Puasa Tapi Tak Sholat

“Mas, udah buka?” tanyaku pada seorang pedagang burjo. Sebut saja Pak Asan. Saya sudah lumayan lama berlangganan burjo dengannya. Hampir setiap hari diluar ramadhan saya selalu membeli burjo di sana, sehingga kami sudah saling kenal. Meski tak kenal dengan baik🙂

“Belum, Mas. Tadi sebelum maghrib sepi, tapi rame ketika maghrib tiba sehingga nggak sempet buka” jawabnya setelah melayani pembeli terakhirnya.

Saya yang saat itu sedang menikmati semangkuk burjo dan Pak Asan dengan semangkuk bubur ayamnya semakin asyik dalam perbincangan kami. Obrolan kami tak jauh dari pernak-pernik ramadhan. Tapi ada sedikit bagian yang menggugah hati saya untuk menuliskannya di sini.

“Sampean traweh dimana, Mas?” tanyanya.

Masjid Polda aja, yang paling deket, Mas” jawabku sembari melanjutkan menyendok burjo.

“Enak yo, sampean bisa sholat terus. Kalau aku paling liburnya hari pertama puasa aja” lanjutnya.

“Kalau seperti aku ini sholatnya susah, mau numpang di toko sebelah rasanya nggak enak sama yang punya” tambahnya sebelum saya sempat menjawab.

“Podo wae (sama saja), Mas. Aku milih yang paling deket aja kok. Biasanya sepuluh hari terakhir tarawihnya di masjid Ukhuwah. Lha sampean coba numpang sebelah aja nggak apa-apa. Yang punya muslim kan?” jawabku santai.

Pak Asan ini biasa kupanggil dengan ‘Mas’ juga terkadang ‘Pak’, tergantung suasana hati. Setelah lama ngobrol ternyata beliau itu puasa tapi tak mengerjakan sholat. Terutama sholat maghrib. Beliau mulai buka lapak jam setengah 6, sebelum maghrib dan biasanya tutup jam 10 malam.

Ternyata Pak Asan itu ‘tak sempat’ –naudzubillah min dzalik– sholat maghrib, hanya karena ‘malu’. Padahal toko baju didekatnya bisa dipinjam tempatnya untuk sholat sebentar, karena saya tau mereka juga muslim.

***

Mohon maaf, saya bukan mau mengolok-olok atau menghina siapapun. Hendaknya kita bisa mengambil pelajaran dari orang-orang sekitar kita. Puasa ramadhan dan sholat adalah sama-sama penting. Keduanya adalah rukun islam, yang wajib kita kerjakan jika tak ada udzur. Dan pekerjaan itu bukan suatu udzur, terlebih wirausaha. Percayalah rezeki Allah itu sudah pada tempatnya.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (Ath-Thalaaq: 2-3)

Dan saya pernah mendapati beberapa orang yang sama keadaannya dengan beliau, mereka berpuasa tapi tak mau mengerjakan sholat. Entah karena malas atau sengaja meninggalkannya. Padahal sholat itu wajib, hingga sampai nyawa sampai kerongkongan.

Orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja berarti ia telah melakukan dosa yang teramat besar. Dosanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih besar daripada dosa membunuh jiwa yang tidak halal untuk dibunuh, atau dosa mengambil harta orang lain secara batil, atau dosa zina, mencuri dan minum khamr. Meninggalkan shalat berarti menghadapkan diri kepada hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemurkaan-Nya. Ia akan dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala baik di dunia maupun di akhiratnya. (Ash-Shalatu wa Hukmu Tarikiha, Ibnul Qayyim rahimahullahu, hal. 7)

Tentang hukuman di akhirat bagi orang yang menyia-nyiakan shalat dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَر. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….” (Al-Muddatstsir: 42-43)

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian2.” (Maryam: 59)

Demikian pula hadits Buraidah ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهُ فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079 dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 574 dan juga dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib hal. 299) [Lihat Tharhut Tatsrib, 1/323]

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ الْمَكْتُوْبَةُ، فَإِنْ أَتَمَّهَا وَإِلاَّ قِيْلَ: انْظُرُوا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كاَنَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ الْفَرِيْضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ يُفْعَلُ بِسَائِرِ اْلأَعْمَالِ الْمَفْرُوْضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ

Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba nanti pada hari kiamat adalah shalat wajib. Jika ia sempurnakan shalat yang wajib tersebut maka sempurna amalannya, namun jika tidak dikatakanlah, ‘Lihatlah, apakah orang ini memiliki amalan tathawwu’ (shalat sunnah)?’ Bila ia memiliki amalan tathawwu’, disempurnakanlah shalat wajib yang dikerjakannya dengan shalat sunnahnya. Kemudian seluruh amalan yang difardhukan juga diperbuat semisal itu.” (HR. Ibnu Majah no. 1425 dan lainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Ibni Majah dan Al-Misykat no. 1330-1331)

Na’udzubillahi min dzalik (Kami berlindung dari hal yang semacam itu), semoga kita dijauhkan dari kejelekan tersebut dan semoga Allah tetap menunjukkan jalan kebenaran menuju surga-Nya. Aamiin.

Mari kita berlomba dalam kebaikan (Albiru manittaqa)

15 responses to “Puasa Tapi Tak Sholat

  1. Benar sekali mas. ..
    Puasa Ramadhan itu wajib, tapi jika meninggalkan sholat lima waktu apalah artinya puasa itu.

    Semoga Puasa Ramadhan dan Shalat kita tetap istiqomah. .. 🙂

  2. Tulisan yang menarik… mencari rezeki lebih utama dari yang diAtas… .. begitulah manusia… semoga dapat diberikan kesempatan yang lebih baik lagi…

  3. banyak juga di kampung saya yang kayak begitu, jadi puasa karena memang euforia dan suasananya mendukung pas bulan Ramadhan
    giliran sholat dianya ogah karena terlalu sering katanya

    yah, doakan saja semoga dibukakan pintu hatinya😀

  4. Dulu temenku pernah bilang, rukun itu hirarkis, mesti dilakukan dan di prioritaskan pada deretan angka paling awal baru ke belakang. Nah, kata dia juga, Shalat dalam rukun Islam itu lebih awal tingkatannya dari pada puasa. Jadi sebenarnya Shalat itu penting lagi. kalau puasa tapi ninggalin Sholat? hmmmmmmmmm

  5. Berpuasa tapi tak sholat, seperti berbaju tapi tak bercelana! Sangat disayangkan, hanya karena rasa tak enak, maka ‘seenaknya’ meninggalkan kewajiban. Semoga kita tidak demikian, dan yang pernah melakukan,semoga segera memperbaiki diri, selagi masih ada kesempatan.

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s