Tidur Satu Detik

Surau tak lagi ramai, hanya alunan suara murotal menenangkan jiwa. Hatiku terasa tenang mendengarkan dengan santai, sembari bersandar pada dinding marmer yang terasa dingin. Semakin berat kelopak mata, terasa terbebani untuk tetap terjaga. Akhirnya kuputuskan untuk pulang, menembus dinginnya udara pagi hari. Sejuk. Sayang sekali suasana jalanan yang begitu sunyi dari kendaraan tak bisa kunikmati, seperti biasa, Rhinitis alergi kembali menyergap. Aku tak kalah sigap menutup hidung dan sebagian muka tak termasuk mata dengan saputangan yang biasa kubawa.

Lima menit terasa lama, berkendara satu tangan dengan kecepatan rata-rata 30 km/jam. Sepeda kuparkir dan masuk ke ruang rahasia favoritku, kamar. Merebahkan tubuh rasanya menyenangkan. Tanpa basa-basi, aku menjatuhkan diri pada spring bed tebal, persis yang kulakukan saat bermain dengan Ayu, adik pertamaku. Tapi itu belasan tahun yang lalu, saat aku belum meninggalkan Tunjungsari, desa di sebuah kabupaten yang katanya berslogan ‘Kota Santri’.

Tengkurap. Buka SMS masuk yang belum kubaca. Belum semuanya terbaca, tak sadarkan diri dengan blackberry yang masih kugenggam. Aku lupa, kebiasaan buruk sebelum tidur seperti itu belum bisa lepas dari diriku. Tertidur kala memegang hape.

***

Terpejam. Terbangun. Aneh. Rasanya baru sedetik aku memajamkan mata, tapi sekarang rasa kantukku hilang begitu saja. Aneh, ini hal teraneh yang kualami. Kantuk hilang hanya terpejam sedetik saja. Aneh tapi menyenangkan. Menyenangkan bila terjadi berkali-kali, aku bisa melakukan berbagai hal untuk menggantikan waktu tidurku. Cukup dengan tidur sedetik sebagai obatnya.

Sprei merah marun yang kusut kubenahi. Iya, spreiku memang berwarna merah marun, tapi bukan berarti aku suka warna itu. Terpaksa saja memakainya, sebab sprei yang lain masih dibangsal, penampungan pakaian kotor. Sprei ini kupakai karena bahan kainnya, bukan warnanya. Dengan cepat kumelangkah menuju dapur, menemui ibu.

“Bu, masak apa pagi ni? Wah… Tampaknya enak nih. Di Denpasar saya tidak biasa sarapan pagi, Bu”

“Ibu buat megono, tempe goreng, dan sambal goreng. Pagi-pagi makannya sederhana, nanti siang baru Ibu bikin menu kesukaanmu”

“Bapak kemana, Bu?” Tanyaku sambil mengunyah tempe goreng buatan Ibu. Tempe goreng yang sudah jarang kunikmati. Tempe memang sudah beredar ke seluruh pelosok Indonesia, tapi rasanya beda antara tempe Denpasar dan tempe buatan Ibu:mrgreen:

“Itu di belakang. Bapakmu kan tiap pagi cuma ngurusin ayam”

Cepat sekali ibu memasak. Tempe goreng, megono, nasi dan sambal goreng selesai dalam sekejap. Tak pernah kebayang, bagaimana jika aku yang masak, pasti adik-adikku akan telat masuk sekolah. Ibu memang sigap, biasa mememasak sambil mengerjakan yang lain, termasuk perlengkapannya ke pasar. Pagi sebelum jarum jam berada di angka 6, pasti sudah beres. Termasuk menu sarapan sederhana kami setiap hari.

“Sudah. Ayo kita sarapan dulu, panggil Bapakmu sana”

Nggih” (iya)

Ah, benar-benar damai di kampung sendiri. Suasana adem – ayem. Bukan.. Ayem bukan mlempem, di daerah Jawa Timur, ayem berarti mlempem. Mlempem seperti krupuk yang sudah tak renyah. Krupuk yang tak terbungkus. Aku pernah bercerita demikian kepada Ibu saat baru tinggal di Surabaya. Peralihan bahasa yang sangat kentara bagiku. Berbeda, jauh berbeda, hampir-hampir aku menyerah tak bisa mengikuti gaya bahasa orang sini.

Kini..

Berbeda. Sekarang malah terbalik. Logatku sudah berbeda. Cara berbicaraku aneh, ‘seperti bicaranya orang madura’ kata temanku suatu hari. Bukan karena sengaja, aku benar-benar telah membaur di lingkungan yang sekarang. Aku sudah jarang menggunakan bahasa Jawa halus, padahal seorang aktivis di desaku tidak ada yang lepas dari bahasa krama, termasuk diriku.

“Sudah ya, Ibu ke pasar dulu. Nanti tak buatin sayur sop”

Tiba-tiba saja tak lama setelah itu hujan turun. Gerimis lebih tepatnya. Pagi-pagi, gerimis, nyaman.. Tenang.. Apalagi pasca sarapan pagi. Aku tak terbiasa dengan keadaan seperti ini di Denpasar. Tak heran, jika aku suka gerimis di Denpasar daripada di Pekalongan. Menikmati kopi beralun dengan rintik air mengenai genteng rumah lebih kusukai di sini, Denpasar.

***

“Mas Ariii… Mas Arii…!”

Sesekali diselingi suara telapak tangan beradu membentuk hentakan yang cukup membuatku mendekat. Suara itu dari arah bawah. Tak lebih dari dua teriakan, aku langsung melihat sumber suara. Mataku masih sayup, rambutku kusut, tapi berbeda dengan perasaanku. Hatiku lebih tenang dibanding dua jam lalu.

“Mas Ari, ini kulempar ya? Tangkap ya, biar nggak pecah”

Responku seketika dengan mengangguk, tanpa kata. Lemparan Paman tepat. Aku menangkapnya. Botol kaca dalam kantong plastik putih berhasil kutangkap dan kubawa masuk. Aku duduk di atas kasur, tersenyum.

Alhamdulillah..

Aku lega. Hatiku tak lagi beku. Alhamdulillah, aku bersyukur dalam hati. Meski hanya tidur satu detik, aku bisa merasakan sarapan bersama kedua orangtuaku di kampung halaman. Kulihat jam di handphone, ternyata sudah 2 jam sejak sholat subuh, aku tertidur.

Dua jam. Ya, dua jam. Berarti seharusnya ada banyak cerita yang bisa kutuangkan. Tapi kenapa aku hanya ingat sebongkah kisah dalam mimpi?

Sudahlah. Yang penting sekarang aku sudah lega, saatnya beranjak ke kamar mandi dan segera beraktivitas.

***

Hai kawan-kawan… Selamat datang Maret… Aku belum tertinggal kan?😉

Salam

Gbr: saturindu.multiply.com

26 responses to “Tidur Satu Detik

  1. Sudah berlogat Madura? Haha.. asyik dong Mas, jadi mirip logat saya.

    Selamat datang Maret, kabarnya ini bulannya orang keren, benar nggak ya?

  2. tidur satu detik? belum pernah deh kayaknya hehe..
    tidur lama atau sebentar yang penting berkualitas jadi bener2 istiraha..🙂

  3. Hm, lama ndak ke sini, Ri.. hiks, maaf😥
    Tampilannya baru lagi, bagus🙂

    Logat Madura? Hm, hayoo.. kalau nanti jadi ke Jogja, jadi pengen nge-test ini.
    Budheku juga di Bali, asli Jogja tapi karena sudah 30 tahun lebih di sana ya jadi begitulah logatnya berubah:mrgreen:

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s