Belajar Menyiram Cinta

Ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala memang luar biasa. Tidak ada yang sia-sia, termasuk ditakdirkannya manusia untuk berpasang-pasangan. Ada laki-laki juga ada wanita, semuanya berpasangan saling melengkapi. Sebagaimana diciptakannya Hawa untuk menemani dan menyertai hari-hari indah nabi Adam ‘Alaihissalam di surga. Begitu pula dengan keturunan nabi Adam ‘Alaihissalam, Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupi ‘sepi’ seorang laki-laki dengan memberi istri-istri sebagai pasangan hidupnya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Ruum: 21)

Rasa cinta suami-istri adalah anugerah dari Allah yang sangat agung dan merupakan tabiat manusia. Tiada tercela mempunyai rasa cinta kepada pasangan yang sah. Diantara mereka terdapat satu-kesatuan yang saling mendukung. Karena memang wanita dan laki-laki diciptakan dari satu jiwa.

“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan Dia jadikan dari jiwa yang satu itu pasangannya agar ia merasa tenang kepadanya…” (Al-A’raf: 189)

Namun, yang demikian itu bukan berarti rasa cinta suami-istri akan abadi. Perasaan cinta kepada pasangan hidup terkadang mengalami pasang surut dalam kehidupan rumahtangga. Tinggal bagaimana kita memupuk dan menyiram cinta agar tumbuh subur dan tidak layu.

Kesuburan cinta akan tumbuh manakala cinta itu tidak melalaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab Allah tidak menyukai ada sekutu. Dan Allah telah berjanji dalam firman-Nya.

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)

Lihatlah panutan kita, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam sosok yang paling sempurna. Beliau juga mencintai istrinya Aisyah, tapi beliau tidak melalaikan Allah. Bahkan lebih beliau cintai daripada apa yang dicintainya di dunia ini.

“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “Aisyah”

Aku (‘Amr ibnul Ash) berkata: “Dari kalangan lelaki?”

“Ayahnya (Abu Bakar),” jawab beliau. (HR. Al-Bukhari no. 3662, kitab Fadha`il Ashabun Nabi n, bab Qaulin Nabi n : “Lau Kuntu Muttakhidzan Khalilan” dan Muslim no. 6127 kitab Fadha`ilush Shahabah, bab Min Fadha`il Abi Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu)

Bila mencintai kepada pasangan hidup yang sah merupakan perkara kebaikan, lalu apa yang mencegah seorang suami/ istri untuk saling mencintai, atau paling tidak belajar mencintai. Tanpa mengurangi rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Cinta, doakan aku agar bisa mencintaimu sepanjang masa dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu juga aku, akan selalu mendoakanmu dapat menerima aku sebagai cintamu.

23 responses to “Belajar Menyiram Cinta

  1. dan bagaimana pun cara kita mencintai pasangan kita, cinta kepada Allah lah yang abadi dan tak lekang masa.

    *eiits ini edisi pre-wed ya? eheemm, suiit suiit😀

  2. Saling mencintai saja karena Allah. Insya Allah itu justru akan semakin mendekatkan kita kepada yang dicintai tanpa meninggalkan kecintaan kita terhadap Allah. Karena pada hakekatnya rasa cinta itu ditanamkan ke dalam diri manusia juga olehNya.

  3. suka kata-katanya yang ini

    Cinta, doakan aku agar bisa mencintaimu sepanjang masa dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu juga aku, akan selalu mendoakanmu dapat menerima aku sebagai cintamu.

    dalem banget

  4. Judulnya apik, Ri… isinya juga tentunya…🙂
    Semoga semua cinta kita -terutama pada-NYA- selalu tersirami & terpupuk dengan baik…

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s