Adil

Seperti biasa, rutinitas hari kerja teman saya, Nizam adalah menyiapkan segala perlengkapan sekolah kedua buah hatinya. Sudah 6 tahun lamanya Nizam menjalani aktivitas pagi seperti itu, sibuk. Mulai dari membangunkan mereka, menyiapkan makanan, sampai menyiapkan seragam sekolah dan memandikan mereka. Nizam adalah sosok ayah yang baik bagi Fino dan Fani.

Beliau adalah teman lama saya, mulai sejak SMP. Baru saat lulus SMK kami berpisah untuk waktu yang cukup lama. Hingga kemarin, saat Fino sudah memasuki kelas 2 (Dua) Sekolah Dasar. Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan keluarga Nizam, meski tak sempat berkenalan dengan istrinya. Shinta -nama panggilan dari istri Nizam- sudah meninggal enam tahun yang lalu saat melahirkan putri kecilnya, Fani.

Sebagaimana pada umumnya sifat anak-anak, Fino dan Fani masih belum bisa akur. Mereka sering bertengkar gara-gara hal kecil. Persis seperti kelakuanku waktu kecil. Sepulang dari masjid, saya berkesempatan mampir ke rumah Nizam. Dan tak terasa dua jam obrolan kami belum berujung. Maklumlah, banyak hal yang kami ceritakan selama beberapa tahun tak bertemu.

Saatnya Fino dan Fani berangkat sekolah. Kebetulan hari ini Nizam tak masuk kerja, makanya saya diminta menemaninya sampai anak-anak berangkat ke sekolah. Kebetulan juga saya menyukai anak-anak, sehingga saya turut membantu sahabat saya itu menyiapkan makanan. Yah, biar laki-laki bujang saya bisa masak. Ala kadarnya😀

“Fino sudah besar ya, kelas berapa sekarang..?” sapaku disambut salim oleh si sulung.

“Kelas dua” jawabnya singkat, muka Fino terlihat malu.

“Fino, adikmu mana, Nak?’ tanya Nizam, sembari mengajak duduk di kursi meja makan.

“Masih pakai sepatu, Bi” jawabnya.

Tak lama berselang, Fani datang menyusul duduk bersama kami. Sarapan sederhana hasil dari masakanku habis. Alhamdulillah. Saya bersyukur dan merasa senang, mereka mau memakan sampai habis. Nizam telah menanamkan sikap disiplin dalam hal apapun, termasuk membiasakan menghabiskan makanan. Masih sama seperti dulu, mubadzir adalah kata yang selalu diucapkan manakala melihat temannya tak menghabiskan makanan di kantin.

Mereka terlihat lucu, masih polos dan menggemaskan. Setelah beberapa menit makan, kami mengantar mereka ke sekolah. Kebetulan sekolah mereka sama, satu komplek. Mulai dari Taman Kanak-kanak sampai SMP ada disitu. Saat perjalanan menuju sekolah, mereka tak mau diam membicarakan banyak hal. Keluarga yang menyenangkan. Dibalik canda dan tawa saya tersimpan doa, mudah-mudahan kelak bisa mempunyai keluarga yang sebahagia ini. Sahabatku, Nizam.

Nah, sesuatu terjadi justru ketika hendak turun dari mobil. Tak lupa Nizam memberi uang saku untuk mereka berdua.

“Abi, kok Kak Fino uangnya lebih banyak..! Abi nggak adil!” protes si kecil Fani.

“Ohh, Kak Fino uangnya buat beli buku, Dek. Memangnya Adek mau beli buku juga?” jawab Nizam sambil tersenyum manis.

“Uang segitu sudah banyak kan, Dek? Kalau uang saku Om dulu mah hanya 5o perak saja” ujarku menenangkan hati Fani.

“Nanti Adek kalau sudah kelas 2 juga dikasih banyak sama Abi” ejek Fino

“Iya, adek nanti kalau sudah kelas dua pasti Abi beri banyak uangnya” jelas Nizam sekali lagi.

“Kalo Dek Fani yang dikasih uang banyak, nanti Kak Fino nggak bisa beli buku dong. Itu malah Abi nggak adil jadinya” tambahnya.

Fani anak manis dan penurut, saya salut.  Anak sekecil dia mau mengerti. Hasil didikan ayahnya sangat bagus. Senyum dibibir Fani tampak jelas menggambarkan bahwa dirinya mengerti perkataan Nizam. Aku hanya tersenyum. Setelah mangantarkan ke gerbang sekolah, kami beranjak pergi meninggalkan mereka dan kembali sore nanti untuk menjemput mereka.

——

Pagi itu saya telah mendapat pelajaran dari si kecil. Adil itu tidak selalu harus sama rata, tidak berat sebelah. Adil berarti bijak dalam berbuat. Seperti halnya Fino dan Fani. Fino mendapat uang saku yang lebih banyak dibandingkan Fani. Sebab, kebutuhan Fino lebih banyak daripada kebutuhan Fani. Hal yang semacam itu termasuk adik, meletakkan sesuatu pada porsinya masing-masing. Namun, terkadang adil juga bisa bermakna seimbang, sama rata. Misalnya, saya punya sebuah roti untuk dibagikan kepada dua anak kecil maka saya harus membaginya rata antara satu sama lain.

Jadi, sudahkah kita berbuat adil?

Sumber gbr: http://bdautika.files.wordpress.com

69 responses to “Adil

  1. Adil berarti bijak dalam berbuat …

    Tidak selalu berarti harus sama …

    Ini benar sekali Ari …
    Dan justru disinilah letak tantangannya …

    Salam saya Ari

    • iya Om, tantangan yang berat. karena cara pandang setiap orang berbeda. bisa jadi menurut kita sudah adil tapi menurut orang lain belum…

  2. itulah yang sering digembar-gemborkan kaum feminis, bahwa harus adil antara pria dan wanita. padahal adil itu juga harus melihat bagaimana kodratnya.
    TFS

  3. iyaaa.. gak ada ceritanya adil itu sama rata kan yak.. adanya adil itu mendapatkan porsi sesuai kebutuhan kita, bukan sesuai keinginan🙂

  4. emg orang tuanya pinter
    tau bagaimana cara mendidik anak.
    tapi ada yang mninggal gini. jadi sedih gan.
    pembelajaran yang sangat bermanfaat. biar pun simpel. tapi sangat padat.

  5. kalau saya nanti jadi seorang ayah, apakah saya bisa bersikap adil ^ ^

    aduhhhhhh kook jadi ngelantur ya “mengingat untuk diri saya pribadi saja belum bisa berlaku adil, bagaimana saya nanti berlaku adi untuk keluarga saya ya :’)”

    semanga semangat semangat “teriak teriak dalam hati”

    • meski tak mudah, mari kita coba dan jangan skali2 berkata tak mudah, nanti bisa bener2 susah😀
      makasih dah mampir di sini, mas..😀

  6. Ping-balik: Masalah | ekoeriyanah·

  7. setuju sekali…adil bukan berarti harus memberikan yg sama persis, namun sesuai porsi yg dibutuhkan masing-masing..pengertian yg seringkali kurang dimengerti banyak orang sehingga menimbulkan kecemburuan…

  8. iya benar, adil itu pada tempatnya, hehe🙂
    masih kecil tp sudah pintar skali pemahamannya🙂
    kl saya dulu sih umur segitu masih bandel2nya ~.~

  9. Sip…. si Ari juga jago masak rupanya, kapan2 aku pesan nasi goreng kambing special pake telor lima😆

    Jadi ingat dengan cerita anak SD yang minta dibelikan sepeda motor karena iri melihat kakaknya yang sudah kelas XII diberi sepeda motor juga.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  10. Menurut saya adil itu sesuai porsi, Ri.
    Mana yang tanggung jawabnya lebih besar, pembagiannya juga lebih besar.
    Kayaknya kita sama, karena kalo adil itu artinya sama rata sama rasa, sama aja kita dengan negara komunis…hehe😀

  11. kadang kata adil ini sulit sangat dikerjakan , walau mudah sangat diucapkan
    ketika adil berarti melakukan kebijakan yg sesuai, kadang belum juga terpenuhi ….
    wuih, kok ya jadi ribet gini si bunda komennya😦

    salam

    • iya bun. adil itu berbeda kalao menuruti kemauan individu.. pasti ada saja pihak yang merasa drugikan meski kita sudah berbuat adil..

  12. Ping-balik: Anda Sopan, Saya Segan « Tunsa·

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s