[FlashBack] Detik Mendebarkan

Bismillah,

Sebelum memulai lebih jauh, ini kuperlihatkan senyuman terbaikku untuk para sahabat blogger dimanapun berada 🙂 Dan tak lupa meski syawal sudah beranjak kuucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum untuk kita semua. Ini adalah postingan perdana saya dengan status baru :mrgreen:

Alhamdulillah, tak ada sesuatupun yang terjadi di alam semesta ini tanpa izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, termasuk apa yang sudah dan kini kujalani 😀

*Maaf, aku nggak menampilkan foto-foto weddingnya di sini, entar pada ngiri lagi, hihi… entar yang penasaran hubungi secara privat saja, hehe.

Hmm… Masih teringat dengan jelas masa-masa itu dalam benak. Saat-saat menegangkan dan berpengaruh besar dalam kehidupan seorang pemuda asal desa Tunsa ini. Sayangnya tak ada alat perekam perasaan, andai saja ada alat seperti itu, barangkali sudah berulang kali kuputar kejadian saat itu. Hanya dalam ingatan kusimpan kenangan manis itu.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Aku inget banget, hari ini adalah hari pernikahan temen blogger yang tinggal di Jakarta, mbak Amel. Ucapan permohonan maaf atas ketidakhadiran tak bisa kuhaturkan secara langsung baik via media sosial maupun sms (nggak punya nomor hapenya sih, hehe) Meski terlambat, sekarang saya minta maaf dan turut mendoakan pernikahan kalian, hehe.

Pagi, aktivitasku tak ada yang istimewa, hanya melihat-lihat banyak orang sekitar yang nampak sibuk di rumah. Aku tak tau, mengapa mereka begitu sibuk. Tampak wajah-wajah asing menghampiri rumah. Meskipun aku tau, mereka datang karena undangan Ibuku. Tapi untuk apa… Masih bingung. Pagi itu begitu membosankan, akhirnya kuputuskan untuk tidur-tiduran saja sambil bermain bersama keponakan.

Siang, sengatan mentari membuat udara sekitar Tunsa ikut memanas. Istirahat siang di bawah kipas lebih baik daripada melihat para tetangga bolak-balik. Sukses tanpa gangguan, aku terlelap hingga 15 menit sebelum kumandang adzan ashar. Dua jam tak terasa, hihi.

Sore, setelah sholat ashar berjamaah kesibukan mulai mereda. Namun sekarang mereka berkumpul dan mempersiapkan banyak barang-barang bawaan. Ruang tengah penuh makanan, entah mau diapakan. Beneran, mungkin otakku sedang rusak, sehingga perlu jawaban dari bulek untuk menguak apa yang sedang terjadi saat itu. Rasanya seperti dalam mimpi, mereka semua sedari pagi rela menyibukkan diri adalah karena aku. Bulek sedikit memberikan penjelasan bahwa semua barang-barang itu mau dibawa ke tempat Arina, gadis tetangga itu, hehe.

Malam minggu, kerumunan orang tak sebanyak sore tadi. Kebetulan ada beberapa teman lamaku bertandang ke rumah, aku tenggelam dalam obrolan nostalgia masa muda (berasa udah tua). Hingga larut mereka baru berpamitan. Heran, rasa kantuk tak sedikitpun mendera pada malam itu. Akhirnya kusiapkan mata menonton film aksi di tivi. Keseruan itu semakin menambah mataku tak mengantuk. Hingga jam 2 dini hari dan akupun memaksa diri untuk segera merebahkan badan karena esok adalah hari eksekusi -akad nikah- di rumah mempelai puteri.

Minggu, 26 Agustus 2012

Sholat subuh di masjid dekat rumah, hanya beberapa meter dari rumah. Tadarus setelahnya dan jarum jam pun terasa begitu cepat memutar. Mentari sudah mengintai dari ufuk. Hmm… berbeda rasa, kemarin dan hari ini. Jika kemarin otakku kosong, sekarang seolah sudah terlalu penuh. Degub jantung semakin cepat, hati terasa bergetar, atmosfer sekitar mulai berubah. Terlebih setelah mandi pagi. Air yang sudah mengering ditubuh oleh handuk terasa lebih dingin daripada air es. Sarung batik, kemeja, jas, dan sebuah kopiah hitam, seolah berat banget dipakai.

06.00 Wib

Satu persatu teman dan tetanggaku mulai hadir di rumah. Lekukan bibir membentuk senyuman tak bisa membuatku lebih rileks. Nervous tak dapat kusembunyikan dibalik senyuman. Mereka semakin menggodaku. Sembari menunggu semua undangan yang akan mengiringku tiba semua, obrolan ringan menghantarkanku jauh lebih rileks daripada sebelumnya.

06.30 Wib

Hening tiba-tiba. Seluruh tubuh kembali mendingin. Semua kawan berdiri dan keluar dari rumah satu persatu. Aku ke belakang mencari ibu untuk meminta doa restu. Cium tangan, lalu pergi dengan doa dalam hati.

Bismillah, kami semua siap berangkat ke rumah mempelai puteri.

06.45 Wib

Undangan walimatul ursy mulai tampak dihalaman rumah mempelai puteri. Tak karuan rasanya saat itu.

“Pak, aku keliatan nerves nggak?”

Pertanyaan iseng untuk sedikit menghibur diri kutujukan kepada tetangga sekaligus sepupu yang akan bertugas sebagai pembicara khutbah nikah beberapa menit lagi. Akan tetapi jawaban menyebalkan yang kudapati.

“Nggak usah nanya, udah jelas terlihat grogi di wajahmu”

Hahaha… Gimana coba.. :p

Memasuki Ruang Eksekusi

Dalam ruang tak besar itu sudah duduk beberapa orang. Para sesepuh dan kepala desa Tunsa terlihat di sana. Kutengok petugas dari KUA yang diwakili oleh perangkat desa sudah memegang satu map biru yang berisi beberapa lembar kertas.

Dag dig dug… semakin kencang. Diberikannya sebuah bolpoin oleh petugas, dan beberapa lembar kertas untuk kutandatangani.

Menghela nafas setiap beberapa detik kulakukan untuk mengurangi nerves, tentu saja sebisa mungkin agar tidak diketahui oleh tamu undangan. Malu-maluin aja kan kalau sampai ketahuan, hihi..

Dan…

Acara pun dimulai. MC berdiri dan membacakan susunan acaranya. Otak makin memanas, sementara tubuh membeku. Perkataan, suara apapun seolah tak bisa kudengar dengan jelas. Doapun terlantun dalam hati terus menerus sambil menghafalkan lafadz “Qabul” saat prosesi akad.

Sang wali nikah adalah kakak dari mempelai puteri, karena kedua orangtuanya telah meninggal sewaktu kecil. Setelah pembacaan ayat Alquran selesai, tiba-tiba otakku kembali nge-blank. Duuh, aku lupa lafadz ijab-qabulnya, sama sekali. Sementara sang kakak memulai ‘menyerahkan’ dengan membaca lafadz ijab dalam bahasa arab, aku kembali fokus. Alhamdulillah, saat itu juga aku langsung percaya diri.

Ketika berjabat tangan dengan si kakak, aku lebih pede. Dan prosesi Ijab-Qabul pun berjalan dengan lancar. Alhamdulillah…. *lega banget

Berdoa dengan perasaan lega. Lalu tanda tangan buku nikah dan tiba-tiba seorang sahabat menyeretku menuju kamar pengantin yang sudah ada my honey menunggu di sana dengan para sahabatnya. Hihihi…

Apa yang terjadi setelah itu? Tulisan mendatang insya Allah akan menggambarkan bagaimana perasaanku saat itu

45 responses to “[FlashBack] Detik Mendebarkan

  1. Sekali lagi, selamat ya Ri… maaf tak bisa hadir langsung memenuhi undanganmu, tapi doa untuk kebahagiaan kalian berdua tetap terlantun dari jauh… Semoga segera dapat momongan ya 🙂

  2. waaah…. selamat menempuh hidup baru ya mas Ari…. semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah yaaa…… langgeng hingga hingga ke anak cucu cicit dan seterusnya… 😀
    #tarik kursi, duduk di samping mba Nique, nunggu cerita selanjutnya….

  3. baru sempet mampir sini.. selamat ya mas atas pernikahannya.. selisih sehari kita cuma..
    semoga langgeng di dunia maupun akhirat dan segera dikarunia putra putri yang sholeh dan sholeha..

    makasih juga atas ucapan serta doa2nya 😀
    salam buat istri

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s