Cara Belanja Pria Jejaka

Belanja cepat dan nyaman tentu selalu didamba oleh semua orang, terlebih bagi para wanita. Tapi tidak hanya kesukaan wanita saja tentunya, saya juga  pasti menginginkannya. Dan bukan hal yang aneh di jaman sekarang, semua pusat perbelanjaan modern pada masa ini sudah memberikan fasilitas belanja yang nyaman dan tentu lebih cepat. Salah satu fasilitas pelayanan untuk mempercepat proses belanja adalah dengan adanya mesin kasir modern dengan barcode.

Siapa bilang pria tak suka belanja, hahaha.. itu fitnah!

Saya sering berbelanja ketika tinggal di Jakarta. Sebagai seorang pria, tentu cara belanja saya berbeda dengan wanita pada umunya. Saya tidak suka belanja kecuali hanya pada tempat-tempat tertentu. Seperti minimarket maupun supermarket. Bukan karena bergaya atau semacamnya, tapi belanja di tempat-tempat tersebut prosesnya cepat dan tidak terlalu ruwet tawar menawar, tinggal pilih barang, lihat harga, masuk keranjang, dan tinggal antri di tempat kasir. simple bukan? Hehe.. Benar-benar ciri khas belanja dari seorang jejaka, lain cerita jika sudah berdua bersama istri.

Biasanya saya berbelanja di supermarket sebulan sekali, tentunya setelah terima gaji. Dan bisa dibayangkan seberapa banyak belanjaan saya untuk persediaan satu bulan. Ternyata bukan hanya saya yang melakukan hal demikian, belanja sekali dalam sebulan juga dilakukan oleh teman-teman satu kos. Kami biasa berbelanja bersama, sehingga persis seperti ibu-ibu arisan sehabis pulang dari mall. Taksi penuh dengan barang belanjaan, mulai dari sabun mandi, sabun cuci, dan semua jenis perlengkapan mandi sampai camilan untuk satu bulan ada di bagasi.

Mengajak teman kos untuk belanja adalah salah satu cara agar kita-kita, para pemuda, tidak malu membawa barang begitu banyak. Paling-paling kami hanya mendapat senyuman dari ibu kos ketika masuk ke kamar kos, karena rumah tinggal ibu kos berada di samping kos-kosan kami.

Yang menjadi satu hal penting ketika berbelanja di supermarket dan selalu saya ingat-ingat tiap kali berbelanja dari supermarket adalah meminta struk belanja kepada kasir saat proses terakhir belanja terjadi. Sebab tidak semua kasir akan memberikan struk belanja saat memberikan kembalian uang belanja. Saya pernah mengalaminya beberapa kali, dan hal itu biasanya terjadi di supermarket atau minimarket yang kurang masyhur.

Alasan saya selalu menyimpan struk belanja adalah seringnya harga antara yang terpasang di rak barang dengan harga yang ada di komputer kasir berbeda, sehingga sering terjadi kesalahan. Meski seorang lelaki dalam hal belanja saya juga cermat lho. Sebelum pulang, tiap selesai melakukan pembayaran biasanya struk saya lihat, cocok atau tidak dengan harga barang yang sudah saya pilih.

Maka dari itu cek harga selalu saya lakukan sebelum meninggalkan supermarket, agar langsung bisa saya adukan ke pihak kasir apabila terjadi kesalahan. Saya pernah mengalami kesalahan dengan tidak memeriksa struk belanja, padahal barang yang saya beli harganya lebih mahal dari harga sebenarnya yang tertera di rak barang. Namun saya tidak memberi tahu ke pihak kasir, sebab saya sudah kembali ke kos. Akhirnya saya tidak bisa mengadukan hal tersebut. Selisihnya hanya 10 ribuan rupiah sih, tapi coba banyangkan jika saya membeli barang yang salah harga itu dalam jumlah banyak, otomatis selisihnya banyak juga donk. Itu sebabnya saya membaca struk belanja sebelum pulang. Lagi pula biasanya orang akan merasa malas kembali ke tempat belanja saat baru tiba di rumah bila terdapat kekurangan atau kesalahan harga.

Awalnya saya pikir di supermarket itu tidak mungkin terjadi kesalahan, lalu ku pikir-pikir lagi bisa saja terjadi, dalam penentuan harga barang pasti kan ada campur tangan manusianya. Mungkin saja data harga barang ada yang kelupaan tidak update. Sehingga saat barcode di-scan harga barang yang keluar tidak sama dengan yang tertera di rak. Saya tak tau pasti. Yang jelas saya percaya dimana ada manusia, pasti sudah tentu bisa terjadi kesalahan. Over all, dengan adanya mesin kasir dan barcode yang tertera pada barang, kesalahan semacam itu bisa diminimalisir dan proses belanja menjadi cepat.

Artikel ini diikutsertakan dalam Kontes Cerita Unik Belanja di BloggerPemula.Com

Iklan

37 responses to “Cara Belanja Pria Jejaka

  1. sama dong, aku belum akan meninggalkan kasir sebelum ngecek bon belanjaan, soalny asering banget dihitung berlebihan atau juga kekurangan, semuanya tak konformasikan ke kasirnya

    btw, sukses ya buat kontesnya 🙂

  2. Ping-balik: Peserta Kontes Cerita Unik Belanja @ Yayat's Blog·

  3. Jujur …
    untuk masalah harga … saya ini orang yang tidak begitu care …
    so … jika kasirnya mau usilan …
    ada barang yang di count dua kali juga saya tidak akan notice
    hahaha

    salam saya Ari

  4. wah..teliti banget mas…
    saya jarang mengecek lagi harga barang yang tercantum di lemari dengan harga barang di mesin kasir…soalnya disini sering harga dan jenis barang yang tertera di lemari berbeda dengan jenis barangnya..
    hadeuuh…

  5. Wah, [eriksa struk itu penting. Beberapa kali belanja, biasanya di swalayan yg lbh kecil, ada perbedaan antara harga yg terpasang di rak dengna harga yg tercetak pd struk, dan lebih sering mrk ngotot mengikuti harga di struk. Kan rugi.

  6. Ternyata Mas Ari ini orangnya teliti banget…
    Saya kalau belanja survei harga dulu, siapkan uang, terus beli yang perlu saja. Nah, titik sampai di situ, tidak pernah sampai cek struknya…

  7. yang sering salah itu kalo di minimarket mas.. dan bener, teliti itu HARUS.. hehe

    hmm, ternyata begini caranya pria jejaka berbelanja.. judulnya sekalian promosi yaa mas?? hahahahaha 😛

  8. waduh.. ada yak gitu beda harga antara yang tertera sama mesin kasirnya.. Aku gak pernah ngecek soalnya >.<

    Ok mas.. Ntar aku coba ngecek ah 😀

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s