Jogja – Pekalongan

Jogja ke Pekalongan

Kalau kita amati, di dalam peta dunia Jogja – Pekalongan tak lebih dari satu jengkal. Nyatanya setelah saya observasi pada beberapa peta, memang demikian adanya, hihi.

Sudahlah, lupakan. Efek mabok masih terasa sampai sekarang rupanya. Ya, memang tak lebih jauh daripada Paris – Pekalongan, tapi jarak sebegitu pendeknya membuatku sampai nangis darah, keringat nanah #halagh. Rasanya pingin muntah jika mengingat-ingat hal itu lagi.

Baiklah, saya akan jujur. Ini bukanlah kali pertama perjalanan menyebalkan yang saya alami. Seharusnya saya sudah kebal toh? tapi ternyata enggak. Jogja – Pekalongan terasa lebih jauh daripada Denpasar – Pekalongan. Kenapa? sebab bis yang saya tumpangi mungkin jelmaan dari penyu sirip hitam, atau mungkin keong yang lagi keseleo.

Ya, ya, ya.. Saya sendiri yang salah. Setidaknya keinginan naik trans Jogja sudah tercapai:mrgreen:

***

Jadi blogger emang enak, punya banyak kenalan dari berbagai daerah dibelahan bumi nusantara tercinta ini. Termasuk Jogja. Meski mereka tak mengenal saya, tapi saya mengenal-ngenal mereka istilah kerennya SKSD gitu lah. Kepulangan saya yang berubah dari jadwal sebelumnya menyebabkan persiapan tak mapan. Padahal beberapa hari sebelumnya sudah diingatkan oleh salah seorang blogger, agar saya bisa menyiapkan semuanya.

Berangkat dari rumah bos jam 5 subuh, saya tak mengingat jam berapa tepatnya. Oiya, karena saya pulang pagi buta, maka saya tidak mau merepotkan kawan-kawan saya untuk mengantar ke bandara. Kali ini saya pengen merepotkan bos untuk meminta beliau mengantarkan ke Ngurahrai. Hihi.. ada mah anak buah nganter bos yak๐Ÿ˜†

Takut terlambat dan biar agak santai, kami berangkat sebelum adzan subuh karena menghendaki sholat subuh di masjid bandara (Masjid Nurul Huda). Singkat cerita gate 18 dibuka dan terbanglah saya menuju kota pelajar. Siiiitt.. eh, belum ngimpi dah sampai. Dari situlah terjadi konflik pada diriku, apa yang harus kulakukan. Sebenarnya sebelum sampai disitu niat saya langsung cabut ke Pekalongan dengan transportasi seadanya yang paling cepet.

Antara ingin mencoba trans Jogja dan ingin pulang cepat. Untuk mengenyahkan rasa suntuk berlebihan yang bisa saja membuat diriku stress, akhirnya kukeluarkan kotak ajaib bertombol angka dan huruf. Klak.. klik… kluk… dor… saya es-em-es-an sama mbak Phi, blogger Jogja. Sekalian nanya-nanya keadaan Jogja. Dan beberapa kali ngobrol via sms, rasa penasaranku terhadap Jogja mulai meninggi. (Maklum, saya belum pernah ke Jogja, meski deket #Pengakuan).

Akhirnya Trans Jogjalah pilihan saya sebagai alat transportasi menuju terminal. Harapan saya, kalo naik alat transportasi tersebut, saya bisa berkeliling dan melihat-lihat Jogja dari jalurnya sampai terminal. Sambil mencari halte trans Jogja, saya berjalan kaki, hihi… Dan menemukannya jauh dari bandara, lumayan menguras keringat, itung-itung sebagai pengganti lari pagi 2x putaran lapangan renon. Eh, enggak! lebih tepatnya, saya jadi persis seperti orang Jogja๐Ÿ˜€ Lah, bagaimana tidak, dalam perjalanan ada mobil berhenti di sampingku untuk menanyakan suatu tempat. Pake bahasa jawa krama lagi, ahhh… tepat, sotoynya aku ngejawab aja, dengan bahasa yang sudah jarang kugunakan di Denpasar. Untung aja yang ditanya itu arah bandara, xixi..

Lama kumenelusuri jalan kayak orang ilang, ketemu juga tuh embak-embak penjaga halte trans Jogja. Bertanyalah saya kepada dua orang berseragam merah tersebut dengan gaya lugu. Mbak itu ngejawab dengan benar dan tepat lagi mudah dipahami oleh otak berpentium rendah seperti saya. Aku menanyakan terminal terdekat dari halte itu. Seperti saran mbak tadi (saya lupa kenalan #oops) saya naik trans Jogja 3B untuk sampe Giwangan, salah satu terminal Jogja.

Tidak sampe disitu, kebingunngan saya berlanjut ketika sampai terminal Giwangan. Walhasil saya nanya lagi sama penjaga halte Trans Jogja, ditunjukkanlah saya ke dalam terminal. Dengan membayar retribusi 1.000 rupiah saya bisa masuk terminal, dan langsung berkeliling untuk mencari bis Jogja – Semarang. Ketemu, masuk. Itu saja, lalu tak lama kemudian bis jalan. Taukah kalian, inilah saat-saat menyebalkan terjadi. Jam 9 bis berangkat ternyata tak langsung menuju Semarang. Tapiiiiiii…. berkeliling ke terminal-terminal Jogja. Menungu penumpang lamaaaaaa banget. Yang membuatku lebih trenyuh, ini bis rasanya seperti bawang goreng yang baru diangkat dari wajan.

Hadeh.. setelah kupikir-pikir, merenung dalam bis, saya baru tersadar… ternyata saya menaiki bis ekonomi bukan bis patas. Nostalgia naik bis 49 Priuk – Blok M. Persis kayak gitu. Bukan apa-apa, bis ekonomi biasanya akan mencari penumpang disepanjang perjalanannya, seperti angkot. Dan tentunya akan lebih lama sampai tujuan. Harganya sih cocok, cuman 24 ribu saya bisa sampai Semarang dengan bis tersebut.๐Ÿ˜†

Nah, udah tau gitu kenapa masih kamu tumpangi itu bis?

Karena itu bis yang siap berangkat tercepat dari terminal Giwangaan. Mau turun, nanti malah kacau, saya tak tau arah. Masa saya disuruh bertanya pada rumput yang bergoyang? itu hanya ada dilagu #arrgghh

Mana batre hape sekarat dua-duanya lagi. Ah, lebih dari jam 1 siang saya masuk terminal Semarang, Terboyo. Dan heboh, itu terminal kayak di Cakung. Horor dan fanas. Banyak truk-truk besar mengangkut petikemas. Jalanan rusak parah.

Terang saja saya tak betah. Ikut para calo dengan ditunjukkannya bis yang lagi-lagi paling cepat berangkat. Dan lagi (lagi) bis ini tak kalah lambatnya dengan yang sebelumnya. Bahkan lebih lambat. Semarang – Pekalongan mestinya hanya sejam setengah, tapi diluar perkiraan, jam 5 sore baru masuk terminal Pekalongan. Keringet dah panas dingin, pala nyot-nyotan, pusing tak karuan.

Setelah menghampiri masjid dekat terminal Pekalongan dan melaksanakan sholat dzuhur dan ashar, pikiran agak tenang. Sudah memasuki kawasan teritorialku, hihi.. Lega tak terkira, meski senja dah dipelupuk mata. Tapi belum selesai sampai disitu, saya harus menempuh perjalanan ke rumah dengan bis mini jurusan Pekalongan – Kajen – Karangkobar. Masalahnya, bis yang jurusan itu tidak ada lagi kala senja. Nemu satu bis Tuyul, langsung naik tanpa pikir panjang. Bis Tuyul adalah bis tanpa trayek resmi, dan hanya beroperasi via pantura, sedangkan jalan menuju Tunsa adalah ke selatan.

Gpp, saya sudah minta dijemput diperempatan Wiradesa, jadi tak perlu naik angkutan umum lagi ke selatan. Tepat berkumandang adzan maghrib, diriku tiba di desa tercinta, TUNSA. Perjalanan panjangpun berakhir membahagiakan, meski sempat emosi tingkat tinggi melanda.

Itu adalah perjalanan yang tak kulupakan, tak akan kuulangi lagi. Pokoknya saya akan nyari bis PATAS Jogja – Tegal, meski bayarnya agak sedikit mahal. Seharusnya dalam benak saya paling lambat tiba di kampung jam 1 siang, ternyata salah. Yah, pengalaman ini mudah-mudahan tidak terjadi pada orang-orang yang sedang terburu-buru.

Besok, saat mudik, saya akan calling bulek di Jogja, biar bisa pulang bersama-sama.

————

Baca Juga:

39 responses to “Jogja – Pekalongan

  1. Yang penting gak sampai nginep di dalam bis aja, Bang.๐Ÿ˜€ Dan soal terboyo entah kenapa makin hari itu terminal kok kesannya makin panas aja…

  2. dan keterlambatan itu diperparah oleh kemacetan karena beberapa lokasi perbaikan jalan antara Smg – Pekl ya? nasib…nasib… yah, pengalaman adalah pelajaran yg penting, bukan?

    • iya, benar๐Ÿ˜€
      di Tirto itu ada perbaikan jembatan bikin macet. apalagi jalan di mataram dari arah semarang, isinya truk gede-gede ya bu๐Ÿ˜€

  3. Hya ampyaaaaaaaang. . .
    Melasi temen rika mas. . .:lol:

    Lain kali kalau tanya yang detail sekalian mas, udah bayar 1000 ini.๐Ÿ˜›
    Gak apa2lah, buat pengalaman saja. . .๐Ÿ™‚
    #ini Flashback ya?๐Ÿ™‚

  4. Saya pernah, Solo-Kendal, dari Solo tengah hari, sampai Kendal tengah malam.
    Padahal Bisnya tertulis Solo-Jakarta, tapi jalannya nggremet…
    Ngetam-ngetem sakpenake dewe

  5. Wah, bener2 menguras keringat ya mas perjalanannya ckckck…aku yang bacanya aja keringatan nih… *ngelap keringat*

    Mudah2an perjalanan berikutnya ke Jogja lancar jaya deh!

  6. eiiitss.. ada namaku disebut๐Ÿ˜›
    rupanya ini ta yang bikin kapok, Ri? sabar yaa..
    besok kalau ke Jogja lagi kontak-kontak tapi ya ga usah pakai mubeng minger dilema antara Ambarukmo dan Jl. Wachid Hasyim๐Ÿ˜†

    • :mrgreen: sekarang dah nggak nanya ambarukmo vs wachid hasyim lagi.. dah punya kontaknya tinggal tilpun๐Ÿ˜€
      btw, makasih ya mbak, telah menemani perjalananku

  7. Ping-balik: [Batikkan harimu] Pekalongan Kota Batik | Tunsa·

  8. Lain kali kalau dari Bali sebaiknya naik pesawat langsung Semarang.. Dari Semarang ke Pekalongan bisa via kereta atau bus..Tinggal pilih..
    Kalau pun pesawat dari Bali via Jogja, ke Pekalongannya sebaiknya naik travel langsung.. Jogja Pekalongan cuma 6 jam..
    Bahkan travelnya mau jemput ke Bandara kok..
    Ada Travel Cipaganti, Mawar, Persada, Rama Sakti, dan masih banyak lagi..

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s