Anda Sopan, Saya Segan

Anda sopan, kami segan. Kalimat itu pertama kali saya dapati diangkot (Angkutan Umum). Mungkin anda sering membaca di berbagai tempat. Bagus, penuh makna yang terkandung di dalamnya dan hendaknya perlu dicermati bagi seorang insan yang masih bergaul dengan manusia. Teman kepada teman, murid kepada guru, anak kepada orangtua, pasien kepada dokter, penjual kepada pembeli, atau sebaliknya.

Orang Indonesia terkenal ramah, bukan?

Ramah adalah kebiasaan orang Indonesia. Walaupun demikian, ramah atau tidaknya seseorang itu tergantung pada kebiasaan dan sifat dasar orang tersebut. Ada yang benar-benar ramah dari diri mereka sendiri, ada juga yang hanya ramah di depan publik (umum). Ramah dibalas senyum, marah dibalas mrengut (Cemberut -Bahasa Jawa-).

Lagi-lagi saya belajar banyak dari pergaulan sehari-hari. Baik dalam dunia maya maupun dunia nyata. Kali ini saya alami kejadian dalam dunia nyata. Beberapa kali pula saya merasakan kekecewaan akibat hal tersebut. Kecewa hanya sebatas “menyayangkan” sikap orang tersebut, bukan menyalahkan. Butuh banyak faktor  dan bukti seseorang bisa menyalahkan orang lain.

Sudah selayaknya dan sepatutnya seorang penjual melayani pelanggan, bahkan ada ungkapan pembeli adalah raja. Yah meskipun tidak sepenuhnya saya membenarkan ungkapan tersebut. Ada sisi lain dimana seorang pembeli / pelanggan bisa dikatakan bukan seorang “raja”. Dan hal itu tidak akan saya bahas lebih lanjut. Nanti pada tidur semua lagi :mrgreen:

Cerita ini memposisikan diri saya menjadi seorang pelanggan/ pembeli bukan penjual. Hal ini sering terjadi antara penjual dan pembeli. Manakala saya berada pada posisi sebagai penjual pun sering melakukan kesalahan yang serupa. Sekali lagi jangan salah paham ya, saya nggak menyalahkan siapapun hanya saja kejadian ini sering terjadi antara penjual dan pembeli. Tentunya saya juga sering dibenci para pelanggan 😦

Begini ceritanya..

Pelanggan itu adalah seorang pembeli yang sudah berlangganan membeli di tempat penjual *Semua orang juga tau. Maksud saya selain JASA tapi jual-beli barang. Artinya, seorang pelanggan akan lebih dekat dengan penjual bukan? karena sudah sering membeli ditempat tersebut. Pelanggan juga seringnya mendapat perlakuan khusus dari penjual. Nah, perlakuan khusus itulah yang sering diselewengkan. Penjual biasanya sering lalai dalam hal ini. Bukan karena berlebihan memberi diskon atau yang lain.

Beberapa hal yang sering dilalaikan penjual kepada pelanggan:

1. Pelanggan sering dilayani belakangan

Nah, hal ini yang saya maksud. Seorang pelanggan bisa merasa kecewa karena pelayanan yang seperti ini. Tidak semua penjual demikian memang, tapi ada beberapa penjual yang demikian. Biasanya seorang penjual akan berpikir jika pelanggan itu tidak akan berpindah ke tempat lain. Itu pemikiran yang SALAH. Bagaimanapun juga pelanggan adalah pembeli dan seorang manusia biasa. Jika kecewa dengan layanan penjual tidak mustahil mereka akan berpindah ke lain hati.

Sebagai contoh, sudah dua minggu ini saya sudah berhenti makan burjo di tempat biasanya karena kecewa dengan pelayanannya.

“Pak, burjo satu, makan sini” request saya seketika turun dari motor.

“Tumben &*$#$^@(*&$(@&)!^)$)” –menanyakan kabar dan lain-lain

Setelah itu si penjual kembali ke peraduan, prasangka saya beliau mau membuatkan semangkuk untukku. Ternyata ada pelanggan lain yang minta dibungkuskan tiga. Setelah itu datang lagi pelanggan lain, dibungkus juga. Lalu datang lagi yang lainnya, saya pun menyela “saya satu, Pak” dan tidak ada tanggapan kata oleh penjual. Kemudian ada oranglain duduk disebelah saya, minta satu porsi makan disitu. Saya yang sedari tadi berdiri dilewati lagi. Semakin banyak berdatangan pelanggan lain yang minta bubur kacang hijau bungkus dan Saya pun terlantar dalam keadaan lapar. Lalu tanpa permisi *saking kesalnya, saya pulang 😦

Haha.. salahkah diriku?

Penilaian seseorang itu lain-lain, mungkin ada yang beranggapan sikapku itu wajar, mungkin juga ada yang mengecam perilakuku yang tidak sopan. Terus terang saya agak kesal dan marah. Saya hanya bisa mengungkapkan rasa kesal dengan diam, tak bisa mencerca, terlebih memaki. Jadi jika saya diajak bertengkar atau berdebat sudah pasti akan mengangkat bendera putih, menyerah. Entahlah tapi seringnya penjual memang begitu. Aku juga seorang penjual dan pastinya sering dicaci oleh pelanggan diluar sana.

Intinya, pelanggan tetaplah pembeli. Kita harus bisa berbuat adil, siapa cepat dia dapat. Siapa datang terlebih dahulu maka dia yang kita layani dahulu. Meski pelanggan, pasti suatu saat nanti akan berpindah ke lain hati jika tak kita layani dengan senang hati 😀

2. Candaan penjual kepada pelanggan sering keterlaluan

Hal ini juga yang sering dijumpai dalam akad jual-beli. Alih-alih pelanggan lama, kita bebas bercanda kepada mereka. Itu juga perlu kehati-hatian. Bercanda memang hal yang biasa, tapi manakala candaan kita terlalu menyakitkan akan berakibat fatal, terutama kepada pelanggan.

Guyon yang keterluan itu bagaimana kriterianya? saya kita setiap orang mempunyai pendapatnya masing-masing. Intinya jangan terlalu menyakitkan pelanggan jika kita sedang guyon. Apabila tiba-tiba tak sengaja melakukan yang demikian, maka dengan cepat dia harus minta maaf.

Pernah ada seseorang berbadan kekar dan besar keceplosan mengejek pelanggannya, keesokan harinya dia meminta maaf dengan orang yang dilukainya hingga menangis, meraung-raung. Sungguh ini fakta. Saya melihat sendiri hal itu. Awalnya saya juga tak menyangka bahwa orang tersebut akan meminta maaf dengan cara menangis hingga menciumi tangan gara-gara guyonan kecil yang dilontarkannya. Saya mengira ada pertikaian kecil antar mereka, tapi setelah saya wawancarai, ternyata gara-gara guyonan kecil.

Hal itu bisa menjadi pelajaran bagi kita, agar segera meminta maaf kepada orang yang kita dzalimi meski dalam keadaan bercanda. Apalagi kepada pembeli/ pelanggan kita.

Saya yakin, sopan-santun sudah diajarkan kepada kita dalam pelajaran kewarganegaraan/ PPKN sejak masih Sekolah Dasar. Kalaupun tidak menyenyam sekolah formal saya yakin sudah ditanamkan nilai-nilai sopan-santun oleh orangtua kita. Sopan adalah budaya Indonesia.

Jika kita sopan, pasti oranglain akan segan

Saya segan karena anda sopan. Anda sopan, maka saya segan. Mari kita sama-sama berbuat sopan kepada siapa saja. Jika ingin dihargai maka harus menghormati, itu harga mati.

70 responses to “Anda Sopan, Saya Segan

  1. aq juga pernah mengalami kejadian yg tidak mengenakan dgn penjual yg gak ramah…bukan hanya gak ramah plus dgn wajah cemberutnya ketika melayani pembeli
    mungkiiiin….dia lagi bad mood atau ada masalah tapi tetap kan pembeli gak akan mau tau

    btw alangkah lebih baik jika kita ramah secara lahiriah diimbangi juga ramah secara bathiniah ya…?
    jadi cantik luar dalam

    • wah.. jika demikian adanya (cantik lahiriyah dan batiniyah) maka pembeli akan betah berlama-lama di toko/warung/ mall tersebut 😀

  2. Kalau yang pertama itu kebangeten banget, Pak. Gara-gara sudah kenal malah ditelantarkan. Kalau sakedar ‘disalip’ satu pelanggan lain gak papa. Tapi kalau sampai banyak kek gitu apalagi dicuekin, sayapun akan merasa tersinggung.

  3. setuju, om.
    tapi kalo semisal gak dilayani gitu, kalo saya mah tergantung mood 😀 😀
    kalo lagi ‘males’, gak akan saya gubris, langsung aja tak tinggal.

    tapi kalo lagi ‘bener’ (alias memperjuangkan hak sebagai pembeli), akan saya minta lagi. kalo perlu saya datengin tuh penjual burjonya.

    dan ternyata, yang namanya m-e-l-a-y-a-n-i itu bukan sekedar memberikan apa yang diminta oleh konsumen ya, tapi ada tugas lebih disana.

    • hehe.. memang sih mereka kan juga manusia 😀
      tapi ada batasannya juga dalam memberikan pelayanan. disesuaikan dengan pelanggan 😀

  4. Untuk kalimat yg digaris bawahi, aku sangat setuju…bukan hak kita untuk menghakimi orang lain.. 🙂

  5. Melihat perilaku yg kurang sopan membutuhkan ekstra kesabaran.
    Setuju sob, kita akan segan & menghormati pada orang yang sopan.
    Salam persahataban.

    • hehe.. ada temenku yang lebih ngerjainnya. karena tidak dilayani, maka ditunggu lama sampe dibuatkan makanannya, lalu dia pergi begitu saja dengan tidak membawa makanan tersebut sementara makanan itu sudah disiapkan untuknya, haha… saking kesalnya katanya

  6. Permissiii… aye mau komen *sopan..opan* 😀
    kejadian pertame Nay anggap wajar, gue bayangin juga kesel, kalo dicuekin begono.. eerrrrrr…pengen garot burjo :p

  7. Bang, burjo satu ya… Harus bikinan sendiri. Saya tunggu hari ini ya, harus sampai Jogja.

    ~> hari ini pesanan tidak datang, saya tak akan pernah beli burjo di sini lagi
    (contoh kekesalan pelanggan) 😆

  8. kesopanan merupakan salah satu tata krama yg wajib dilakukan dan dipahami semua orang~
    jadi, bersikaplah sopan dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja~ 😉

  9. sy juga pernah gitu, sy pesan..tapi justru yang didahulukan setelah saya..terus sy coba konfirmasi lagi nanyain pesanan sy.dan masih gitu juga..akhirnya sama, saya tinggalkan gitu aja..karena udah kesal banget :D.

  10. hohohoho… sesungguhnya bersikap baik sama orang lain sama seperti bersikap baik pada diri sendiri… itu yang selalu Oyen pegang… karena amal sekecil apapun pasti ada balasannya, begetooo

    kampong jengkol ada hajatan noh, kale mo ikutan…hehehe 🙂

  11. wajar banget dong kalau mas pulang.. aaahhh kalau aku udah mendumel tuh.. terlebih dahulu aku bakalan kasih isyarat biar penjualnya tahu kalau aku kecewa.. biar sadar gitu..

  12. slogannya bener banget yaaa…
    ngomong ngomong antara penjual dan pelanggan… saya sih sering mengalami hal hal unik berkaitan dengan hal itu, karena saya seorang penjual.
    pembeli adalah raja, memang… tapi jika pembelinya tidak sopan, pembelinya semena mena… penjualnya pasti juga kesel kan

  13. Kalo saya ketemu dengan Ari, kayaknya kita bakal langsung nyambung deh…saya juga penganut paham ini, Ri…samaaaaa banget!

    Pelanggan kadang memang dianggap sebagai orang yang tidak mungkin pindah ke lain tempat karena sudah cocok. Padahal kita juga tidak minta prioritas kan, hanya ingin dilayani dengan baik dan menyenangkan sesuai urutan…
    Gimana?
    Akur kan?
    😀

    • haha.. iya dong… makanya kita jangan makan ditempat yang begituan bun, ntar rusuh gara-gara kita berkolaborasi memporak porandakan jualan mereka karena ketidak puasan, haha
      salam

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s