Surabaya Kelabu

Surabaya adalah kota besar kedua yang kusinggahi setelah Jakarta. Sama saja, ramai dan macet. Bedanya, aku bisa lebih cepat beradaptasi dengan bahasanya. Ya, sama-sama memakai bahasa Jawa, hanya beda penekanan.

Surabaya kelabu. Aku tau tidak semua orang menerima pendapatku, bahwa Surabaya adalah kota yang menyeramkan daripada kota-kota lain. Akupun mengerti pendapatku ini berbanding terbalik dengan para pelancong luar daerah yang sengaja berlibur ke kota pahlawan itu. Ya, ini memang pendapatku saja. Pendapat berdasarkan pengalaman pait yang kurasakan beberapa tahun silam. Masa-masa yang tak ingin kuulang, walau sehari.

Hidup sebatang kara di wilayah kekuasaan orang tanpa saudara itu sangat menyedihkan. Terlebih lagi tanpa penghasilan. Teman-teman kuanggap saudara, bapak kos kuanggap orang tua.

Tanpa penghasilan bukan karena aku tak bekerja. Aku seorang pekerja disebuah perusahaan kontraktor yang bekerjasama dengan salah satu perusahaan milik negara. Awalnya bukan di perusahaan kontraktor, aku ikut perusahaan milik negara. Tapi sama saja, keduanya diambang kebangkrutan.

Aku tinggal di kos-kosan kecil daerah Perak, Surabaya. Bapak kos begitu baik, ditambah tetangga kamar yang ramah, merekalah keluargaku. Keluarga tanpa nasab. Namun keceriaan berubah setelah bulan kedua aku bekerja. Jam kerja mulai padat, sedangkan gaji bertambah seret. Setiap hari pulang petang, saat para pekerja kantor tertidur pulas aku baru berkemas. Terkadang hari minggu aku berangkat, alih-alih mendapat uang tambahan overtime ternyata nihil.

Bulan keduapun kulalui dengan menunggak kos-kosan. Ekonomi semakin sulit, hanya mengharap gaji yang kian melilit. Ya, satu-satunya yang bisa kuharapkan adalah uang gaji. Keluargaku bukan termasuk orang kaya, mereka sudah tentu tak bisa berbuat apa-apa sedang adikku masih SMA. Tekanan yang semakin keras  membuat hidupku bertambah kacau. Menu wajibku hanya sebungkus mie instan setiap kali makan. Terkadang telur dadar untuk lauk nasi putih. Tak jarang pula hanya kerupuk dan nasi ditambah kecap sebagai penyedap.

Untungnya pak kos menyediakan peralatan masak ala kadarnya di dapur sehingga makan dua kali dengan hasil masakan sendiri menambah pengeluaran rutinku semakin irit. Bulan berikutnya akhirnya gaji turun, tapi kurang menyenangkan. Gajiku hanya dibayar beberapa ratus ribu saja. Hanya cukup untuk membayar kos serta membeli beras dan telur untuk persediaan 10 hari. Aku tak berani hutang, karena takut tak bisa melunasi. Hanya air minum belas kasihan saudaraku saja yang tak mau dibayar.

Aku seperti robot. Pulang kerja, capek, tidur, bangun, kerja lagi. Itu saja kegiatan sehari-hariku. Tak ada yang lain. Penat, tentu saja. Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi dan harus dihadapi dengan sabar.

Alhamdulillah, disela ujian besar itu aku mulai berpikir bahwa Allah semakin sayang kepadaku setelah beberapa pakaian, handphone bahkan sandalku raib entah kemana. Tiada lagi harta benda yang kumiliku saat itu. Optimisme yang tadinya menggelora, pudar begitu saja. Aku drop, tak kuasa menahan deru air mata.

Tak peduli dibilang banci, sebab tangisanku. Menghubungi orang tua dengan hape pinjaman mengubur kesedihan. Semakin tak kuasa setelah mendengar kabar adikku yang didiagnosa terkena kanker. Apa yang harus kulakukan, sedangkan ayahku baru saja berhenti berdagang akibat typus.

Ah, sungguh sempurna ujian itu. Tatapan mataku kosong, air mata terus keluar jika mengingat hari itu. Aku bersyukur dengan cobaan tersebut aku jadi selalu mengingat kebesaran Allah. Masjid menjadi tempat persinggahan favoritku. Semua yang terjadi kuserahkan pada Ilahi. Aku tak punya kekuatan apapun selain pertolongan dariNya.

sepulang bekerja, aku semakin rajin mengikuti kajian di masjid-masjid. Temanku bertambah, silaturahmi makin mudah. Aku mulai menghilangkan perasaan kesendirianku. Aku mulai bisa beradaptasi dengan teman-teman baru. Ternyata berdasarkan cerita kawan-kawanku itu ada yang lebih pait daripada aku. Ucap syukur selalu terlantun seketika, menyadari bahwa aku masih blm ada apa-apanya.

Meskipun gajiku belum turun normal, aku semakin tegar. Aku tidak sendiri dan masih banyak hal yang bisa kumanfaatkan, termasuk mencari pekerjaan sambilan. Aku sempat mempunyai keinginan mencari uang tambahan dengan bekerja sebagai Peloper Koran, tapi belum keinginan itu terwujud gajiku mulai lancar. Akhirnya keinginan itu urung kulakukan. Aku lebih suka memanfaatkan waktu dengan mengikuti kajian islam. Lebih menenangkan dan menyenangkan. Semua cobaan berangsur surut, aku pun mulai hidup normal sebagaimana pekerja lain.

***

Sebenarnya aku hanya tak mau mengungkit-ungkit sesuatu hal yang sudah terjadi, terlebih tentang hal buruk. Tapi tak ada salahnya kubagi untuk umum agar bisa dipetik manfaatnya. Setiap hal yang terjadi pasti ada hikmah dibaliknya. Maka janganlah putus asa dan jangan menyerah, teruslah berusaha apa yang kamu bisa😀 Percayalah, semua terjadi atas kehendak Allah dan akan terlaksana dengan semangat kita.

** Entahlah, ini masuk kriteria giveaway yang diadakan bunda Lahfy atau tidak. Yang jelas aku tetep mendaftarkannya:mrgreen:

Tulisan ini diikutsertakan pada Lovely Little Garden’s First Give Away

 

17 responses to “Surabaya Kelabu

  1. bagian dari pengalaman hidup yang sungguh berarti, menjadikan jalan ke depan bisa lebih teguh lagi
    benar2 moment yang berharga

    semoga sukses di GA ini ya Ri
    salam

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s