Untukmu Saudaraku

Kamu kenal aku?

Baiklah, kuperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Harun, usiaku 19 tahun.  Berarti terhitung sudah setahun lebih beberapa hari aku tak lagi berseragam putih abu-abu. Keluargaku tak kaya, juga tak miskin. Sederhana, bisa dikatakan demikian. Ayahku seorang wirausahawan, ibuku hanya mengurus rumah tangga. Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara, semuanya laki-laki.

Aku masih tinggal serumah dengan orangtuaku. Selama ini kegiatanku adalah membantu pekerjaan ayah di toko bajunya. Tak memandang status, aku tetap diperlakukan sama seperti karyawan lain. Mendapat gaji dan bekerja sesuai jam kerja. Ayah selalu mendidik kami, anak-anaknya dengan baik. Beliau seorang ayah yang sangat menyayangi kami.

Toko baju tempatku bekerja berjarak lumayan jauh dari rumah, sekitar 10 km, lima belas menit ditempuh dengan sepeda motor. Sepulang kerja, aku kembali ke rumah, tidak seperti teman-temanku yang tinggal langsung di ruko tersebut. Setiap hari aku mengikuti kajian islam di masjid, usai sholat maghrib. Berkumpul dengan teman-teman se-kajian membuat hariku indah. Aku seperti mempunyai banyak saudara seiman. Namun ada satu hal yang membuatku gelisah. Aku adalah satu-satunya peserta kajian islam yang paling muda.

Sebenarnya bukan baru beberapa hari aku bergaul dengan mereka. Kajian di masjid dekat rumahku telah kuikuti sejak kelas 2 SMA. Apa kalian tau apa yang menyebabkanku gelisah?

Menikah. Ya, aku ingin menikah. Aku telah cukup dewasa untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Bukan karena teman-temanku yang memaksa, ini keinginanku sendiri. Aku merasa imanku semakin melemah seiring bertambahnya umur. Bagaimana tidak, godaan para wanita yang membuka auratnya memang dahsyat. Aku sering lalai, setiap sudut kota pasti kutemui wanita yang mengumbar auratnya. Bahkan jalanan Surabaya kini sudah tak aman. Aku sungguh tersiksa.

Sebagian orang awam pada umumnya menganggap bahwa aku masih terlalu muda untuk melangkah. Sembilan belas adalah usia ‘anak ingusan’ yang belum tau apa-apa, aku sadar. Tapi syahwatku tak pandang usia. Keinginan menikah sungguh semakin bulat tatkala membaca sebuah hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai, para pemuda! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Mutafaq’alaih) 1

Semakin lurus niatku untuk menikah setelah membaca hadits tersebut. Tambah lagi nasihat teman-teman dekat sepengajian dan beberapa ustadz mengenai keinginanku. Ah, aku merasa seperti seorang panglima yang akan melawan musuh dengan ribuan patih melindungiku di belakang.

Namun apa daya rasa was-was dan ragu dari syaitan selalu menjadi hantu. Dengungan itu bertambah makin keras manakala melihat usiaku yang tertera pada KTP. Aku masih 19 tahun. Apa aku bisa membahagiakan seorang istri?

Astaghfirullah, aku sadar. Aku telah berbuat kesalahan. Aku telah melenceng dari tujuan. Padahal niat awalku tak serumit itu. Aku hanya ingin tenang dan mudah menundukkan pandangan. Aku ingin ada yang memotivasiku dikala malas menuntut ilmu. Itu saja.

Bismillah, usai sholat istikharah aku bertambah yakin. Rejeki itu Allah yang mengatur, hidup dan matiku hanya untuk Allah, kenapa aku harus takut tak bisa menafkahi istri kelak. Kalau begitu keimananku perlu dipertanyakan.

***

Ada kendala, tapi tak begitu besar, hanya masalah mau dan tidak mau. Kalau sekadar meminta ijin kepada orang tua, tentu saja aku mau. Rintangan kedua, aku belum menemukan siapa yang akan menjadi istriku. Menyedihkan.

Memang Allah Mahaasih, beberapa hari setelah kusampaikan niat kepada ayah dan ibu, kutemukan titik terang. Teman satu pengajian mempunyai adik yang siap menikah, kebetulan baru lulus SMA. Klop, indah serasa dunia ini. Kulihat foto calon istriku dari kakak ipar yang juga masih calon, dan aku menyetujui untuk melihatnya.

Ya, aku dan calon istri memang tak melalui proses panjang untuk saling mengenal. Berawal dari selembar foto, kemudian kutemui ia di kampung halamannya, Bima.

Ujian kedua kini menghadang. Menghadap orang tua si wanita sedikit membuatku gemetar. Aku ke sana seorang diri, karena hanya memastikan boleh atau tidak meminang sang bidadari. Anggukan calon mertua menandakan mereka juga menyetujui. Selanjutnya, kutemui gadis dalam foto itu dan akupun setuju.

Aku sangat bersyukur akan nikmat Allah ini yang memudahkan jodohku. Semua yang kukerjakan ndilalah tanpa halangan. Orang tuaku dan orang tuanya memudahkan kami untuk menikah. Mereka tau, bahwa anaknya harus dinikahkan agar bisa menundukkan pandangan. Orang tua wanita pilihanku pun tak ragu denganku untuk menghidupi anaknya. Alhamdulillah.

***

Pernikahan dilangsungkan. Beberapa hari setelah aku menemui calon istriku di kampung halamannya. Aku tak salah pilih. Ia wanita yang sholihah lagi menawan. Terlihat cantik dengan balutan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Aku tersanjung dan bahagia.

Setahun lamanya aku tinggal di Bima, membuka sebuah toko baju dengan uang tabunganku. Sementara kami tinggal di rumah mertua, sebab mereka yang menginginkannya. Rumah istriku memang tak semegah istana, tapi masih cukup untuk menampung kami berdua. Alhamdulillah, dengan ketlatenan dan keuletan aku bisa menyimpan uang untuk memperluas usaha. Hingga akhirnya kami berekspansi ke kota Surabaya, tempat tinggalku masa kecil.

***

Tujuh tahun telah berlalu, aku masih ingat akan masa-masa itu. Masa muda yang penuh asa. Masa-masa rapuhku karena selalu tergoda dengan bujukan syaitan. Benarlah hadits nabi, menikah itu dapat menundukkan pandangan. Aku bertambah yakin, bahwa yang aku jalani ini adalah kebenaran. Selama ada dalil, aku tak ragu untuk melangkah.

Rejeki semakin bertambah setelah lahir seorang putera ketiga kami. Beberapa bulan silam setelah sepulang umroh. Usahaku semakin maju beriringan dengan sedekah. Kebahagiaan ini tak lain adalah dari sang Mahacipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lika-liku bahtera sungguh banyak, tapi tak seharusnya tak kuceritakan, sebab kenikmatanNya pun juga lebih banyak.

Semoga tulisan ini menginspirasi bagi para pemuda, janganlah kalian jadikan pernikahan sebagai momok. Menikahlah jika telah siap. Yakinkan niat, bulatkan tekad. Setiap manusia tak ada yang sempurna, tak perlu ragu dan rendah diri. Segeralah berlari mendekat ridho Ilahi.

Untuk para orang tua, tak seharusnya mencegah puterinya yang sudah datang padanya seorang pria. Ketahuilah, barang siapa mempermudah suatu kebaikan, maka Allah pun akan mempermudah baginya kebaikan.

Tulisan ini kupersembahkan untukmu, saudaraku.

Surabaya, 8 Muharrom 1432 H

—————————————————————————————

True Story dengan sedikit perubahan tulisan, inti dan isinya sama.

Post @16.41 Wita | Friday, Oct 05, 2012

Footnote:
1. Kitab Bulughul Maram Bab Nikah, Hadits no 993
 
Iklan

17 responses to “Untukmu Saudaraku

  1. suka sekali dengan tulisannya nih… nikah muda atau tua sebenarnya tidak ada masalah. yang penting niatnya…. salut.. kisah nyata dirimu ya ini… 🙂

  2. Saya suka, tulisannya inspiratif terutama bagi mereka yang belum dapat jodoh. Salut dengan kedua orang tua masing2 pihak yang justru mempermudah dan menyegerakan pernikahan bagi anak2nya.

  3. Menikahlah segera, jika sudah siap, tapi janganlah tergesa-gesa, karena segera dan tergesa-gesa walau seklias sama tapi sejatinya jauh berbeda.
    Saya sendiri dulu menikah saat usia 21 tahun, dan itu bukan karena tergesa-gesa, tapi menyegerakan, agar tak terjerumus dalam fitnah yang mengatasnamakan cinta.

  4. subhanallah… kisah yang sama dengan seorang teman virtual… menikah beberapa bulan setelah lulus SMA dengan wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya, sekarang mereka sudah punya momongan.

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s