Yu Masfufah

Engkau, seorang yang perkasa

Engkau, seorang yang tabah

Engkau, seorang yang pantang menyerah

Engkau, seorang yang tangguh

Ototmu kekar.. tapi hatimu lebih kekar

Biar kau sendiri, jiwamu tak pernah mati

Peluh dikening tak pernah menjadi beban

***

Dari kejauhan terlihat sebuah gerobak kecil berwarna biru. Ada satu yang sangat jelas tergambarkan darinya..

“Es Teller Jakarta & Es Kelapa Muda”

Masfufah, seorang wanita tangguh, cerdas, dan pantang menyerah. Terik… benar-benar terik, Masfufah seorang diri melayani setiap orang yang menghampiri. Eh, tidak. Dia tak seorang diri, ada yang menemaninya setiap hari. Pangeran kecilnya yang selalu menyemangati, meski tak terucap dalam mulut mungilnya.

Sejak usia 2 bulan, Alvian, pangeran kecilnya selalu digendong setiap saat. Menemani sang bunda melawan surya. Bocah polos nan lugu itu membuktikan bakti dirinya pada ibunda. Berdua mengarungi samudra kehidupan. Duet antara ibu dan anak yang begitu elok membuat aku iri. Kenapa dahulu aku tak bisa berbuat seperti itu. Malu, malu rasanya melihat Alvian. Aku yang sudah hidup lebih dari 20 tahun tak bisa membahagiakan Bunda.

***

“Vian, bunda tau kamu tersiksa terlahir di dunia. Tapi bunda tak menyesal telah melahirkanmu. Bunda pasti akan merawat dan mendidikmu hingga dewasa kelak kau bahagia”

Kata-kata itu mungkin akan teringat sampai kelak bocah itu dewasa. Aku sempat mendengarkan secara langsung penuturan kata-kata itu dihadapan Alvian, ketika ia masih tertidur dalam buaian bundanya. Derasnya hujan membuat saya berlama-lama di bangku tempat jualan Yu Masfufah. Kesempatan emas itu tak ku sia-siakan untuk mendengarkan keluh kesah dari wanita berumur 42 tahun itu.

“Es degan settong, Yu” (Es degan satu, mbak)

Saat itu memang sedang hujan, tapi aku tak peduli. Dinginnya es tak terasa sama sekali ketika melihat wajah yang penuh pilu dari Yu Masfufah. Dagangannya belum laku hingga aku datang. Tak menyia-nyiakan waktu, aku pun memberanikan diri untuk memulai obrolan. Dari obrolan basa-basi sampai obrolan yang serius.

Satu yang membuatku ingin tahu, tentang kehidupan mereka, yu Masfufah dan Alvian sang buah hati, mereka begitu tegar menghadapi ruwetnya kehidupan. Padahal setiap kali ku lihat, tak ada seorang pun saudara yang membantu mereka.

Beberapa kali pertanyaanku dijawabnya dengan muka sedih, mata itu tampak berkaca-kaca saat menyambut pertanyaan yang menyentuh kehidupan rumah tangganya. Secara singkat bisa ku tarik kesimpulan tentang Masfufah.

Beliau menikah diusia yang cukup senja. 39 tahun, usia yang tak muda lagi kala itu. Ia merasa beruntung mendapatkan pangeran gagah, berkumis tipis keluaran pondok pesantren. Hidup bersama seorang anak pesantren membuat khayalnya terbang jauh, kebahagiaan yang ia impikan sesaat lagi akan terrealisasikan. Namun sayang, setahun setelah ia menikah, kesenangan yang ia dapatkan tak lebih banyak dari kepedihannya. Siksaan bertubi-tubi ia tahan demi pernikahan. Hingga setahun berlalu, ia tak tahan lagi.. akhirnya berujung pada perceraian.

Perceraian itu memang membimbangkan hati Masfufah, bagaimana tidak, perutnya yang semakin membuncit menjadi pertimbangan yang sangat berat. Dilain sisi, ia tak mau melihat oroknya terlahir ke dunia tanpa seorang bapak, tapi tidak ada jalan lain. Masfufah malah takut, jika hubungan antara mereka dengan suaminya tetap berlanjut. Ia takut anaknya akan terkena dampak dari kemurkaan sang ayah.

Sejak saat itu, kehidupannya berubah.. berubah sangat drastis. Tak seorangpun yang mau menampungnya. Masfufah hanya seorang anak semata wayang dari ibunda yang sudah tua renta. Perceraian dengan suami membuat dirinya kembali tinggal bersama ibundanya di tengah-tengah gubuk reot yang terletak di bantaran sungai.

Ternyata Allah memang sedang menguji Masfufah, kepedihan yang tiada terpikirkan barang sedetikpun, ibunda tercinta, satu-satunya orang yang bisa dijadikan sandaran, kini terbujur kaku dihadapannya. Entah, harus bagaimana lagi.. tak bisa dikatakan.. Masfufah hanya membisu, pandangannya kosong, sambil mengelus-elus perutnya.

Aku tau, yu Masfufah mencoba membendung air matanya, saat bercerita tentang seklumit perjalanan pahit yang tidak setiap orang bisa mengarunginya. Sesekali ku coba menyela, membuatnya agar tidak terlalu sedih, tapi aku yakin, tak semudah itu.

Belum selesai sampai di situ, hujan masih menemani percakapan kami saat itu. Masfufah kembali menghela nafasnya, panjang. Seolah dia telah melupakan kenangan suram itu.

Beberapa minggu setelah kepergian ibunda, Masfufah tidak mau menyerah, untung saja ia tak pendek akal. Himpitan ekonomi tidak boleh menjadi hambatan, ia masih punya pahlawan, calon bayi yang ada dikandungannya. Dengan bantuan tetangga dan warga sekitar, Masfufah akhirnya bisa mengumpulkan uang untuk modal berdagang. Es Degan, menjadi pilihannya. Wanita yang sedang hamil tua itu bersedia mengayun parang, mengupas kelapa muda, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Namun, kehidupannya tak seindah bulan. Baru seminggu berjualan es degan, Masfufah dikejutkan oleh si bayi yang menendang-nendang perutnya. Tentu saja uangnya belum cukup untuk biaya persalinan. Lagi-lagi ia harus dibantu para tetangga.

Ku lihat, air matanya menetes, lalu ia kembali mengusapnya dengan cepat. Yu Masfufah, mulutnya menganga, seperti hendak mengungkapkan sesuatu tapi sangat susah terungkap. Mungkin ada bagian dari kisah kelahiran Alvian yang membuatnya sedih. Aku benar-benar tak enak hati, melihat tetes air matanya….

“bu, es degan satu dibungkus, es telernya 1, dibungkus ya bu”

Yu Masfufah langsung tersadarkan diri, ia bergegas menuju orang yang baru saja datang. Cerita kisah hidupnya terpotong oleh orang itu, dan aku pun membayar es yang ku minum sebelum akhirnya pergi. Subhanallah, siang itu langsung terlihat matahari muncul, padahal baru saja hujan lebat. Dan mengundang pembeli untuk mampir di lapak yu Masfufah.

Alhamdulillah.. meski belum tuntas, tapi aku tau, apa yang membuatnya pantang menyerah. Kini saya tahu, esensi kehidupan dari seorang wanita tangguh, yu Masfufah. Dalam berbagai cobaan yang menerpa, ia tidak pernah sedikit pun berfikir untuk mengakhiri hidup, kala hidup tak berpihak padanya.

***

Tulisan ini tadinya akan diikutsertakan dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’. Berhubung didiskualifikasi oleh mak cebong 1, jadi saya ganti aja ya? hihi… #gara-gara salah baca clue.

30 responses to “Yu Masfufah

  1. Kisah yang bagus dan menyentuh… Tapi sayang tidak bisa kami masukkan ke daftar peserta, karena yang diminta adalah pengalaman pribadi.

    Tapi masih ada waktu kok, kalau mau bikin artikel baru tentang pengalaman pribadi. Kami tunggu ya🙂

  2. Semoga Yu Masfufah dilancarkan rezekinya …
    rezeki halah yang penuh berkah

    salam saya Ri

    Semoga sukses di perhelatan mak cebongs

  3. Mak Cebong 3 dataaannnggg🙂

    Hadooohhh ceritanya menyentuh banget. Tapi berhubung bukan pengalaman sendiri, so sori dori mori yah belom bisa didaptarin jadi peserta.

    Sok atuh Say bikin lagi yang baru. Insya Allah bisa, pan sampe tanggal 25 penutupannya🙂

    Thanks yaaaaa🙂

  4. aku tau dia …
    dia emang wanita yang pantang menyerah……..

    biarpun hidup tanpa seorang suami, ia bisa menghidupi seorang pangeran keacilnya…
    salau ama tante,,,

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s