikan ucapanku. Segera kutarik nafas panjang, dan aku memberanikan diri untuk kembali natapnya sebelum akhirnya aku menyelesaikan ucapanku. “Aku melihat banyak sekali bekas botol-botol minuman keras. Kamu semalem mabuk ya??” Dengan sangat hati-hati, akhirnya aku pun berani melontarkan pertanyaan yang sudah sejak pagi aku pendam.

Norman yang tadi terlihat begitu semangat, mendadak berubah sedikit sayu setelah mendengar pertanyaanku. Aku tau, ada sedikit getar dari tubuhnya. Dan untuk membuat dirinya kembali tenang, akhirnya dia meminum kopi yang sudah 10 menit terpajang manis diatas meja.

“Iya, aku mabuk semalam!!”

Deg. Jantungku seolah terhenti ketika mendengar jawaban yang sangat tidak aku harapkan keluar dari mulutnya.

“Aku sudah menolak semalam, tapi mereka memaksa. Kamu tau kan, aku juga jadi seperti ini karena mereka. Mereka lingkungan aku, mereka sudah jadi bagian dari hidup aku. Sulit untuk menjauh dari mereka dan semua kebiasaan buruk itu Tya. Karena kalau aku masih berada disini, itu berarti selamanya mereka akan selalu ada menjadi bayang-bayang aku.”

Aku kembali menatapnya, dan kali ini ada sedikit kesedihan yang terpancar. Ya, aku tahu kalau ini bukan salah Norman sepenuhnya. Ada banyak alasan yang mau tak mau akhirnya menuntun Norman untuk mengenal mereka. “Tapi apa kamu tak bisa berubah Man?? Apa kamu tak ingin berhenti??” Kembali aku melontarkan pertanyaan untuknya.

“Kamu tahu Ya, perasaan aku ke kamu itu lebih dari sekedar kata cinta yang udah pernah aku ucapkan ke kamu. Aku percaya sama kamu Ya, aku percaya kalau kamu adalah jembatan buat aku untuk berubah, untuk berhenti. Dan saat ini pun aku sudah mulai berubah demi kamu. Kamu perempuan baik Ya, perempuan sholehah. Karena itu, aku pun belajar untuk memantaskan diri supaya aku layak jadi pedamping hidup kamu, layak untuk kamu pilih menjadi imam kamu.”

Hatiku bergetar, bahkan rasanya seolah tubuhku merinding. Semua kata-kata yang barusan aku dengar langsung membuatku ingin mengeluarkan air mataku. Aku meremas ujung bajuku, mencoba sekuat tenaga menahan air mata itu untuk tidak jatuh. Kata-kata itu adalah kalimat termanis yang pernah ku dengar. Sebuah kalimat yang selalu aku khayalkan, berharap kalau laki-laki yang selama ini aku impikan sanggup untuk mengucapkan kalimat itu. Tapi kenapa Norman?? Kenapa kalimat itu harus keluar dari mulutnya??

Cukup lama kami saling terdiam. Aku yang semula sudah siap dengan jawaban yang sudah aku pilih, mendadak aku kembali ragu. Ku tundukan kepalaku untuk kembali mencari keyakinanku.

“Man,” dengan berani akhirnya aku memanggil namanya.

Norman yang semula bermain dengan imajinasinya sendiri pun langsung menoleh ke arahku.

“Apa kamu berani untuk keluar dari kota ini??”

“Maksud kamu??” Norman yang tak mengerti dengan pertanyaanku pun langsung mengangkat sebelah alisnya.

“Aku ingin kamu punya kehidupan baru Man, lepas dari mereka dan juga lingkungan kamu yang hitam. Aku …. Aku ingin kamu yang jadi imam aku.” Aku memutuskan kalimatku, dan melihat bagaimana ekspresinya. Dia tersenyum, dia tersenyum dengan sangat manis.

“Aku memberikanmu waktu 3 bulan Man. Aku ingin kamu pergi dari sini, dan kamu memulai hidup baru kamu. Aku ingin kamu mempunyai lingkungan yang baik man, teman-teman yang baik, juga pekerjaan. Dan itu semua tidak akan pernah bisa terwujud kalo kamu masih disini. Tepat pada bulan Januari nanti, kalau kamu sudah merasa yakin kamu bisa menjadi imam aku, kamu bisa langsung melamar aku di hari ulang tahun aku.”

Serasa hujan, mendadak hatiku langsung merasa damai dan tenang setelah aku menyelesaikan kalimat terakhirku. Sebuah rasa lega yang sudah lama tak kurasa, akhirnya kembali mengisi seluruh isi jiwa dan pikiranku. Dan Norman, Norman hanya diam sambil terus menatapku. Mungkin dia sedang mencerna semua kalimatku.

“Baiklah Ya, aku terima tantanganmu,” Norman pun akhirnya memberikan keputusan termanisnya dengan tersenyum. “Terimakasih ya, terimakasih karena kamu sudah percaya dengan aku. Dan aku bersyukur karena aku sudah mencintai kamu Ya.”

Aah, mungkin saat ini wajahku sudah merona merah karena malu. Meskipun aku juga memiliki rasa yang sama, tapi aku tidak seberani dia yang sudah bilang secara terus terang. Aku masih menyimpan kata itu nanti, sebagai hadiah pertama untuk dia yang sudah sah menjadi suamiku.

Dan malam ini, akhirnya aku berani mengantarkan Norman pulang sampai pintu pagar. Aku percaya, dia tidak akan mengecewakanku. Kami hanya berbasa basi sebentar, sebelum akhirnya Norman benar-benar pamit pulang. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang semakin jauh, sedikit rasa takut kalau besok aku benar-benar tidak akan bisa melihatnya lagi. Tapi ahh, langsung ku tepis perasaan itu. Seharusnya aku bahagia, karena kalau itu beneran terjadi, Norman berarti sedang mempersiapkan hidup baru untuk dia juga aku.

“Aku pun belajar untuk memantaskan diri supaya aku layak jadi pedamping hidup kamu, layak untuk kamu pilih menjadi imam kamu”

Kalimat Norman mendadak kembali terngiang di telingaku, dan seketika aku pun langsung menyunggingkan senyumku. Sebelum aku benar-benar kehilangan bayangannya, aku langsung mengirimkan sebuah pesan singkat untuknya. Norman menghentikan langkahnya, diam sebentar lalu berbalik menatapku dari jauh. Meskipun samar, aku tahu kalau Norman baru saja memberikan senyum termanisnya untukku.

Shalat yang rajin yaa Man.. ^_^

*91’91*

—-

Tulisan di atas adalah hasil karya dari penulis tamu saya dengan inisial seperti di akhir tulisannya 91’91. Tulisan tersebut langsung dari penulisnya dengan tidak mengalami perubahan sedikitpun.

Cerita fiksi ini akan dilanjutkan oleh narablog lain..

Cerita Sebelumnya: Bag. 1  —> Bag. 2  —> Bag. 3

Iklan

30 responses to “[Fiksi] Cinta Itu Bisa Berubah (4)

  1. Nanar saya membaca bait demi bait mba Tunsa…
    Semoga ada seorang gadis yang meminta hal yang demikian pada saya hehe..
    dan memantaskan diri… untuk menjadi imamnya..

    Saat norman mengernyitkan dahinya akupun ikut Mba..

  2. Saleum,
    Akhirnya dah bisa berkunjung kembali kang….
    fiksinya bagus, saya dah coba buat fiksi, akan tetapi gak berkembang. tapi kalau cerita silat yang saya tulis, malah disambut baik oleh otak, hahaha…
    saleum dmilano

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s