Aku dan Secangkir Kopi

Sumber gbr

Pagi ini mendung… Denpasar gelap gulita…

Nampak dari kajauhan kan ada badai besar menerjang ibukota Bali, gelap, sesekali kilatan cahaya menampakkan diri. Aku gelisah, menanti seseorang yang tak jua datang. Dua hari tanpa kabar, mampu melihat gelisah diriku. Tak ubahnya seperti seorang kekasih yang sedang menunggu kedatangan sang pacar. Bahkan mungkin lebih dari itu. Meskipun aku tak pernah pacaran, tapi aku tau, aku lebih merindu seorang itu dari balik serambi.

“Bik Win, lama sekali ya..”

Bik Win, begitu panggilanku sehari-hari padanya, bisa dikatakan, itu panggilan sayang dari semasa aku masih dalam buaian. Bik Win menjaga, merawat dan mendidikku dari kecil, saat ditinggalkan oleh seorang wanita yang melahirkanku. Hanya bik Win yang setia merawatku hingga kini, hingga aku se-dewasa ini. Sosok bik Win sudah ku anggap sebagai ibu kandung. Beliau selalu ada, disaat aku butuhkan. Tidak seperti ayah, yang ‘sok’ sibuk mengurusi pekerjaan kantornya.

Uang telah membutakan mata ayah, setiap hari hanya mengejar dunia, tak peduli padaku. Padahal aku membutuhkan sesosok ayah yang bisa diandalkan saat aku membutuhkannya. Aku ingin ayah datang saat aku belum tidur. Aku ingin beliau berangkat kerja setelah aku bangun. Aku tak habis pikir, pekerjaan macam apa yang ayah geluti.

“Ah, lamunan macam apa ini”

Aku tak peduli apa yang ayah kerjakan. Duniaku hanya bersama bik Win, wanita 47 tahun yang tinggal jauh dari kota ini.

Ada apa dengan bik Win, tak seperti biasanya datang sampai se-siang ini. Aku pun tak seperti biasanya, bangun se-pagi ini tanpa mendengar hentakan tangannya dipintu dan lembutnya suara bik Win membangunkanku. Meski sepagi ini bangun, tetap saja, ayah mendahuluiku. Sedihnya punya ayah seperti itu, tapi aku heran, bagaimana ayah bisa pulang malam dan bangun pagi-pagi sekali. Ah, lagi-lagi, ayah. Rasanya pagi ini aku merindukanmu, Yah.

06.24 wita

Dari kejauhan tampak seseorang yang berjalan cepat menuju rumahku, membelah rintik hujan yang kini mulai me-lebat. Wanita berpayung hitam itu benar-benar menuju ke sini, ke arahku.

“Apa itu bik Win?” tanyaku dalam hati.

Bukan, itu bukan bik Win. Aku mengenali langkah kaki bik Win, tak seperti itu. Mendekat.. dan semakin dekat. Ini pasti bukan bik Win, tapi kenapa bik Win tak kunjung datang. Matahari sudah beranjak tinggi meninggalkan ufuk, aku harus segera berangkat kuliah. Aku butuh secangkir kopi, kopi buatan bik Win. Aku tak biasa sarapan sebelum nyruput secangkir kopi, meski bik Win pernah melarang. Ya, bik Win sempat melarangku meminum kopi sebelum sarapan.

Gara-gara aku tak mau sarapan dan tidak masuk kuliah, bik Win akhirnya mengalah. Dia tetap saja menyediakan secangkir kopi di meja makan. Aku memang pecandu berat bubuk hitam nan pahit itu. Pecandu berat. Bagiku, ngopi itu lebih nikmat daripada merokok. Sementara kebanyakan orang, ngopi tanpa rokok itu hambar rasanya. Selera orang memang berbeda.

Aku ini pecandu kopi, tapi tak pandai membuat racikan kopi menjadi istimewa, seperti buatan bik Win. Aku tak pandai membuat kopi, yang aku tahu hanya bik Win. Apa-apa yang ku butuhkan selalu bik Win yang menyediakan. Bik Win memang TOP. Dia selalu tahu apa yang ku inginkan. Meski bik Win selalu meladeniku hingga kini, ย tapi dia tak mau tinggal bersama kami di rumah ini. Rumah yang hanya ku tinggali berdua dengan ayah.

Bik Win sangat dipercaya oleh ayah. Siang hari, ia mengerjakan tugas rumah, layaknya seorang ibu rumah tangga. Pagi subuh bik Win sampai rumahku, sore harinya dia pulang. Begitu seterusnya, kegiatan rutin bik Win di rumah ini. Meski dengan sepeda jengki yang sudah usang, bik Win tak pernah bermuka masam saat mengerjakan pekerjaannya.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumussalam, maaf, mau cari siapa ya mbak?” Tanyaku

“Maaf, mas… saya anaknya bik Win. Ibu sakit, sehingga saya datang untuk menggantikan beliau”

Sebentar… aku masih heran. Aku tak percaya ini. Gadis tinggi semampai secantik ini adalah anak dari bik Win. Sepertinya aku baru melihatnya sekarang. Aku ingat, aku ingat… dulu bik Win pernah membawa gadis kecilnya ke rumah. Tapi itu dulu, saat aku berseragam putih-merah. Benar-benar berbeda. Ini seperti gadis impian saya yang sering menyapa di alam mimpi. Aku benar-benar tak menyangka ini semua.

“Maaf, mas.. saya datang terlambat, tadi membelikan obat dulu di warung.”

“Oiya, enggak apa-apa” Aku masih tercengang.

“Saya langsung buatkan kopi ya, Mas”

Aku menangguk, mengaminkan kata-katanya dengan pandangan kosong. Jika bercermin, mungkin wajahku tampak culun, senang, kaget, sedih, bercampur menjadi satu. Aku tak tau kalau bik Win sakit, dua har lalu beliau baik-baik saja. Tentu saja aku sedih mendengar berita itu, dan aku sedih, pagi ini tak akan menikmati secangkir kopi seperti biasanya.

“Ini mas, silakan di-unjuk.”

Gadis itu berlalu setelah meletakkan kopinya di meja, meja serambi di samping kursi yang ku duduki. Ini seperti mimpi. Sungguh, aku seperti dalam mimpi. Hampir-hampir aku tak bisa membedakan, ini nyata atau fatamorgana. Sudahlah, percuma aku terus heran. Dia memang benar-benar anak dari bik Win. Mau bukti apapun, tetap saja dia adalah anak dari orang yang paling dekat denganku di rumah ini.

Srupuuuutttt…

๐Ÿ˜ฏ Mataku terbelalak, kaget. Ini semakin tidak mungkin. Kopi ini… ini seperti buatan bik Win, sama persis. Aku masih belum percaya dengan semua ini. Sruputan kedua pun terjadi.

๐Ÿ˜ณ Aku tersipu, tersenyum sendiri dengan secangkir kopi ๐Ÿ˜ณ

—–

Unjuk : minum

Fiksi ini adalah jeritan hati, tatkala stock kopi di dapur sudah tak ada lagi ๐Ÿ˜ฆ

***

Have a nice day! ๐Ÿ˜‰

Iklan

57 responses to “Aku dan Secangkir Kopi

  1. fiksinya aduhai mas, dhe sukaaa.. apalagi ada kopi yang jadi pemanis di cerita ini.. dan pipi semi merah dibagian akhir, jangan2 gara2 kopi maka cinta antara sang majikan dan anak bik win bersemi.. ๐Ÿ˜›

  2. Saleum,
    OO jadi kalau stok kopi nya habis bawaannya seperti diatas ya kang? beda sama saya, kalau stok kopi abis saya langsung ke warung pesan lagi seCANGKIR KUPI,…. hahaha

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s